Puasanya Bapak


Catatan Eko Prasetyo
 
Gambar: Google
Sungguh orang ini baik betul. Baik perangai maupun tutur katanya. Tipikalnya suka memberikan nasihat kepada para pemuda setempat. Kebapakan. Saya tak tahu namanya. Saya mengenalnya sebagai pemilik warung kopi yang kerap saya singgahi ketika menunggu waktu menjemput istri pulang mengajar.

Kendati belum tahu namanya, kami seolah akrab sekali seperti bapak dan anak sendiri. Dari istrinya, saya tahu bahwa lelaki tua ini menderita sakit ginjal. Dalam sebulan sekali, ia dengan diantar istrinya check up rutin ke RSUD dr Soetomo, Surabaya. Jarak yang ditempuh cukup jauh, dari Sidoarjo ke Surabaya. Kendati demikian, itu tetap dijalani mengingat peralatan di RSUD dr Soetomo sudah memadai.

Pesan di Jumat Terakhir Ramadan


Catatan Eko Prasetyo


Gambar: Google
Siang di perempatan dekat pos polisi Sepanjang, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Masih pagi, sekitar pukul 06.00. Motor yang saya naiki bersama istri berhenti saat lampu merah menyala. Kami baru belanja dari Pasar Sepanjang dan bermaksud pulang ke arah Sukodono.

Saat lampu hijau menyala, bersamaan dengan itu dari arah timur sebuah bus jurusan Jogja melaju dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba sebuah motor yang dikendari seorang perempuan menyenggol badan kiri bus itu. Lajunya lumayan kencang. Alhasil, dia terpental jatuh dari motornya.

Jatah Sahur dari Office Boy

Catatan Eko Prasetyo
editor Jawa Pos

Gambar: Google
Tak bisa dimungkiri, sifat serakah sangat lekat dengan manusia. Inilah yang sering saya alami sendiri. Secara sadar atau tidak, saya kadang bersikap serakah. Misalnya, ikut berebutan hadiah makanan bersama teman-teman. Gropyokan rame-rame.

Saya kadang bisa dapat banyak makanan. Padahal, satu saja bisa bikin perut kenyang. Ah, getun dan malu rasanya.

Kali ini saya seolah mendapat peringatan dari-Nya. Sebuah pelajaran yang diberikan oleh seorang petugas kebersihan (office boy) di kantor tempat saya bekerja.

Lebaran tahun ini saya kebagian bertugas. Artinya, saya tidak bisa mudik ke Pekalongan, rumah mertua. Istri saya sudah mudik lebih awal, seminggu sebelum Lebaran, dengan menumpang kereta api. Menghindari lonjakan penumpang yang biasanya terjadi pada hari-hari mendekati Lebaran. Itu juga berarti saya sendirian di rumah.

Air Mata yang Indah


Oleh Eko Prasetyo

 
Sumber Gambar: Google
Alhamdulillah, Allah memberi saya kesempatan untuk melihat air mata yang indah, yang tidak dieksploitasi layaknya adegan-adegan sedih di tayangan televisi. Dan kesempatan itu saya dapatkan dua kali. Salah satunya terjadi pada saat Ramadan.

Sepuluh malam terakhir Ramadan, lazim kita lihat hal yang kontradiktif. Di satu sisi, sebagian orang memilih beriktikaf di rumah-rumah Allah. Sebagian yang lain justru meramaikan pusat perbelanjaan, berburu barang untuk persiapan Lebaran. Yang pasti: pada sepuluh malam terakhir, jemaah masjid, musala, ataupun surau dipastikan kian berkurang. Tidak seperti awal Ramadan. Masjid full!

Ke Baitullah Modal Doa Doang

Oleh Eko Prasetyo



”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat...”

QS Al Baqarah: 186.



***

Masjidil Haram (sumber foto: Google)
Kawan ikhwan yang satu ini begitu bahagia. Wajahnya sangat semringah. Cerah sekali. Rupanya, itu tak lepas dari keinginannya yang terkabul. Yakni, bisa berlibur ke luar negeri.

”Saya bener-bener nggak nyangka,” ujarnya. Sebab, kata dia, sebagai pegawai rendahan, dirinya tak pernah bermimpi untuk bisa pergi ke luar negeri. Suatu saat seusai salat, dia memohon kepada Allah untuk bisa pergi ke luar negeri.

Mengapa sih ngebet pengen ke luar negeri? Dia mengaku sangat ingin membuka wawasannya tentang negara lain. Dalam soal apa pun sebagai perbandingan dengan Indonesia.

Doa bapak satu anak ini benar-benar diijabah. Bagaimana bisa? Pada Maret 2011, kantor tempatnya bekerja mengadakan gathering selama empat hari. Bukan gathering biasa. Acara tersebut diadakan di dua negara sekaligus: Malaysia dan Singapura. Masing-masing dua hari di sana. Nah, kawan saya ini kebetulan turut diundang dalam acara tersebut. Senang bukan kepalang.

”Alhamdulillah, doa saya terkabul!” tulisnya dalam akun Facebook miliknya.

Akhirnya Mereka Dikaruniai Anak

Catatan Eko Prasetyo


Kejadian ini sudah berlangsung cukup lama, sekitar 2006. Sore itu saya berada di kantin dekat kantor English First (EF) di Jalan Kayoon, Surabaya. Biasanya, pada hari tertentu tiap sore, tempat tersebut selalu ramai. Penuh dengan anak-anak, remaja, ataupun mahasiswa yang hendak les bahasa Inggris di tempat itu.
Saya sendiri waktu itu sedang menunggu waktu pulang kerja. Setelah pekerjaan rampung, mampir ke kantin tersebut. Kantor saya kala itu memang berdekatan dengan kantor EF. 

Ode Siswa Miskin

Sumber foto: inilah.com


pendidikan kini tak lagi berpihak pada kami
di saat urusan perut menempati tempat teratas di kamus kami,
pendidikan justru tidak terjangkau oleh kami

bahkan, pendidikan kini belum tentu berpihak pada siswa berotak cemerlang
karena itu, kami tak berani bermimpi-
bisa mengenyam pendidikan dengan baik
ketika dana BOS saja masih disunat
ketika anggaran untuk siswa miskin tidak sepenuhnya bisa kami nikmati
ketika biaya untuk sekolah bisa terbang setinggi layang-layang

bagaimana bisa?
bagaimana mungkin?

kami tidak menyalahkan mengapa bapak ibu kami miskin
sama sekali tidak
kami tidak mengeluh meski lekat dengan:
kumuh
jorok
bau limbah
sungai kotor
rumah reyot

maka, sesak dada kami menahan sedih
ketika menatap anak-anak sebaya yang bisa mengenakan seragam sekolah
ketika pendidikan gratis hanya bisa kami baca di koran bekas yang terbuang
lantas, haruskan kami bernasib sama seperti orang tua kami
jika pendidikan gratis hanya sebatas mimpi?


Surabaya, 18 Juli 2011
Eko Prasetyo

Mengapa Mesti Bohong?

Catatan Eko Prasetyo
editor Jawa Pos

“Pangkal dari dosa adalah bohong.”
Nasihat tersebut saya kutip ulang dari sebuah akun Facebook milik teman yang menjadi pemred di sebuah media di Jawa Timur. Dia memang gemar menuliskan kalimat-kalimat bernada nasihat, pepatah, dan petuah. Bukan tanpa alasan jika saya mengutip kalimat itu. Sebab, ada pengalaman pribadi yang bersinggungan dengan petuah tersebut, termasuk kasus-kasus yang saat ini tengah hangat di masyarakat.
Pada medio 2009, saya diamanahi uang Rp 15 juta untuk salah satu kegiatan di kantor. Diberikan cash oleh bendaharanya. Jujur, saya semula ragu. Karena itu amanah dari atasan, saya menerima.

Foto Diri ketika Tidur

Catatan Eko Prasetyo

Sore itu saya capek bukan main. Bersih-bersih rumah, menata ulang barang-barang dan merapikannya kembali. Kegiatan itu saya lakukan agar rumah terasa lebih lapang dan nyaman. Pasalnya, orang tua dan mertua saya berencana datang ke rumah. Menginap.
Selepas azan asar, saya bergegas mandi, kemudian wudu untuk salat. Selesai, saya ”terkapar” di lantai kamar belakang. Ketiduran.
Di rumah saat itu, ada istri dan adik perempuan saya. Bunyi pesan singkat di ponsel tiba-tiba membangunkan saya. Dari bapak. Beliau minta dijemput.
Malamnya, keluarga besar berkumpul di kediaman saya. Ramai, tapi menyenangkan karena lama tidak bertemu orang-orang yang kami cintai tersebut.
Ketika senggang, adik saya menunjukkan foto saya yang ia jepret dengan kamera ponsel ketika saya tertidur siang sebelumnya. Nggak istimewa sih, seperti umumnya foto orang yang tidur. Pasrah.

Dahsyatnya Doa Ibu

Catatan Eko Prasetyo
editor Jawa Pos


Kejadian Pertama
Hari itu, 31 Desember 1998, tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Malam menjelang tahun baru, saya masih berada di rumah. Ibu dengan dibantu beberapa ibu-ibu tetangga sedang memasak menu untuk acara syukuran di kompleks perumahan kami. Tri, kawan sepermainan saya, memanggil-manggil saya untuk ikut keluar. Keluyuran, menikmati suasana malam menjelang tahun baru.
Sebelumnya, ibu tidak mengizinkan saya. Saya diminta di rumah dan membantu beliau. Namun, saya tidak mengindahkan. Kata bapak, waktu itu ibu sempat mengatakan, ”Awas kalau ada apa-apa nanti di jalan.” Namun, saya tidak mendengarnya. Keburu keluar bersama kawan saya.

Tragedi 29 September 1980

Oleh Eko Prasetyo

”Jimmy is 8 years old and a third-generation heroin addict, a precocious little boy with sandy hair, velvety brown eyes and needle marks freckling the baby-smooth skin of his thin brown arms.”
 (Jimmy adalah pecandu heroin generasi ketiga. Seorang anak kecil yang dewasa sebelum waktunya dengan rambut berpasir, dan bermata cokelat. Di lengannya yang masih halus seperti kulit bayi penuh dengan bekas tusukan jarum suntik).
Itulah paragraf pembuka dalam salah satu reportase di Washington Post pada 29 September 1980. Laporan tersebut ditulis oleh wartawan Janet Leslie Cooke.

Untung, Naskah Saya Ditolak

Oleh Eko Prasetyo

Ndableg. Ya, menurut saya, seorang penulis harus punya sifat dan sikap tersebut.  Namun, jangan keburu menilai ndableg dalam arti yang negatif. ndableg yang saya maksud adalah ngotot dan tidak lekas berputus asa.
Saat memutuskan untuk menulis dan mengirimkannya ke sebuah media atau penerbit, salah satu konsekuensi yang dihadapi adalah penolakan. Ini pula yang sering saya alami.
Tak kurang, beberapa penerbit terkenal menolak naskah saya. Misalnya, Bentang (Jogja), Pro-U Media (Jogja), Gema Insani Press (Jakarta), Masmedia (Sidoarjo), FLP Publishing (Jakarta), dan lain-lain. Semua e-mail penolakannya masih saya simpan dan saya print. Kendati kecewa karena naskah ditolak, saya tetap berupaya memperbaiki naskah dan mengirimkannya ke penerbit lain. Saya tidak pernah merasa gagal. Sebab, merasa gagal adalah awal dari sebuah kegagalan.  

Menularkan Baca

Setiap setelah salat Magrib, istri saya membaca Alquran. Biasanya, saya ikut mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Alquran yang dibacanya.
Suatu ketika saya bertanya kepadanya.
Kok saya ndak pernah diajak sih?” tanya saya.
”Diajak apa?” Dia balik bertanya.
”Baca Alquran,” ujar saya.
Lho, saya kan selalu mengajak?” kata dia serius.
”Kapan?” tanya saya.

Ke Gereja


”Saya telepon berkali-kali kok nggak diangkat, Mas?” tanya salah seorang teman kepada saya.
”Maaf tadi saya ke gereja,” jawab saya.
”Lho, sampeyan kan muslim?” tanya dia.
Mimik mukanya menandakan rasa tidak senang.
Saya lantas ”dikuliahi” (untuk tidak menyebut ditegur). Saya mendengarkannya sampai dia selesai berceramah.
Setelah itu, saya mengatakan dua hal yang ia abaikan.

Akhirnya Dia Dapat Mencium Hajar Aswad


Oleh Eko Prasetyo

Rumahnya hanya empat blok dari kediaman lama orang tua saya di Bekasi. Si empu rumah juga sangat akrab dengan keluarga kami, bahkan sudah seperti famili. Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dengan tempat itu. Pekarangannya dibiarkan kosong tanpa tanaman, hanya ada dua pohon berukuran sedang. Namun, dari sang pemilik rumah, saya mendapatkan motivasi yang luar biasa.

Alasan Ustazah Menghukum


Oleh Eko Prasetyo

Bocah laki-laki itu tertunduk lesu. Wajahnya muram, menahan sedih. Murid kelas 2 tersebut tak bisa menahan kekesalannya. Sesekali dia bergumam sendiri, menampakkan penyesalannya.
Dia lantas berdiri, kemudian menuju ke ustazah (sebutan ibu guru di SD Islam Terpadu). Keringat dingin berpadu dengan keberanian. Ya, bocah delapan tahun itu berusaha memberanikan diri untuk bertanya.
”Kenapa saya dihukum, Ustazah?” Pertanyaan tersebut meluncur dari bibir bocah bertubuh gemuk itu. Ia memang sedang menjalani hukuman dari sang ustazah.
Murid tersebut tidak diperbolehkan istirahat di luar kelas, seperti teman-temannya yang lain. Alhasil, dia hanya manyun di dalam kelas dan makan perbekalan yang dibawa dari rumah.
Sang ustazah tersenyum kecil. Tak tampak kegarangan seorang guru yang tengah menghukum siswanya. Diusapnya kepala sang siswa. Berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan makna di balik hukuman itu.
Mereka terlibat perbincangan yang agak serius. Mata si murid sedikit berkaca-kaca. Sedih sekali. Pasalnya, dia begitu kepengin bermain sepak bola bersama teman-temannya di luar sana. Apalagi, jam istirahat masih cukup lama, sekitar 15 menit lagi baru masuk kelas.
Sebuah buku kecil tergenggam erat di tangan sang ustazah. Di situ terdapat catatan mengenai kegiatan salat wajib lima waktu, mulai salat Subuh hingga salat Isya. 
Ada kolom yang kosong di salah satu isian salat wajib tersebut. Sang ustazah menunjukkannya kepada muridnya. Ia kembali tertunduk lesu.
”Mengapa nggak salat, Nak?” tanya ustazah, masih dengan senyumnya yang menjuntai. Tak pernah lepas dari bibirnya. 
”Ngantuk, Ust. Ketiduran,” jawab si murid polos.
Ustazah lantas mengingatkan pentingnya menjaga salat fardu (wajib). Ia juga menawarkan solusi kepada siswanya tersebut untuk saling mengingatkan dengan teman-temannya soal salat. Misalnya, itu dilakukan lewat percakapan via telepon.
Maka, jamak terjadi di lingkungan sekolah tersebut, terutama di kalangan para siswa, kegiatan mengingatkan salat wajib. Biasanya, sang murid menelepon temannya ketika memasuki waktu salat Isya. Menanyakan sudah salat atau belum.
***
Kendati kasihan kepada siswanya, ustazah tetap menjatuhkan hukuman. Yakni, tidak membolehkan si murid untuk beristirahat di luar kelas sebagaimana dilakukan teman-temannya yang lain.
Bisa saja kolom salat wajib itu diisi meski sebenarnya tidak salat alias memanipulasi. Namun, hal tersebut justru tak terjadi di kelas itu. Sang ustazah selalu mengingatkan bahwa kejujuran harus dijunjung tinggi dan ini sudah ditanamkan sejak dini, mulai murid kelas 1 di SD Islam Terpadu (SD IT) tersebut.
Selain itu, ada kegiatan lain untuk menanamkan kekompakan. Salah satunya, siswa menjalankan salat Duha setiap pagi di masjid sekolah. Setiap duhur dan asar, mereka juga salat berjamaah dengan diimami oleh salah seorang siswa.
Tak jarang, ada siswa yang tertidur ketika melakukan sujud atau duduk tahiyatul akhir ketika salat berjamaah di sekolah. Biasanya, sang ustazah langsung membenahi dan mengingatkannya. 
***
Hhm...saat ini apa saja bisa dimanipulasi dan siapa saja bisa menjadi manipulator. Urusan tipu-menipu demi kepentingan pribadi atau golongan jamak terjadi. Mafia di mana-mana. Tak terkecuali di dunia pendidikan.
Saya sadar dan yakin, tidak ada orang yang dididik untuk menjadi seorang ”Gayus.” Tak ada guru yang menanamkan sifat manipulatif. Namun, tentu saja hal seperti itu mungkin tak terelakkan. Kendati demikian, bukan berarti masalah tersebut tidak bisa dicegah.
Nah, inilah yang ditanamkan oleh sang ustazah kepada muridnya tersebut. Hukuman yang diberikan bukan bermaksud untuk mengeliminasi kebebasan. Justru di situ ditanamkan nilai sosial, kultur silaturahmi yang kini mulai luntur. Diharapkan, timbul kesadaran bahwa salat itu merupakan kebutuhan rohani yang juga penting. Dengan demikian, hal tersebut terus dijaga sampai si murid dewasa kelak. Sehingga sifat menghamba duniawi dengan menghalalkan segala cara dapat tercegah dan tergerus. Caranya melalui penanaman kejujuran. Sederhana, tapi tidak mudah.

Graha Pena, 24 November 2010

Miss Universe dan Salat Asar

 Oleh Eko Prasetyo

Miss Universe 2010 Ximene Navarrete dijadwalkan berkunjung ke Surabaya pada Jumat (15/10). Beberapa tempat dia kunjungi. Di antaranya, Pasar Atom dan Tunjungan Plaza. Dia juga direncanakan datang ke kantor saya pada sekitar pukul 14.30. Otomatis kesibukan tampak sebelum dan saat kedatangannya.

Beberapa persiapan dilakukan oleh panitia. Tampak beberapa penari cilik yang bakal menyambut kedatangan putri kecantikan sejagat itu. Di pelataran parkir, tepatnya halaman depan lobi, para penari reog dari sebuah peguyuban di Surabaya sudah menyiapkan diri. Mereka melakukan atraksi beberapa menit sebelum kedatangan Navarrete.

Terlihat pula para personel Polri yang datang mengawal. Di antara mereka, saya mengenali beberapa wajah anggota reserse yang berseragam preman. Penampilan mereka jauh dari bayangan orang terhadap sosok polisi.

Sore itu saya hendak mengabadikan kedatangan Miss Universe asal Meksiko itu. Saya sudah menyiapkan kamera. Penjagaan semakin ketat. Beberapa petugas sekuriti bahkan melarang orang yang hendak masuk ke gedung. Untung, saya sudah berada di dalam.

Saya sudah bertekad untuk bisa mengambil potret Miss Universe dengan angle yang bagus. Di sela-sela itu, azan asar memanggil. Kebetulan di sebelah kantor terdapat masjid besar. Suara sang muazin terdengar lantang dan bergema.

Dilema. Ya, saya dihadapkan pada dua hal. Di satu sisi, saya punya tugas mengambil foto Navarrete. Di sisi lain, sebuah kewajiban yang sangat penting tidak boleh ditinggalkan. Sedangkan pada saat bersamaan, Miss Universe dikabarkan segera tiba.

Saya sadar, salat bisa dilaksanakan tidak pada awal waktu. Meski, itulah waktu salat yang paling utama. Saya juga sadar bahwa kunjungan Miss Universe itu paling-paling hanya memakan waktu tak lebih dari satu jam. Waktu salat asarnya masih panjang. Saya memilih yang kedua: salat Asar dulu.

Biarlah saya kehilangan momen tersebut, yang penting tak tertinggal salat di awal waktu. Begitu pikir saya. Saya akhirnya menyelesaikan empat rakaat Asar. Whatever...

Seusai menuntaskan doa, saya beranjak untuk menggapai ”sisa” kesempatan yang ada. Ternyata, seorang kawan mengabarkan bahwa rombongan Miss Universe datang terlambat karena terjebak macet di salah satu jalan protokol. Tentu saja saya sangat gembira dengan kabar itu. Sebab, itu berarti saya masih bisa mendapatkan kesempatan untuk memotret Navarrete.

Alhamdulillah, segala puji hanya kepada Allah. Saya bisa melaksanakan salat di awal waktu sekaligus mendapatkan apa yang saya harapkan. Menunaikan tanggung jawab tanpa melalaikan tugas.


Surabaya, 15 Oktober 2010

Yakin Allah Pasti Melihatnya


Oleh Eko Prasetyo

Berkali-kali ucapan bodoh mengarah kepada saya. Sesekali ada umpatan di situ. Saya tak menggubris atau berusaha mengelak. Diam saja.

Mereka adalah teman-teman saya. Saat itu, kami berkumpul bersama di kantin. Di sela-sela itu, saya bercerita telah menemukan sebuah tas kecil pagi sebelumnya. Saya menemukannya di pelataran parkir mobil dekat kantor.

Semula, saya berpikir untuk melaporkannya ke petugas parkir. Namun, saat itu suasana sedang ramai di halaman depan gedung. Sebab, ada kegiatan pelatihan memadamkan kebakaran. Pesertanya adalah petugas sekuriti, office boy, termasuk petugas parkir. Pantas jika saat itu saya tak menjumpai seorang petugas pun di dekat area parkir mobil.

Saya bawa saja tas hitam tersebut ke kantor. Kemudian saya beranikan diri untuk membuka dan mencari tahu kartu identitas si pemilik. Tas itu berisi dompet, alat rias, dan kosmetika. Di dalam dompet, saya menemukan apa yang saya cari, yaitu kartu identitas si pemilik. Seorang perempuan keturunan Tionghoa. Terdapat beberapa kartu kredit di sana serta lembaran uang senilai total Rp 2,3 juta.

Setelah mengetahui alamat si pemilik, saya berusaha menghubunginya lewat telepon. Si pemiliknya yang menerima langsung. Dengan suara ramah, dia menanyakan keperluan dan nama saya. Saya lalu menjelaskan penemuan tas dan dompet itu. Di seberang suaranya tampak gembira. ’Ibu bisa mengambil di kantor saya,” ujar saya.

Begitu bertemu, dia mengambil tasnya dan bermaksud memberi saya uang terima kasih. Saya menolaknya. Dia memaksa dan saya tetap menolaknya. Namun, karena terus dipaksa, saya akhirnya menerimanya. Nominalnya cukup lumayan untuk ukuran karyawan rendahan seperti saya. Uang itu akhirnya saya masukkan ke kotak amal di musala kantor.  

Selesai bercerita tentang kejadian tersebut, teman-teman masih mencibir tindakan saya. Mereka menyayangkan sikap saya yang membuang peluang ”emas” itu. Ya, saya bisa saja mengambil barang berharga di dalam tas itu, lalu ngeloyor pergi dan meninggalkannya. Apalagi, si pemilik adalah warga keturunan dan tidak seiman.

Selain yakin bahwa Allah melihat kejadian pagi itu, saya berusaha memosisikan diri sebagai perempuan Tionghoa tersebut. Entah bagaimana perasaan saya jika kehilangan surat-surat berharga atau catatan utang. Apalagi, utang sampai mati pun tetap akan dicatat oleh-Nya.

Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan?” (QS Ar Rahman)

Surabaya, 13 Oktober 2010


Gola Gong


Oleh Eko Prasetyo
 
”Kalau ingin menjadi pengarang, pergilah ke tempat yang jauh atau merantaulah ke negeri orang, lalu tulislah pengalaman-pengalaman yang didapat.”
(W. Somerset Maugham)
***
Saya bersyukur punya banyak teman yang memiliki hobi unik dan menginspirasi. Seperti kawan yang satu ini. Dia seorang ilustrator di sebuah surat kabar nasional. Waktu senggang dia manfaatkan untuk membaca komik dan majalah. Koleksi komiknya bejibun, bukan main banyaknya. Mulai yang lawas hingga terbaru, mulai yang lokal hingga komik buatan luar negeri.
Dia menjuluki dirinya si pemburu. Hobinya memang berburu komik dan majalah bekas ke mana pun. Dia juga tak jarang memanfaatkan forum online untuk mendapatkan barang yang dicari.
Suatu sore, dia membawa tas cangklong hitam yang tampak penuh. Dia memperlihatkan isinya kepada saya. Yakni, bundel majalah Hai! Ada sekitar lima bundel yang dia pamerkan, semuanya terbitan lawas, 1980-an. Dia mengaku, majalah jadul tersebut lebih inspiring ketimbang yang terbitan sekarang. Saya tak menampik hal itu.
Kemudian, dia memperlihatkan buku lain yang bersampul merah dengan ilustrasi seorang pemuda. Judulnya Balada Si Roy. Tertarik, saya meminjamnya karena belum pernah membaca novel jadul seperti itu. Ternyata, kata si teman tersebut, novel itu sangat booming pada 1990-an. ”Nyaingin figur Boy (Catatan Si Boy, Red) dan Lupus,” sebutnya. Memang, saya tidak familier sebelumnya dengan Balada Si Roy ini.
Saya tak sempat membaca sampai habis, tapi dua jempol saya berikan untuk si pengarangnya. Sebab, ia memberikan pesan moral yang baik dalam buku tersebut. Berbeda dengan Boy (tokoh rekaan Zara Zetira yang awalnya dikemas di Prambors FM), Roy adalah pemuda asli kampung. Bila Boy dan Lupus mengambil setting Jakarta sebagai latar cerita, tokoh Roy dikisahkan di daerah Serang, Banten, yang identik dengan debus (RumahDunia.net). Etos kerja yang baik serta cinta kampung sangat lekat pada si Roy. Ia diceritakan doyan bersepeda onthel. Menu makan dan minumnya pun sederhana seperti nasi uduk, bandrek, dan kelapa degan. Intinya: spirit hidup dalam membangun kampung!
Ada sepuluh jilid buku Balada Si Roy (kali pertama diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama dan dicetak ulang pada 2004 oleh Beranda Hikmah). Saking bagusnya, saya penasaran dengan si pengarang tokoh fiksi Roy ini: Gola Gong.
Lewat internet, akhirnya saya dapatkan informasi bejibun tentang penulis satu ini. Gola Gong adalah nama pena Hari Hendrayana Harris. Lebih dari 25 novel telah ia hasilkan. Selain Balada Si Roy, ada Kupu-Kupu Pelangi, Kepada-Mu Aku Bersimpuh, Lewat Tengah Malam, Biarkan Aku Jadi Milikmu, dan lain-lain.
Pria kelahiran 15 Agustus 1963 itu berjanji mendedikasikan hidup untuk memberikan manfaat kepada sesama. Jalur pendidikan pun dipilih. Bersama teman-temannya di jurusan Sastra Indonesia Unpad Bandung, Gola Gong mendirikan komunitas Rumah Dunia di rumahnya, Serang, Banten. Perhatiannya dicurahkan kepada anak-anak sekitar dengan memberikan bimbingan menulis, menggambar, mendongeng, dan bermain teater. Salah satu disiplin yang ia pupuk kepada anak asuhnya adalah membaca.
Yang menginspirasi, Gola Gong adalah penyandang cacat. Sebelah tangannya buntung. Ceritanya, pada usia sepuluh tahun ia bermain bersama rekan-rekannya. Siapa yang paling hebat akan dinobatkan sebagai Jenderal Kancil. Mereka berlomba memanjat pohon, kemudian terjun bebas. Karena tidak ingin kalah, Gola Gong naik hingga di ketinggian tiga meter. Nahas, bukan kakinya yang lebih dulu mencium tanah, melainkan bahu. Akibatnya, tangan kirinya patah dan harus diamputasi.
Sang ayah selalu memberikan motivasi dan membesarkan hati Gola Gong. Sadar bahwa orang cacat sulit diterima bekerja di instasi pemerintah, Gola Gong memilih jadi penulis sebagai jalan hidup. Berbekal mesin tik (yang menurut pengakuan Gola Gong masih ada hingga kini), dia mulai menulis cerpen dan novel.
Gola Gong membuktikan bahwa cacat fisik bukan halangan dalam berkarya. Dia terus menulis, menulis, dan menulis. Hingga akhirnya dia terjun ke dalam komunitas yang peduli terhadap budaya membaca dan menulis, yakni Rumah Dunia.
Indonesia memiliki banyak penulis hebat yang berasal dari kalangan penyandang cacat fisik dan kelainan karena penyakit. Selain Gola Gong, ada Ratna Indraswari Ibrahim (penulis, novelis yang menderita radang tulang) dan Pipiet Senja (novelis yang menyandang kelainan darah).
Terhadap dedikasinya di Rumah Dunia, Gola Gong menyampaikan bahwa kunci semua itu adalah ikhlas dan semangat berbagi dengan sesama. ”Langkah itu kami mulai dari lingkungan masyarakat di sekitar rumah, bukan dari menyodorkan proposal minta dana,” tuturnya sebagaimana dikutip RumahDunia.net.
Sungguh, saya betul-betul serasa dicambuk oleh motivasi dahsyat itu. Gola Gong yang hanya punya satu tangan saja bisa berkarya dan memberikan sumbangsih berarti bagi anak negeri. Maka, tak ada alasan bagi kita yang memiliki tubuh sempurna dan sehat untuk tidak berkarya.

Surabaya, 16 September 2010




Sumber bacaan:
1.      Balada Si Roy
2.      Jawa Pos (arsip dan perpustakaan)
3.      Kompas
4.      Majalah Hai (bundel 1985–1990)
5.      Majalah Tempo

Sumber online:

The Big Issue dan Kegigihan


Oleh Eko Prasetyo


Dan kau harus mencintai Tuhan, Tuhanmu
Dengan sepenuh hatimu, dengan sepenuh jiwamu, dan
dengan semua kekuatanmu.
Dan kata-kata ini yang aku perintahkan kepadamu hari ini
Harus tetap berada dalam hatimu.
(The Last Secret of The Temple, Jejak Perebutan Tanah Suci Tiga Agama
: hal 559)

Novel karya Paul Sussman ini benar-benar membuat saya takjub. Sebagai buku fiksi sejarah, Sussman mampu menghadirkan alur cerita yang kuat dan menyentuh lewat kisah perjuangan di Timur Tengah. Hingga tak terasa, dua jam saya habiskan untuk melahap buku setebal 569 halaman tersebut.
Tak salah bila novel The Last Secret of The Temple ini menuai banyak pujian. Bahkan, James Rollins –penulis karya best seller versi New Times– mengatakan bahwa novel Paul Susman tersebut lebih hebat dibandingkan karya Dan Brown sekalipun. Pujian serupa datang dari Raymond Khoury, penulis buku The Last Templar. ”Novel yang kaya observasi,” tulis Khoury.
Independent bahkan menurunkan tajuk bahwa The Last Secret of The Temple merupakan bacaan cerdas yang menandingi Da Vinci Code. Namun, saya tidak hendak mengupas isi novel Sussman itu. Benak saya justru menaruh penasaran terhadap penulis yang satu ini. Dalam biografinya tertulis bahwa Sussman pernah bekerja sebagai penggali kuburan, tukang bangunan, dan penjaja detergen.
Ternyata, dia merupakan salah seorang pendiri The Big Issue, majalah sosial yang fokus mengentaskan tunawisma. Sussman bersama John Bird dan Gordon Roddick mendirikan majalah tersebut di London, Inggris, pada 1991. Sejak itulah, Sussman menekuni dunia kewartawanan. Dia pernah menjadi kontributor di The Daily Telegraph, The Daily Express, dan The Sunday Herarld. Kini Sussman rutin menulis di CNN.com biro Eropa.
Perhatian saya lantas tertuju pada The Big Issue. Dulu seorang teman pernah membawakannya ketika pulang bertugas dari Australia. Komentarnya pendek, ”Menarik”. Saya tak sempat melihat isinya sehingga tak bisa menerka apa yang dimaksud menarik itu.
Rasa penasaran tersebut terbayar ketika melihat liputan khusus tentang The Big Issue di London melalui sebuah stasiun televisi swasta. Mulanya, ditayangkan tentang cara penjualannya yang tak lazim. Majalah tersebut tidak diperjualbelikan di toko atau kios buku. Ia hanya dijajakan oleh orang yang berpenampilan sangat sederhana (untuk tidak menyebut di bawah standar penampilan warga setempat). Si penjaja majalah menawarkannya kepada para pejalan kaki dengan mengangkat majalah itu tinggi-tinggi. Pasif, tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut si penjual.
Dikutip dari Google, The Big Issue merupakan badan internasional yang bekerja sama dengan para tuna wisma (homeless people) di seluruh dunia. Mulai Inggris, Asia, Australia, sampai Afrika. Perusahaan tersebut juga bertujuan untuk mempromosikan dirinya bahwa sebuah usaha sosial bisa menjadi solusi bagi homelessness dan social exclusion.
Di Jepang, seorang tunawisma akan diberi sepuluh majalah Big Issue seharga 140 yen dan dijual ke pembeli 300 yen. Untungnya separo lebih. Hal serupa bisa ditemui di kota-kota di Inggris seperti London, Sunderland, dan Birmingham. Beberapa penjual majalah Big Issue (tentu saja tunawisma) yang ditemui BBC Indonesia mengaku menjual Big Issue mencegah mereka terjerumus ke masalah dan membuat tetap sibuk sepanjang hari.
Kepada pembaca, manajemen Big Issue menegaskan bahwa para penjualnya bekerja, bukan mengemis. Salah satu keuntungan bagi tunawisma penjual Big Issue adalah tak ada target penjualan. Pengelola majalah Big Issue memang menyatakan diri sebagai usaha sosial guna mendorong tunawisma yang tidur di emperan toko, taman umum, atau rumah penampungan sementara untuk bangkit kembali ke kehidupan yang layak (BBC Indonesia, 10/3/2010).
Ternyata, menulis (lebih tepatnya sarana media) bisa solusi bagi suatu masalah sosial. Paul Sussman, John Bird, dkk telah membuktikannya lewat The Big Issue. Sebuah dorongan bertahan hidup dengan cara yang lebih terhormat (ketimbang mengemis). Tertarik menulis dan membuat media seperti Big Issue di Indonesia?

Sumber bacaan:
BBC Indonesia
Google
The Big Issue
The Last Secret of The Temple

Graha Pena, 15 Agustus 2010