Dan Pelacur pun Menulis


Oleh Eko Prasetyo

Setiap kali ditanya soal pekerjaan oleh orang yang baru kenal, saya enggan berterus terang. Biasanya, saya berkelit dan mengalihkan pembicaraan. Saya malu jika sampai lawan bicara tahu bahwa saya cuma kuli serabutan. Kadang saya berdagang, tak jarang pula saya menulis demi sesuap nasi.
Menulis demi sesuap nasi? Ini bukan omong kosong. Kendati tidak mengeyam pendidikan tinggi, saya sadar bahwa menulis merupakan lahan yang potensial untuk digarap. Lebih dari itu, menulis tidak harus identik dengan pendidikan tinggi, bukan?
Sirikit Syah, pengamat media dan pendiri Media Watch, mengatakan bahwa menulis itu membebaskan. Saya setuju seratus persen dengan pendapat tersebut. Nyata-nyata saya belajar banyak dari mantan wartawan senior yang artikel-artikelnya kerap mewarnai berbagai media massa nasional tersebut.
Suatu ketika, saya berkunjung ke kediaman Sirikit di kawasan Rungkut Asri, Surabaya. Setiba di rumahnya yang sejuk, beliau menjamu dengan sangat ramah. Saya ingat betul bahwa jamuan pertama yang saya dapatkan adalah buku! Ya, saya dipersilakan membaca buku-buku yang tergeletak di atas sofa dan meja ruang tamu. Di sela-sela perbincangan, saya diperlihatkan perpustakaan pribadi Sirikit Syah. Mengesankan.
Tidak ada yang lebih berkesan dari ilmu yang saya dapatkan dalam kunjungan itu. Sirikit adalah sedikit di antara banyak orang yang mendapatkan penghasilan dari menulis. Namun, Sirikit mengaku menulis bukan untuk mencari materi. Bagi Sirikit, yang terutama adalah menulis untuk menyampaikan kebaikan. Dakwah. Ah, saya benar-benar beruntung bisa sowan ke wanita hebat itu.
Dari situ, saya berjanji untuk belajar menulis secara baik. Saya mulai mengumpulkan modal utamanya: membaca. Sebab, bagaimanapun menulis tanpa membaca dan sebaliknya akan terasa hambar. Buku apa saja saya baca. Kalaupun tidak bisa membelinya karena tongpes, saya mendatangi perpustakaan daerah di dekat kampus Stiesia Surabaya. Buku-buku sejarah di tempat kerja saya pun tak luput dari buruan saya.
Sebuah motivasi menulis saya dapatkan dari pengalaman seorang pelacur. Yakni, Carla van Raay. Wanita asal Tilburg, Belanda, tersebut menuturkan kisah hidupnya yang berliku-liku hingga terdampar sebagai wanita penghibur yang tidur dari pelukan lelaki ke lelaki lain. Hal tersebut dimulai saat dia memutuskan hijrah ke Australia. Itu terjadi setelah usia 12 tahun, sesudah dia ”dijamah” oleh ayah kandungnya.
Sebagai penganut Katolik, sejak usia 18 tahun Carla memutuskan menjadi biarawati. Hingga akhirnya, pada usia 31 tahun, dia memilih ”bebas.” Namun, kebahagiaan seolah menjauh dari Carla. Bahtera rumah tangganya dengan James, si tukang listrik, kandas. Hingga akhirnya, Carla berlabuh di sebuah rumah bordil yang berkedok agen pelayanan jasa.
Cerita-cerita yang mengharukan mengalir deras dalam buku yang berjudul Sang Pelacur Tuhan (God’s Callgirl) terbitan Voila Books (2004) itu. Pada ujung cerita, si pelacur memaafkan tindakan bejat sang ayah pada masa lalu. Ini dilakukan manakala dia ”terjebak” dalam lumpur gelap bernama prostitusi. Sikap terpuji dan terhormat tersebut diungkapkannya dengan tegas.
”Kau kini mati. Tak mengapa. Tak mengapa kau mencintai sebaik yang kau ketahui dan tak bisa memenuhi harapanku. Tak apa-apa. Kini kau adalah malaikat istimewaku. Aku haturkan terima kasihku padamu, papa tercinta” (halaman 585).
Sungguh, saya belajar banyak pada Carla, ”Sang Pelacur Tuhan”. Belajar jujur, terbuka, dan berani. Dia bangun kehormatan kembali dengan menuliskan kisahnya secara jujur dan apa adanya. Keberaniannya menuangkan setiap kisah pahit membuka hikmah bahwa setiap orang tidak boleh menyerah pada cobaan. Dan itu diungkapkannya lewat tinta pena yang terapung di atas ratusan lembar kertas yang tengah saya baca. Sebuah cermin dan motivasi.  

1 komentar:

aLamathuR d'hileudjapanist II mengatakan...

jika Anda setuju 100% dengan pendapat Sirikit Syah.. maka saya pun demikian, Setuju 110% dengan pendapat Anda yang menganggap bahwa membaca merupakan gerbang awal untuk penyempurnaan kemampuan menulis...

Sebab ketika manusia ditakdirkan untuk menjadi mahluk yang harus mencari kebenaran dengan akal dan pikirnya, maka jalan satu2nya adalah dengan membaca (iqra')... setelah membaca, maka ilmu yang didapatkannya harus diikat dengan tulisan... manfaat sederhananya bagi orang awam adalah supaya tidak lupa, dan atau agar bisa diabadikan sehingga bisa diturunkan kepada anak cucu kita kelak...