Semoga Yang Terakhir



Oleh: Eko Prasetyo

”Tak ada cinta paling indah selain doa
Tak ada yang paling rindu selain bertemu denganMu”

Dua bait di atas saya tulis beberapa saat setelah mendengar kabar jatuhnya pesawat Hercules C-130 milik TNI-AU. Hari itu juga, Kadispen TNI-AU merilis bahwa 98 orang meninggal, termasuk warga sipil, dalam musibah di Desa Ngeplak, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, tersebut. Innalillahi wainna ilaihi rajiuun.

Pada hari kecelakaan itu, saya mengikuti beritanya sambil melanjutkan pekerjaan hingga deadline tiba. Dini harinya setiba di rumah, saya masih belum bisa memejamkan mata karena menyempatkan menonton liputan khusus tentang kecelakaan itu lewat televisi.

Di lokasi musibah, terlihat beberapa rumah hancur tak berbentuk setelah diterpa jatuhnya pesawat. Kecelakaan hebat di Magetan itu adalah yang kedua sepanjang April–Mei 2009. Pada 6 April 2009, pesawat TNI-AU jenis F-27 Troopship A-2703 jatuh dan terbakar di Lanud Husein Sastranegara, Bandung. Enam awak pesawat dan 18 prajurit elite Pasukan Khas (Paskhas) TNI-AU tewas seketika. Deret pesawat milik TNI yang celaka kian bertambah panjang.

Kontan, musibah tersebut memarakkan kembali polemik tentang anggaran militer di negeri ini. Sebagian menuding bahwa pemerintah selalu berdalih pesawat yang kecelakaan masih layak terbang meski usia pesawat tergolong uzur. Sebagian lainnya meminta pemerintah seharusnya lebih memperhatikan alat utama sistem pertahanan (alutsista) ketimbang menyoal minimnya anggaran militer. Apa pun itu, faktanya, satu per satu prajurit TNI berguguran, bukan di medan perang, tetapi tewas karena kecelakaan pesawat.

***
Apabila Allah sudah berkendak, maka terjadilah apa yang Dia kehendaki. Kun fayakun. Kedatangan musibah sudah tentu tidak diinginkan oleh setiap orang. Namun, jika itu sudah menjadi ketetapan-Nya, tentunya seorang hamba tidak bisa mengelak. Meski demikian, selalu ada hikmah dalam setiap musibah.

Pernah, saya berniat pulang ke Bekasi dengan menumpang pesawat ke Bandara Soekarno-Hatta. Saya memilih perjalanan udara karena alasan waktu. Apalagi, pekerjaan di kantor tak memungkinkan saya untuk mengambil libur lebih lama. Saat itu ada delay sehingga saya mesti menunggu agak lama jam keberangkatan. Cuaca saat itu tak dapat dipercaya. Sebentar panas, kemudian mendadak turun hujan rintik lalu lebat.

Sekian lama menunggu tak jua ada kabar pesawat segera diberangkatkan. Hati saya waswas. Meski bukan kali pertama naik montor mabur (kendaraan terbang), saat itu timbul ketidaktenangan. Entahlah.

Masih terngiang di telinga ini tentang musibah yang menimpa Adam Air pada awal Januari 2007.Pesawat komersial tersebut ditengarai meledak di udara sebelum serpihannya banyak ditemukan di perairan Majene, Sulawesi.

Untuk membunuh rasa waswas dan takut itu, mulut ini tak berhenti membaca doa. Di tengah cuaca yang saat itu kurang bersahabat, saya hanya berharap diberi keselamatan sampai di tujuan. Kekhawatiran memunculkan rasa takut mati. Karena itu, saya berupaya menenangkan diri dan berdoa seolah itu doa terakhir, berharap melakukan ibadah terbaik jikalau umur saya hanya sampai di situ.

Alhamdulillah, saya sampai di tempat tujuan dengan selamat meski diselimuti rasa waswas saat keberangkatan. Dapat bersilaturahmi dengan kedua orang tua menjadi kebahagiaan luar biasa setelah sekian lama saya merantau di Surabaya.

***
Allah membuktikan kebesaranNya. Dan selalu begitu. Dalam musibah hebat di Magetan itu, di antara puluhan mayat korban kecelakaan, 15 penumpang termasuk balita ditemukan selamat di antara serpihan bangkai pesawat yang terbelah dan terbakar itu. Allahu akbar.

Balita bernama Angga itu dirawat intensif di RSUD dr Soedono Madiun bersama kakaknya, Anggun, yang juga selamat dari musibah tersebut. Keduanya menderita cedera otak berat. Namun, ibu mereka, Lemi Muhanda, meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan.

Celaka dan musibah kerap menimpa pesawat-pesawat militer kita. Dan kita selalu berharap itu menjadi yang terakhir. Semoga tragedi tersebut memang benar-benar yang terakhir dan pemerintah tak lagi menunggu hingga upacara khidmat kesekian untuk menyambut jenazah para prajuritnya yang gugur karena kecelakaan.


*Lewat tulisan ini, saya turut berduka cita mendalam kepada para keluarga korban. Innalillahi wa innailaihi rajiuun.

Surabaya, pengujung Mei 2009
(dimuat eramuslim, 27 Mei 2009)

Hujan di Pengujung April

Oleh: Eko Prasetyo

Musim ini berbulir basah karena hujan acapkali menyapa, baik secara rutin maupun tiba-tiba. Pengujung April ini menyisakan kisah sederhana yang tak mungkin bisa saya abaikan begitu saja. Sebab, di situ mungkin masih ada cinta.
***
April 2009 ini berita-berita tentang isu dan perkembangan politik dan rekapitulasi hasil pemilu legislatif menjadi menu yang hampir tak pernah absen tersaji di media massa, media online, maupun media elektronik. Bosan dan menjenuhkan!

Pada suatu kesempatan, kebetulan saya mengedit berita kriminal untuk diterbitkan keesokan harinya. Seorang perempuan muda nyaris dimassa karena ketahuan menjambret handphone milik seorang perempuan di kawasan Jembatan Merah, Surabaya. Mulanya, seorang saksi menyebut bahwa perempuan pejambret tadi tampak seperti orang kebingungan yang berjalan di jembatan yang menjadi salah satu saksi bisu perjuangan heroik arek-arek Suroboyo di masa revolusi fisik dahulu.

Melihat ada calon mangsa yang rupanya sedang menunggu angkot, pejambret tadi berpura-pura menanyakan jam. Tergiur dengan handphone yang dipegang korban, si jambret nekat merebut paksa handphone berkamera tersebut.

Kontan, korban berteriak menunjuk perempuan muda yang kebingungan tadi. Tak butuh waktu lama, massa berdatangan, mengejar, dan membekuk tukang jambret itu. Beruntung, ada petugas yang segera mengamankan tersangka dari amuk massa.

Kepada polisi, tersangka mengaku baru kali pertama menjambret. Dia beralasan butuh uang karena terdesak kebutuhan ekonomi. Tentu saja, aparat tak lantas percaya begitu saja terhadap pengakuan tersebut. Dia terancam dibui selama beberapa bulan, bahkan tahun, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
***
Sekilas berita kriminal di atas ringan dan sudah biasa kita baca di surat kabar atau kita tonton di televisi. Sama biasanya dengan penjahat kelas teri berisiko tewas dihajar massa bila tertangkap, sedangkan maling berdasi hanya berisiko mengenyam bui selama beberapa tahun. Tidak sebanding memang, tapi itulah wajah penegakan hukum di negeri ini.

Warga bisa menjadi hakim yang dapat menjatuhkan vonis kematian bagi maling ayam atau pencopet. Bagi para penjahat dari kaum kelas bawah, tak ada alasan pembenar. Mereka dianggap sampah yang mesti dibersihkan, bahkan dimusnahkan kalau perlu.

Seorang wanita yang terpaksa mencuri dua dus susu di sebuah toko swalayan dengan alasan demi balitanya bisa terancam dianiaya dan disel bila tertangkap. Perbuatannya memang termasuk salah karena mengambil barang yang bukan haknya. Namun, pernahkah kita tebersit untuk menelusuri aspek sosial lebih dalam yang menyebabkan wanita itu mencuri?

Banyak faktor memang. Salah satunya kemiskinan. Impitan ekonomi kadang bisa membuat orang gelap mata. Tak tahan anaknya tak minum susu, lahirlah pikiran untuk mencuri. Sekali berhasil, akan ketagihan mencuri lagi. Penjara mungkin tak mampu membuat jera. Tapi, pantaskah kita menjadi hakim bagi mereka, maling yang terpaksa mencuri demi bayinya?

Seorang koruptor yang tertangkap karena terbukti menggelapkan uang negara bisa dengan mudah menghirup udara bebas dan melepas senyum dengan jaminan sejumlah uang. Apa yang tidak mungkin di negeri ini? Hukum saja bisa dibeli.

***
Saya tak hendak membela penjahat kelas teri seperti kasus wanita tadi. Dia memang bersalah dan pantas dihukum. Namun, jangan karena cuma menjambret handphone atau mencuri dua dus susu, kita lantas bisa menghakimi dan menghajarnya beramai-ramai.

Wanita maling susu tersebut bisa saja merupakan pahlawan bagi balitanya. Karena susu tak terbeli, penghasilan suami tak mencukupi, dan dihantui gizi buruk, maka mencuri seolah menjadi solusi terakhir.

Kesenjangan sosial di masyarakat kita memang amat kentara. Kemiskinan dan kebodohan menjadi musuh besar negeri yang sebenarnya kaya sumber daya alam ini. Kemiskinan dan kebodohan menjadi awal lahirnya kejahatan atau tindakan kriminal.

Sayang, justru koruptorlah yang tumbuh subur dan kian merajalela. Kekayaan dan potensi sumber daya alam dikeruk habis-habisan tanpa bisa dinikmati hasilnya oleh rakyat. Akibatnya, jurang antara si miskin dan si kaya kian melebar.

***
Di pengujung April ini, saya sempat mengeluhkan hujan yang tak datang di saat saya harus beraktivitas di tengah terik, di saat saya membutuhkannya. Ketika bibir ini terasa kering dan keringat mengakrabi wajah, hujan bisa menjadi pahlawan.

Namun, hujan mungkin tak datang karena malu disebut pahlawan meski belum saatnya datang kemarau. Sebab, ia mungkin merasa ada orang lain yang pantas disebut pahlawan seperti wanita yang mencuri susu tadi. Bagi orang lain, dia musuh. Tapi, bagi bayinya, dia adalah pahlawan. Sebab, dia masih punya cinta. Ya, dalam kesalahannya, masih ada cinta.

Jikalau Tuhan saja mengasihi hamba-Nya tanpa terkecuali, maka tak ada alasan bagi kita untuk berbuat zalim terhadap sesama. Apalagi bila itu dilakukan dengan tidak melihat dulu alasan dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Cukuplah Allah sebagai hakim paling adil, janganlah kita bersikap untuk menandinginya.

Surabaya, 27 April 2009
(dimuat eramuslim.com, 28/4/09)

Finally... Oase Iman Eramuslim Terbit!



Setelah sukses dengan buku Oase Iman yang pertama pada 2006 bertajuk Oase Jiwa, Eramuslim kembali menerbitkan kumpulan tulisan terbaik dari rubrik Oase Iman yang pernah dimuat selama kurun 2007-2008. Judulnya Menembus Batas Logika. Ada 32 naskah di situ.

Dengan desain sampul (hard cover) yang menarik, buku setebal 250 halaman ini bisa menjadi sahabat tanpa suara yang hendak berbagi banyak kisah yang menggugah.

Tulisan-tulisan yang termaktub dalam buku itu memang disampaikan dalam bahasa yang sederhana. Namun, ada pesan moral yang tentu saja mengajak pembaca untuk merenung betapa kecilnya kita di hadapan Allah SWT.

Ternyata, sebuah kejadian kecil dan kadang tak pernah kita bayangkan bisa disampaikan dalam bahasa tutur yang enak dibaca. Yang lebih penting, terselip pesan dakwah yang dibagikan dalam sekelumit kisah unik dalam buku ini. Penasaran?

Jawa Pos, 16 Maret 2009
Eko Prasetyo (peminat buku dan sastra)

Guru Pak Jenderal



Oleh: Eko Prasetyo

Pada 1973, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerima penghargaan Adhimakayasa dan Trisakti Wiratama, puncak tertinggi prestasi lulusan terbaik Akademi TNI (waktu itu Akabri). Rekor SBY yang mengumpulkan tujuh bintang jasa selama pendidikan (1970-1973) tersebut belum tertandingi oleh taruna Akabri mana pun.

Yang menarik, rekor itu dipecahkan setelah 35 tahun, tepatnya pada 2008. Lebih menarik, si penyama rekor tersebut adalah anak seorang guru SD. Dia adalah Taufik Arifiyanto. Sudah menjadi rahasia umum bahwa para lulusan terbaik Akabri adalah calon penyandang pangkat jenderal. Contohnya, selain SBY, ada Jenderal Agustadi (KSAD), Jenderal Sutanto (mantan Kapolri), dan lain-lain.

Seperti dilaporkan Jawa Pos (18/12/08), Haryanto, 45, ayah Taufik, tak bisa menyembunyikan perasaan bangganya saat menghadiri wisuda perwira remaja di Lapangan Sapta Marga, Akmil Magelang. Hal yang wajar karena penghasilan sebagai guru SD tentu tak mencukupi untuk memenuhi biaya pendidikan tiga anaknya, termasuk si sulung Taufik.

Ya, Haryanto mengaku harus gali lubang tutup lubang demi membiayai pendidikan anak-anaknya. Dengan dibantu istrinya yang berdagang kain di pasar, Haryanto menuturkan terpaksa berutang untuk menambal kebutuhan keluarga. Melihat Taufik disemati bintang penghargaan militer oleh presiden, Haryanto mengatakan perjuangannya demi anaknya tidak sia-sia.

Ada sebuah kisah tentang seorang guru SD. Beliau dikenal sabar dan mudah dalam memberikan materi di kelas sehingga gampang dipahami siswa. Tak heran jika dia menjadi salah seorang guru favorit di kelas, bahkan sekolah. Di antara sekian muridnya, sekian puluh tahun kemudian, ada yang berhasil merintis karir di dunia militer. Sang murid telah memangku jabatan mentereng, jenderal pula!

Si murid itu suatu ketika mengundang guru tersebut untuk datang pada sebuah perjamuan dalam reuni sekolah. Mengenang masa-masa sekolah tempo dulu memang indah. Apalagi, keberhasilan seorang murid di kelak kemudian hari dalam merintis masa depannya tak lepas dari peran guru.

Sang guru datang tak lagi gagah seperti saat masih aktif mengajar puluhan tahun lampau. Dia menyapa para murid-muridnya itu, termasuk si jenderal, hanya dengan senyum kecil. Suaranya sudah parau, senja pun jelas menapak di wajah sang guru. Meski demikian, guru tersebut masih ingat betul wajah-wajah yang menyambutnya, murid-muridnya.

Tiba saat si jenderal menyambut guru tersebut, dia mengatakan, "Saya dulu murid Bapak yang pernah Bapak jewer hingga telinga saya merah."

Entah apa maksud si jenderal dengan kalimat tersebut. Namun, sejurus kemudian, sang guru buka suara.

"Kamu (si jenderal) dulu nakal sekali, sangat nakal. Kamu juga malas sekali, sangat malas. Bahkan, guru-guru lain pun mengeluhkanmu. Tiada yang mau memperingatkanmu lantaran tahu peringatan mereka tak bakal kau gubris," tutur sang guru.

Suasana yang semula semarak ikut hening mendengarkan ucapan si guru.

"Akhirnya, saya berpikir bahwa saya harus bersikap tegas, apa pun risikonya. Demi membuatmu bisa menghargai orang lain serta meninggalkan sifat nakal dan malasmu, Bapak terpaksa menjewermu, mengancammu untuk membuka buku keesokan harinya dan memintamu mengerjakan PR-PR-mu," lanjutnya.

"Berhari-hari, berminggu-minggu, sekian lamanya kelembutanku dan guru lain tak kau gubris, maka jeweran itu kuharap sekali bisa menyadarkanmu, betapa aku sangat menyayangi murid-muridku, termasuk kamu," ucapnya.

"Jikalau jeweran itu tidak pernah ada, kau mungkin tidak berdiri di hadapanku sekarang ini dengan seragam berpangkat bintang kebanggaanmu, kau mungkin masih malas. Dan mungkin serta segala kemungkinan lainnya bisa terjadi. Kini kau sudah jadi jenderal, sedangkan aku tetap guru yang kini berkarat. Aku tak memintamu mengingatku. Aku sudah cukup bahagia dengan menjadi guru Pak Jenderal," ujarnya.

Kisah itu saya tulis dalam sebuah cerita pendek sekian waktu silam. Terlepas itu berdasar kisah nyata atau bukan, tulisan tersebut ikut meminta saya merenung, yakni apakah selama ini saya sudah menghargai jasa guru-guru saya.

Kadang, tanpa kita sadari, kita kerap marah dan sakit hati apabila mengingat kita pernah dihukum oleh guru. Tak jarang pula muncul sumpah serapah untuk mereka, para guru, saat hukuman menyapa.

Kini di sela-sela kesibukan di dunia media, saya menyambut baik adanya Klub Guru. Bersama Klub Guru, saya bertekad memberikan sesuatu untuk para guru demi mengembangkan kemajuan pendidikan di Indonesia, tentunya dalam kapasitas saya sebagai jurnalis.

Berubah ke arah yang lebih baik dan perubahan tidak harus menjadi jenderal. Tapi, keteladanan guru Pak Jenderal tadi menginspirasi saya untuk memberi wujud nyata memajukan pendidikan kita yang terkadang masih tampak muram ini.

Castralokananta, 16 Februari 2009

Ada, tapi seperti Tak Ada

Oleh: Eko Prasetyo

Jangan adamu seperti tidak adamu. Kalimat bijak tersebut kerap terngiang di telinga saya manakala saya sedang diliputi rasa capai dan lelah ketika bekerja. Mengapa? Sebab, kalimat itu selalu saya ingat agar saya tidak melulu mengeluh karena padatnya aktivitas.

Kiranya, tidak berlebihan bila saya menyebutnya demikian. Pasalnya, ritme kerja jurnalis atau editor amat berbeda dengan orang kantoran pada umumnya. Kami ibarat kelelawar karena bekerja atau mencari makan pada malam hari. Ketika banyak orang sudah terlelap tidur dan terbuai mimpi, kami harus merampungkan menu berita untuk disajikan kepada masyarakat.

Belum lagi perjuangan para reporter di lapangan. Mereka tak jarang pagi-pagi sekali harus berada di lapangan untuk meliput berita, sorenya kembali ke markas berita untuk setor berita. Kadang, mereka harus berhadapan dengan sulitnya menghubungi narasumber atau menuruti perintah para redaktur. Bahkan, ada rekan wartawan yang mengeluh karena beritanya tidak dimuat, padahal dia merasa setengah mati berjuang untuk menemui narasumber dan menulis beritanya.

Lelah seusai bekerja itu pasti. Namun, bekerja dengan mengandalkan pikiran amat melelahkan ketimbang bekerja dengan hanya mengedepankan kekuatan atau tenaga. Seringkali setelah pikiran begitu terkuras, stres siap menyapa.

Karena itu, saya selalu berusaha untuk mencintai betul-betul profesi yang saya tekuni saat ini. Saya ingin mencapai tahap bekerja seperti rekreasi. Saya berupaya mencintai sepenuh hati, tanpa terbatas apa pun dan syarat apa pun. Cinta tanpa syarat untuk sebuah profesi.

Detik pada saat saya menulis catatan pendek ini, saya sedang sakit. Tubuh saya demam, mual, dan sempat muntah darah. Mudah-mudahan saya tak terkena demam berdarah atau gejala tifus.

Bulan-bulan ini saya rasakan sangat berat. Saya kurang istirahat, apalagi saat ini saya terjun di program Untukmu Guruku 2009 Jawa Pos. Namun, saya baru sadar bahwa saya lalai karena tak mengindahkan kesehatan diri sendiri.

Sering, saya ditelepon pagi-pagi sekali oleh para guru yang ingin bertanya meski sebenarnya saya masih istirahat. Namun, saya tetap setia dan ramah melayani mereka. Bisa dibayangkan, kadang, pagi saya sudah harus berada di kantor untuk membantu program tersebut. Malamnya, saya harus bekerja di redaksi. Pernah, suatu ketika saya menerima SMS dari beberapa guru yang marah karena saya tidak mengangkat telepon dan membalas pesan singkatnya. Saya tak menjelaskan bahwa saat itu saya tengah ketiduran sehingga tidak tahu ada telepon masuk. Saya benar-benar kelelahan berat kala itu. Saya meminta maaf kepada beliau dan segera menjawab pertanyaannya tanpa mencari alasan pembenar.

Semoga laptop ini masih kukuh menjadi media penyambung lidah saya kepada beberapa guru yang tak sempat saya balas teleponnya. Saya sekarang jatuh sakit dan detik-detik
berlalu begitu cepat.

Wajah dan jari-jari ini ikut pucat. Saya benar-benar melalaikan mereka, anggota tubuh saya. Maka, kini saya hanya pasrah apabila sakit menyapa.

Namun, satu-satunya yang tetap saya pegang teguh adalah kalimat "Jangan adamu seperti tidak adamu". Saya yakin, saya jatuh sakit bukan karena saya kebanyakan duduk berleha-leha tanpa bekerja. Saya tak mau menjadi orang yang hanya duduk di meja kerja sambil bermain komputer dan tak ada produktivitas. Sungguh tak nyaman rasanya jika waktu terbuang sia-sia karena tidak bekerja. Sama sia-sianya membuat Surabaya menjadi merah jambu demi menyambut ritual Valentine. Celaka!

Castralokananta, 14 Feb 2009

Poem for Palestine



Oleh: Eko Prasetyo

”Mas, Anda kan jurnalis, apa pendapat Anda tentang agresi Israel saat ini di Palestina?” tanya seorang ibu lewat sebuah e-mail singkatnya. Beliau baru saja membaca salah satu tulisan saya di rubrik oase iman eramuslim. Beliau bertanya demikian dan saya menilainya sebagai sebuah sindiran, yakni mengapa saya tidak mengambil tulisan bertema Palestina di awal tahun yang basah ini.

”Maaf Bu, saya bukan jurnalis,” jawab saya, mengawali kalimat balasan untuk beliau.

Pukul delapan malam, suasana di redaksi kami masih hiruk-pikuk dengan aktivitas kerja untuk mempersiapkan berita yang bakal terbit keesokan harinya. Namun, kondisi itu tiada sebanding dengan hiruk-pikuknya suara deru bom dan mortir yang berdentuman di Jalur Gaza, Palestina. Mencekam.

”Saya speechless, kehilangan kata-kata,” lanjut saya.
Saya menambahkan, saya terus mengikuti berita-berita seputar perang antara Israel dan pihak Hamas dari Palestina di Gaza saat ini.

Ya, dari beberapa mailing list (milis) yang saya ikuti, saya mendapati beberapa orang yang mem-forward foto-foto kekejaman Israel. Mereka membunuhi warga sipil Palestina. Memburu sasaran perempuan dan anak-anak tak berdosa dengan dalih mengejar tentara Hamas.

Bahwa Israel biadab dan tak punya nurani, sejarah telah mencatatnya, bahkan sejak zaman nabi-nabi. Tak ada yang memungkiri, kecuali simpatisan mereka sendiri.

”Bu, jika saya jurnalis, mungkin saya akan dikeluarkan,” sambung saya.
Mengapa? Sebab, seorang pewarta harus memperhatikan sebuah peristiwa dari dua sisi, bahkan banyak sisi (cover both side). Tujuannya, agar berita tersebut berimbang dan tak menimbulkan polemik atau terkesan memihak ke salah satu pihak tertentu.

”Dan saya yakin tak akan mampu melakukannya saat ini,” tutur saya.

Saya punya alasan tersendiri mengatakan hal tersebut. Mungkin di seberang sana, ibu itu bertanya-tanya di balik lontaran paparan pena maya saya tersebut.

Ya, apabila saat ini saya berposisi sebagai jurnalis, saya yakin akan dipecat. Pasalnya, kala itu saya akan membuat opini yang membela Palestina habis-habisan dan menghujat Israel, juga habis-habisan. Tak akan ada rambu cover both side yang saya pegang ketika itu. Sebab, saya tak tahan melihat darah warga sipil Palestina membanjiri bumi mereka sendiri akibat kekejaman Israel.

Menjelang pukul satu pagi, lewat waktu deadline dan hawa dingin yang menghinggapi, saya tak mendapati lagi kabar balasan dari ibu tersebut. Saya mengajak serta jari-jari lemah ini untuk menulis sebuah sajak. Bukan saya tujukan untuk tersaji di forum penyair, melainkan puisi itu adalah pertautan panjang bagi saudara kami di sana: Palestina.

Poem for Palestine

Tuhan, aku masih punya mata
Kau saksinya
sehingga bisa kusaksikan derai pilu dari bibir bocah kecil yang kehilangan ibunya
di sana
: Palestina

Tuhan, aku masih punya telinga
Kau saksinya
sehingga dapat kudengar teriak histeris seorang ibu yang bayinya tewas tanpa kepala
di sana
: Palestina

Tuhan, aku masih punya hati
Kau saksinya
sehingga kubiarkan jiwa dan nurani ini luruh melihat wajah-wajah ketakutan
antara perempuan dan anak-anak yang menyebut-nyebut nama-Mu
di sana
: Palestina

andai padang gurun bergemuruh terhapus badai debu,
sesak dadaku menghirup terik yang membanjiri tubuh, tak mengapa
namun kupinta lenyapkan cinta ini dengan cinta
agar bisa kubeli dedaunan segar dari pelepah pohon palma
biar kutulis ayat-ayat cinta-Mu di atas lembarannya
kuusap di wajahku
dari cahaya wajah-Mu yang memenuhi segenap penjuru arsy-Mu
meregang doa-doa yang membekap dua lautan
lantas, jawablah dengan cinta
sewujud kemenangan atau entah apa namanya
untuk saudara kami
di sana
:Palestina

Graha Pena, 15 Januari 2009
Publikasi: Eramuslim (16 Januari 2009)

Berartinya Terima Kasih



Oleh: Eko Prasetyo

Saat membaca dan menyunting salah satu berita kriminal, saya tertegun. Ada seorang istri yang tega membunuh suaminya hanya karena sang suami punya wanita idaman lain (WIL).

Jelang tutup tahun 2008, di Jakarta ada berita serupa, namun lebih mengerikan. Seorang wanita memutilasi suaminya menjadi 13 potongan. Diduga, wanita muda itu memutilasi suaminya karena motif dendam. Wanita tersebut gelap mata karena sang suami kawin lagi meski sudah memiliki tiga istri. Mayat si suami dipotong-potong lalu dimasukkan ke tas kresek. Ironisnya, tas kresek berisi 13 potongan tubuh manusia itu diserakkan di bus Mayasari Bakti. Kontan, peristiwa tersebut sempat menggegerkan Jakarta dan nasional.

Sebegitu beringaskah seorang perempuan jika telanjur memendam kekesalan tak terperi terhadap lelaki yang -mungkin- sebenarnya dicintainya?

Tiap orang tentu tak ingin dikhianati, apalagi disakiti. Karena itu, ketika tahu cintanya dikhianati, seseorang bisa mengakhiri drama hidup ke bunuh diri. Saat sadar dirinya telah dibohongi, seseorang pun dapat berubah menjadi serigala buas yang beringas. Tak kenal kasihan, apalagi jika setan sukses membisikkan bujuk rayu busuknya di hati orang yang merasa teraniaya atau tersakiti.

Mata hati dua perempuan yang saya di atas telah tertutup. Sehingga, keduanya tiba-tiba memiliki keberanian dan kenekatan untuk menghabisi nyawa suami masing-masing. Mungkin, wanita tersebut adalah sedikit di antara banyak orang yang mengalami masalah serupa. Yakni, mereka tak ingin dikhianati oleh sang suami.

Kendati ada pula wanita yang mau dimadu, bahkan rela dipoligami, namun angka yang tak setuju dengan hal itu sangat jomplang dibandingkan jumlah wanita yang ridha suaminya menikah lagi. Memang, masalah hati siapa yang tahu meski lidah berkata setuju?

Meski ada perempuan yang nyata-nyata mau diduakan, ditigakan, dst oleh suaminya, tapi benarkah hati kecilnya membiarkan perhatian dan kasih sayang sang suami terpecah? Antara lisan dan hati terkadang sulit diterka meski di luar menampakkan kekompakan.

***

Jika langit sore sedang memperlihatkan wajah cerah kemerahan, seperti itulah rona nenek saya ketika mendapati dua buah daster baru di atas meja dekat kamar saya. Beliau begitu semringah menerimanya. Saya memang sengaja membelikan dua daster tersebut untuk beliau. Tidak ada maksud apa-apa, tidak pula ada perayaan hari istimewa saat itu. Itu saya lakukan karena saya memang ingin menyenangkan hati beliau.

Beliau tertawa kecil, menampakkan deret gigi yang tak selengkap dulu. Bahagia. Bertahun-tahun saya tinggal bersama nenek, tapi rasa perhatiannya terhadap saya masih sama dengan saat saya kuliah dulu. Tak berkurang sedikit pun! Satu hal yang beliau selalu ingatkan kepada saya, yakni jangan sampai lupa mengucapkan terima kasih kepada orang lain yang telah menolong kita. Dan itu saya camkan betul hingga sekarang.

Dulu, saat belum bergelut dengan stroke, nenek tak jarang menghadirkan menu lezat di atas meja makan untuk saya dan kakek di rumah. Beliau pun sering mengingatkan waktu salat kepada saya. Saya pun membalasnya dengan siap sedia mengantarkan beliau ke gereja pada misa kebaktian tiap Minggu. Perbedaan tak jadi alasan kuat untuk mengindahkan rasa toleransi dan menghargai. Kasih sayang beliau mengalir begitu saja bagai sungai merindu samudera. Romansa.

Pernah, suatu ketika nenek menyeduh kopi untuk saya. Sore sebelum berangkat ke Graha Pena, saya menyeruput kopi tersebut. Namun, kali itu rasanya berbeda dibandingkan hari biasanya. Rasanya tak manis, pahit. Rupanya, nenek lupa menambahkan gula di gelas kopi tadi.

Meski demikian, saya menyembunyikan raut menahan rasa pahit kopi itu.

"Jangan lupa habiskan dulu kopimu sebelum berangkat," seru nenek kepada saya.

"Suwun Mbah," jawab saya sambil berusaha menguatkan lidah ini untuk mengucap kata nikmat meski rasa kopi itu amat getir.

Di kesempatan lain, nenek memasak sup buat kami. Kebetulan, ketika itu saya berkesempatan makan bersama setelah sekian lama jarang makan di rumah. Namun, saat menyantap sup tersebut, untuk kali kedua saya mendapati rasanya ambar, tak seperti dulu. Saya baru mafhum bahwa nenek jarang menaburkan garam pada masakan-masakannya setelah divonis memiliki hipertensi.

"Wuik, sueger Mbah," seru saya, menyembunyikan raut muka menahan rasa ambar sup tersebut.

Kalimat pujian tersebut saya lontarkan untuk mengganti ucapan terima kasih. Tak dinyana, selepas mengucapkan "terima kasih" hari itu, esoknya muncul menu perkedel, telur dadar, dan sambal kecap tersaji. Lebih variatif dan rasanya agak "lebih baik".

***

Memang, ucapan terima kasih -dalam bentuk apa pun- kadang mampu membuat seseorang lebih bersemangat. Sayang, kini sekadar terima kasih saja masih sulit dilontarkan sepenuh hati.

Tak sedikit laki-laki yang alpa mengucapkan terima kasih kepada istrinya. Meski hanya berupa sajian seduhan kopi atau teh tiap pagi, seharusnya para istri tersebut amat pantas menerima kata-kata itu, bukan malah perlakuan yang menyakiti atau bahkan menduakannya dengan perempuan lain.

Mungkin, dua wanita yang membunuh suami mereka hanya gara-gara tak terima jadi korban selingkuh atau poligami tak biasa menerima ucapan terima kasih dari sang suami. Bisa pula itu disebabkan hal lain. Meski demikian, jika ditinjau lebih dalam, pengorbanan wanita jauh lebih tinggi ketimbang lelaki. Pasalnya, kaum Hawa harus merasakan bertaruh dengan maut takkala melahirkan putranya, hal yang tak dirasakan oleh kaum Adam.

Karena itu, sungguh pantas wanita mendapatkan haknya yang bisa membuatnya lebih bergairah, berbahagia, dan bersemangat, yaitu ucapan terima kasih. Mudah dituturkan di lidah, tapi acapkali sukar terlontar karena lupa atau sengaja menilainya tak perlu.

Pagi dini hari di kantor, udara mulai menguap. Surabaya basah karena sepanjang sore tadi gerimis tak henti mengakrabi. Sejuk. Tiap malam, saya menerima pesan pendek di ponsel dari pujaan hati. Perempuan cantik tersebut sekadar mengucapkan terima kasih karena saya sering membangunkannya di malam hari untuk bertahajud. Ucapan tersebut terbukti membuat saya kian bersemangat untuk selalu rajin mengirimkan pesan serupa, mengingatkan salat malam. Rindu berpadu bukan karena kami berdua tak berada di kota yang sama, melainkan sang waktu turut bersuka di saat kami saling berkirim pesan zikir untuk Sang Kekasih yang Maha Penyayang. Jika waktu saja berterima kasih lewat zikir siang hingga malam, pantaskah kita mengabaikannya meski itu sebatas ucapan lirih?


Eko Prasetyo
(ran, ketjup mesra di keningmu)

Publikasi: Eramuslim (14 Januari 2009)

Jadi Guru Bergaji Rp 0

Oleh: Eko Prasetyo

Bagaimana rasanya menjadi guru dengan bayaran Rp 0?

Diam-diam, saya tertarik untuk menyaru menjadi guru. Meski tidak duduk di instansi pendidikan resmi, saya benar-benar terjun langsung memberikan materi kepada beberapa "murid" saya.

Bermodal komputer jinjing berukuran mini, saya memulai mencari "customer" yang tidak lain adalah famili sendiri. Karena masih tinggal bersama kakek, saya mengenalkan ilmu komputer kepada beliau.

Dimulai dari pengenalan tentang peranti lunak dan keras, saya mengarahkannya untuk belajar mengetik di atas kotak kecil bernama laptop tersebut. Melihat antusiasmenya untuk belajar, saya merasa senang dan bersemangat untuk menularkan ilmu.

Kebetulan, kakek masih aktif di kegiatan gereja seperti ikut koor lansia di paroki setempat. Jadi, tiap ada undangan atau menulis surat untuk kolega di Nederland, saya membimbing beliau untuk membuatnya sendiri. Ketika ada salah ketik atau bingung memencet tombol di keyboard, beliau melepas tawa berderai. "Hahaha... Wis sepuh dadi tangane timik-timik," ujarnya.

Berawal dari situ, kakek mulai mempromosikan saya ke tetangga sebelah yang memiliki anak usia pelajar SD dan SMP. "Iku loh, nek sinau komputer karo Eko ae," ucapnya penuh semangat.

Uniknya, bukan anaknya yang tertarik, justru orang tua mereka yang ingin belajar kepada saya. "Wis piro Mas bayarane, sing penting aku isok laptopan. Mosok kalah karo Tukul," tutur salah seorang di antaranya.

Kegiatan padat di kantor tak mengurangi semangat saya untuk menularkan sedikit pengetahuan tersebut kepada "murid-murid" saya tersebut. Pernah, suatu ketika komputer jinjing saya rewel karena masalah teknis. Tampak sekali di wajah kakek dan beberapa tetangga yang mengangsu ilmu memendam kekecewaan. Saya bisa memahaminya. Semangat yang luar biasa.

Saat saya sebutkan bahwa di antara mereka telah mengalami peningkatan, wajah mereka terlihat semringah. Bangga. Ada pula yang bermaksud "menitipkan" anak mereka kepada saya untuk diajari komputer. "Iki gawe bensin sampeyan Mas," ujar seorang bapak sambil memasukkan amplop kecil ke saku baju saya.

Kontan, saya menolaknya. "Kalau ada beginian (uang, Red), saya nggak mau ngajari putra Bapak," tegas saya.

Hari demi hari berlalu. Saya bahagia bisa memperkenalkan teknologi dan membuka jendela di lingkungan tempat saya tinggal sekarang.

Kini, saya kembali bertugas di program Untukmu Guruku 2009 Jawa Pos. Tentu saja, kegiatan itu banyak menyita perhatian, tenaga, dan waktu. Saya jarang bisa berkumpul dengan para "murid" saya tersebut. Rindu rasanya.

Melihat wajah mereka begitu senang, mendengar tawa mereka ketika keliru mengoperasikan komputer, itu menjadi bayaran yang sungguh tinggi bagi saya.

Siang mulai dekat. Sore hendak merapat. Tanah di bumi ini masih datar, tapi semangat saya bagai gelombang. Rp 0 memang tak bisa membeli sebuah ilmu. Namun, bukankah ilmu memang berasal dari sebuah rasa ingin tahu? Ia nol. Kini saya mendapat bayaran yang lebih tinggi daripada sekadar lembaran kertas rupiah. Anda tentu sudah tahu...

Graha Pena, 5 Januari 2009
Publikasi: eramuslim 7 Januari 2009

Tak Sekadar Pesta Bakar Sate



Oleh: Eko Prasetyo

Di beberapa sudut Kota Surabaya, jika Idul Adha atau Idul Kurban tiba, banyak warga yang berbondong-bondong antre di beberapa tempat tertentu untuk mendapatkan daging kurban. Tahun lalu, saya merekam beberapa kejadian pada hari raya yang mulia tersebut.

Kebetulan saya tinggal di kawasan Surabaya Pusat. Seusai salat Id, seperti Idul Kurban pada tahun-tahun sebelumnya, ada beberapa perkantoran yang menyediakan hewan kurban untuk dibagikan kepada para warga duafa. Meski demikian, kenyataan di lapangan adalah tidak sedikit warga yang sebenarnya mampu juga ikut antre untuk mendapatkan sekitar seperempat atau setengah kilo daging sapi atau kambing. Sebelumnya, mereka terlebih dulu mendapatkan kupon untuk bisa mendapatkan daging tersebut.

Biasanya, baru selepas waktu zuhur, daging itu diberikan setelah melalui beberapa proses. Cuaca yang kadang terik tak menyurutkan semangat para warga yang kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak itu untuk antre berdesak-desakkan.

Tak jarang, di antara mereka terlibat adu mulut karena merasa diserobot. Padahal, Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Laa yu’minu ahadukum hattaa yuhibba li akhiihi maa yuhibbu linafsihi.” (Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sebelum dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri).

Sebagaimana potret keseharian masyarakat kita saat ini, ada yang lebih memilih berkelahi demi masalah yang sepele. Kadang, ada orang yang tak rela memberikan tempat duduknya di bus untuk seseorang yang tua. Cuek is the best seolah menjadi slogan yang manjur sebagai pembenar tak kala seseorang dihadapkan pada keikhlasan.

Maka, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menyimak kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, yang menjadi awal diturunkannya perintah untuk kurban. Sudah sepatutnya kita merenungkan kembali keagungan dari pengorbanan luar biasa dua nabi tersebut sambil membandingkan kesiapan berkorban diri sendiri.

Bagi kebanyakan orang, kehilangan anak menjadi sebuah musibah besar, apalagi jika harus menghilangkan nyawa anak. Nah, hikmah dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah keikhlasan berkorban demi kekasih yang maha agung, Allah.

Wujud sebuah ketulusan luar biasa ditunjukkan pula oleh Nabi Ismail. Keduanya membuktikan cinta paling mulia dan pengorbanan yang amat agung. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Nabi Ibrahim ketika diperintahkan untuk mengorbankan putra tercintanya, Nabi Ismail. Demikian pula sang anak dan belahan jiwa (soulmate), rela menyerahkan nyawa sendiri demi Allah yang maha besar. Subhanallah.

Sesungguhnya, salatku, ibadahku, hidupku, matiku, semata-mata milik Allah Tuhan sekalian alam. Tak ada seorang pun yang ikut bersama-Nya memiliki. Untuk itulah aku diperintahkan dan aku adalah orang pertama yang menerima, yang pasrah, yang Islam!

Cinta dan keikhlasan Nabi Ibrahim serta Nabi Ismail dicatat sebagai sejarah emas yang membingkai betapa indahnya sebuah ketulusan. Cinta itu hadir bersatu dalam keimanan, bukan sekadar pemanis bibir atau omong kosong. Aplikasi cinta yang agung tersebut kian tergerus seiring dengan majunya teknologi seperti saat ini.

Karena itu, Idul Kurban membawa kesejukan bagi tiap orang yang mau mengimplementasikannya, tak sekadar mengetahui.

Jamak diketahui, jika mampu, orang lebih suka berkurban dengan membeli kambing yang murah ataupun kurus. Bila salat Jumat, orang membuka dompet untuk mencari nominal terkecil. Memang, itu bisa disebut beramal, tapi bagaimana dengan konteks keikhlasannya? Dalam kondisi seperti itu, berkorban terasa amat berat. Sungguh, ikhlas memang sulit diaplikasikan bila kita masih menyandarkan diri pada hukum untung rugi dan timbal balik.

Apabila tiba hari raya Idul Kurban, banyak orang yang bersyukur. Sebagian besar bersuka cita menyambutnya karena bisa antre daging untuk disate. Di sudut kampung-kampung, di halaman belakang rumah, di pasar, kepulan asap panggangan sate mengepul. ”Bisa bikin sate kayak gini kan cuma setahun sekali,” begitu alasan yang kerap kita dengar.

Angin musim ini kadang cukup kencang berembus karena hujan kerap menyapa. Telah habis gelas ketiga, saya habiskan air putih. Mata ini sudah terasa lelah ketika jam sudah menunjukkan hampir pukul satu dini hari. Mungkin aroma sate bisa membangkitkan kembali lelah itu. Tapi, kali ini saya tak berniat untuk membakar sate sendiri, apalagi jika harus antre berdesakan demi setengah kilo daging kurban. Sebab, ada orang lain yang lebih berhak mendapatkannya. Lagi pula, perut ini tak meronta meminta aroma sate itu segera meski pesta bakar sate tersebut hampir tiba.

Castralokananta, dini hari 5 Desember 2008

Publikasi: eramuslim.com (10 Desember 2008)

Romantisme Jurnalis



Oleh: Eko Prasetyo

"Jika seseorang berteman dengan tukang minyak wangi, dia akan tertular wanginya."

Di zaman yang serbamahal dan labilnya situasi ekonomi seperti sekarang, masyarakat kita belum beranjak aspek dari kemiskinan dan pengangguran. Tak jarang, banyak orang yang putus asa, bahkan ada yang sampai bunuh diri karena tak tahan menanggung beban ekonomi. Yang ironis, gaya hidup hedonis dan konsumtif masih melekat di masyarakat. Katanya, hidup harus hemat, tapi malah belanja barang yang tak urgen dibeli. Katanya, hidup jangan berfoya-foya, tapi justru doyan ke diskotek. Masya Allah. Masyarakat kita tengah menghadapi sindrom putus asa.

Salah seorang rekan wartawan, sebut saja Aga, pernah menuliskan kegelisahannya saat kali pertama bekerja sebagai jurnalis. Kebetulan, kami satu almamater di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya.

Dia mengisahkan betapa tidak mudahnya menjadi seorang jurnalis. Kebanggaan berkalung kartu pers merupakan bagian dari romantisme wartawan. "Namun, kenyataan memang terkadang tak seindah harapan," ulasnya.

Saya tak berhenti menyimak detail kisah yang dia paparkan sambil menikmati malam dan berteman secangkir kopi. Penampilan pemuda asal Lamongan itu memang terkesan biasa saja, tak ada yang istimewa. Namun, di balik itu dia menyimpan banyak amunisi potensi. Tak salah bila beberapa rekan wartawan seangkatannya menjuluki dia "Pak Lurah".

"Dunia wartawan seringkali menguji mental para pekerjanya. Belum lagi tekanan atas-bawah yang saling menimpali," paparnya. Jelas, lanjut dia, dunia wartawan tak seromantis bayangan para mantan aktivis kampus seperti dirinya. Misalnya, membawa kamera atau menyodorkan perekam dan pertanyaan kritis kepada narasumber.

Suatu ketika, saya pernah mendapati Aga bermuram durja. Entah apakah dia tengah bingung menentukan tulisan untuk esok harinya ataukah justru berkontemplasi mencari inspirasi. Barangkali, dua dugaan saya itu keliru.

Saat produktivitas kian menurun, malam bisa menjelma malaikat maut yang membuat seorang jurnalis menjadi gelisah luar biasa. Saat itu tekanan terasa amat berat. benar-benar malam yang jahanam. Wartawan yang tak kuat "iman" bisa saja langsung ngacir tanpa say good bye.

Dalam hening, saya tak menangkap suara derik jengkerik di kejauhan. Namun, desau napas malam yang resah seolah menyiratkan kegelisahan Aga. Saya berusaha peka dengan menjabat logika dan menalar dengan akal sehat.

Namun, jauhnya bintang di malam kelam tetap saja bisa dilihat. Ya, saya mulai merasakan bahwa bintang-gemintang mulai bersinar terang tak kala Aga
dapat menguasai dirinya untuk berani menyambut segala tantangan di depannya. Itu tampak dari ide-ide dan ulasannya ketika menyusun sebuah feature atau tulisan boks di surat kabar tempat kami berpayung. Runut, kohern, dan mengalir apa adanya.

Kini rekan reporter seangkatan Aga hanya tinggal beberapa orang, mungkin karena mereka sadar bahwa dekat api itu panas. Mungkin juga itu disebabkan mereka enggan naik ke atas sebuah pohon karena tahu bahwa semakin tinggi pohon kian kencang angin menerpa.

Seperti halnya saya belajar di kampus kehidupan dari seorang kuli pasar atau kuli bangunan, saya mencerna banyak asupan menu berbeda dari para kuli tinta. Dunia mereka adalah dunia realita penuh tantangan yang menguji mental dan adrenalin.
”Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ”Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan secara sempurna dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ” (Al-Baqarah: 155-157).

Aga, seorang sahabat dan adik bagi saya, ibarat penjual minyak wangi di mata saya. Keteguhan dan semangatnya dalam menghadapi tantangan tak ubahnya telah mencipratkan harumnya wewangian parfum tersebut lewat sikap pantang berputus asa. Meski sedikit, satu tetes sekalipun, aromanya tetap akan tercium.


Graha Pena, dini hari 4 Desember 2008
Eko Prasetyo
(kutelan keresahan, kureguk kegelisahan pada hening malam di sujud terakhir: rindu)

Publikasi: eramuslim.com (5 Desember 2008)

Guru Sampah

Oleh: Eko Prasetyo

"Anda Eko Prasetyo dari Resists Book itu?" Pertanyaan ini sering masuk di e-mail saya.
"Bukan. Hanya kebetulan nama kami sama," jawab saya singkat.
"Tapi, saya sering membaca tulisan Anda di eramuslim dan beberapa situs lain," ucapnya.
"Itu hanya kebetulan, Pak," ujar saya meyakinkan.

Salah seorang di antara sekian penanya tersebut adalah seorang guru. Tak butuh waktu lama, kami lantas akrab meski hanya bertukar kabar lewat e-mail. Beliau menanyakan apakah saya menulis buku seperti halnya Eko Prasetyo dari Resist Book itu. Saya menjawab iya.
"Hanya kami berbeda mahzab meski sama-sama aktif di kegiatan kependidikan," jawab saya.

Guru tersebut kemudian memaparkan pengalamannya sebagai guru honorer di Kabupaten Madiun. Usianya sekitar 35 tahun, jauh di atas saya.

"Jika tak sedang mengajar, saya memungut sampah plastik bekas air mineral, Mas," tuturnya.
Saya terdiam sejenak, lalu melanjutkan membaca kisahnya tersebut.
"Lumayan hasilnya bisa buat nambah beli keperluan rumah," lanjut dia.

Bukan kali ini saja saya dicurhati oleh orang lain. Namun, saya justru kian tertarik menyimak pengalaman beliau yang luar biasa tersebut.

Dia menceritakan bahwa niatnya untuk menjadi guru tetap masih tinggi meski dirinya nyaris putus asa dengan keadaan yang sekarang.

Sebagai guru tidak tetap di sebuah SD, beliau menerima upah tak sampai Rp 500 ribu. "Justru hasil dari menjual sampah plastik lebih besar dari itu," ucapnya dengan nada berbesar hati.

Dia mengisahkan, hasil dari memulung plastik air mineral kadang berpihak pada nasib dirinya ketimbang pemerintah yang belum mengoptimalkan kuota tenaga honorer dalam pengangkatan guru PNS di daerah setempat. Betapapun, keluarganya merasa tertolong karena dapur mereka bisa tetap mengepul berkat hasil memulung sampah plastik.

"Yah, ibaratnya saya ini bisa disebut guru sampah," ucapnya setengah berkelakar.

Mungkin, perkataan jujur yang terlontar dari beliau adalah upaya menghibur diri sejenak di tengah impitan kesulitan ekonomi yang memang dirasakan oleh banyak guru senasib.

Kami tetap intens berkomunikasi meski hanya bersua lewat dunia maya. Saya pun mengajak beliau untuk ikut serta dalam Klub Guru Indonesia untuk berbagai pengalaman luar biasanya.

A good teacher mixes with people of noble character. He strives for people's benefits and seeks to protect them from harm.
Kiranya, saya menaruh respek yang tinggi atas perjuangan seorang guru. Dia harus menunaikan tanggung jawabnya yang mulia untuk kelangsungan pendidikan para muridnya. Guru tersebut mengajarkan kepada saya banyak hal, termasuk menghadapi tantangan hidup dan bertahan hidup.

Persoalan perut kadang dapat membuat orang bisa melakukan apa saja, tak peduli bahwa dia adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Cuaca Surabaya di antara kering dan basah, tapi tak sebasah hujan menabur kasih di tengah riamnya krisis moral di negeri ini. Semoga Allah selalu memudahkan hamba-hamba-Nya yang mau berusaha dan bekerja keras, amiin Ya Mujibasailin.


Castralokananta, 29 November 2008
Publikasi: eramuslim.com (1 Desember 2008)

Warung Kehidupan sebagai Pendidikan Antikorupsi

oleh: Eko Prasetyo

Kejujuran kini ibarat barang langka. Terbukti, krisis finansial global sama sekali tidak membuat para "pembohong" panik. Orang mudah memanipulasi apa saja, di mana saja, serta kapan saja, tanpa tersekat ruang dan waktu. Bohong dapat dilakukan oleh siapa pun. Bisa guru yang berbohong kepada kepala sekolah, murid kepada gurunya, bawahan kepada atasan, ataupun pejabat kepada rakyat.

Meski demikian, bukan berarti tidak ada orang yang setia bersahabat dengan kejujuran. Alhamdulillah, "kesetiaan" itu kini diwujudkan pada menjamurnya kantin kejujuran di beberapa sekolah, termasuk sekolah di Surabaya. Paling tidak, pendidikan antikorupsi dapat diperkenalkan sekaligus diaplikasikan sejak dini kepada para siswa.

Tak bisa dimungkiri, menghapus korupsi (hasil ketidakjujuran) sama sekali adalah hal yang musykil dilakukan sampai hari kiamat tiba sekalipun. Namun, setidaknya, menahan nafsu ingin memiliki dapat menjadi penetrasi di tengah tinggi budaya konsumtif masyarakat saat ini. Angka si miskin dan si kaya di Indonesia begitu njomplang. Yang kaya raya kadang alpa mengeluarkan sedekah dan zakatnya. Sedangkan yang miskin kadang mudah putus asa, hanya berpangku iba, tanpa mau berusaha.

Karena itu, warung kejujuran paling tidak bisa menjadi media pembelajaran yang baik untuk mengasah rasa tanggung jawab dan memupuk kepekaan sosial siswa. Siswa dapat membeli barang kebutuhannya di warung kejujuran secara swadaya. Artinya, mereka menjadi pelayan bagi diri mereka ketika membeli atau mengambil uang kembalian. Jika nanti ada kekurangan dari hasil jualan, hal itu dapat segera diketahui lewat neraca keuangan yang dikelola pihak sekolah. Sungguh, elemen sekolah sejatinya telah menerapkan model manajemen terapan berupa disiplin. Ini sangat penting!

Sebenarnya berkata atau berbuat jujur itu mudah, tapi juga tak gampang. Lho kok bisa? Ya, coba saja Anda terapkan pada orang-orang terdekat di sekitar Anda. Misalnya, seorang istri bertanya kepada suaminya ketika baru memakai baju baru.
"Bagus nggak, Pak? Ibu cantik nggak kalau pakai baju yang ini?"
Pasti, 99 persen bakal menjawab, "Iya," Padahal, bisa jadi sang istri tidak terlalu cantik atau bajunya mungkin kurang bagus menurut penilaian si suami.

Berkata jujur sesuai hati nurani di saat seperti itu mungkin sulit dilakukan.
Tentunya banyak alasan yang mendasarinya. Di antaranya, mencoba menghargai perasaan seseorang meski kita tak sejalan atau tak suka dengan sesuatu yang dia pakai.
Berbohong untuk kebaikan memang diperbolehkan. Tapi, berkata jujur akan lebih terhormat. Meski, terkadang jujur itu terasa menyakitkan.
Tanpa disadari, kita kadang suka memuji orang lain setinggi langit, tapi tak bisa menghargai diri sendiri. Kadang, kita doyan mencibir kekurangan orang lain, tapi sesungguhnya kita pun gemar menertawakan kelemahan diri sendiri.

Karena itu, bentuk aplikasi pendidikan antikorupsi lewat warung kejujuran patut diapresiasi dan dikembangkan melalui inovasi-inovasi lain. Tiada lain, itu bertujuan mengembangkan jiwa sosial dan rasa tanggung jawab dalam menjaga amanah.

Akhirnya, kita perlu merenungkan kembali sabda Rasululah SAW bahwa salah satu ciri orang munafik adalah berdusta. Maka, sudah seharusnya kita membiasakan diri berbuat dan berkata jujur dalam segala hal. Sebab, semua akan kita pertanggungjawabkan di mahkamah akhirat nanti. Wallahu ’alam.

Dipublikasi: Eramuslim, 25 November 2008

Membaca Adalah Kebutuhan, Bukan Selingan

Oleh: Eko Prasetyo

”Buku adalah teman bicara yang tidak mendahuluimu. Ia teman bicara yang tidak memanggilmu ketika kamu bekerja. Ia teman bicara yang tidak memaksamu berdandan ketika menghadapinya. Ia teman hidup yang tidak menyanjungmu. Ia kawan yang tidak membosankan. Ia adalah penasihat yang tidak mencari-cari kesalahan.” (Ahmad bin Ismail)
Kiranya, tak ada sedikit pun yang bisa saya sangkal dari goresan mutiara di atas. Nyatanya, buku memang sumber ilmu, guru yang tak akan pernah berharap pamrih.

Dulu, saya pernah ditanyai oleh salah seorang redaktur, “Sudah berapa buku yang Anda baca hari ini?” Pertanyaan tersebut saya tafsirkan sebagai suatu perintah agar saya tidak meremehkan salah satu aktivitas ringan tapi penting, yakni membaca.

Memang, saya tak pernah merasa rugi ketika beradaptasi dengan lingkungan membaca. Yang lebih penting, saat kita malu atau enggan bertanya tentang sesuatu yang kita tidak tahu kepada seseorang, kita bisa mendapatkan jawabannya lewat membaca buku.

Di saat banyak orang sibuk ngerumpi sana-sini, bergosip ini-itu, membahas kapan gaji naik atau kapan tunjangan cair, membicarakan keburukan atau kekurangan orang lain, serta menggunjing hal-hal tak terpuji, kegiatan membaca menjadi suatu hiburan lain yang mampu menetralkan suasana. Membaca apa pun, mulai kitab suci, buku, koran, hingga majalah. Membaca adalah media komunikasi antara kita dan diri kita. Jika perut lapar, kita penuhi keinginannya dengan asupan makanan. Kalau tubuh lelah, kita penuhi ia dengan mengistiratkannya. Namun, bila hati kita beku, membaca adalah salah satu solusi untuk menetralkan. “Bacalah dengan nama Tuhanmu. Bacalah dengan nama yang menciptakanmu.” (QS: Al-Alaq, 1-2).

Alkisah, ada seorang tukang becak. Dia tak bisa baca tulis alias buta huruf. Puluhan tahun dia menghidupi istri dan anak-anaknya dari hasil mengayuh becak. Meski demikian, salah seorang putranya ternyata mampu melanjutkan pendidikan tinggi setelah diterima di Akademi Militer di Magelang. Yang membanggakan, sang putra berhasil menyabet bintang Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik di kawah candradimuka para calon perwira itu.

Saat ditanya dari mana dia membiayai anaknya tersebut? “Bagaimana mungkin saya punya uang untuk menyekolahkannya? Wong saat anak saya masuk SMP saya bingung cari uang,” paparnya.

“Saya cuma berdoa memohon sama Gusti Allah agar kami sekeluarga diberi kemudahan dan ridha. Cuma itu thok karena saya nggak bisa doa panjang-panjang,” lanjutnya. Subhanallah. Saya tak melihat batas yang terbuka lebar antara doa dan membaca. Sebab, dalam doa terkandung permohonan yang diucapkan secara sungguh-sungguh.

Tukang becak itu mampu menerjemahkan bacaan tanpa teori meski dia tak mengenal aksara dengan doa. Dia percaya dengan kekuatan doa, kekuatan yang mengantarkan anaknya menjadi perwira muda. Meski bertahun-tahun hidup miskin dari hasil mengayuh becak, tak terhitung berapa kilometer yang dia kayuh, si tukang becak tersebut tak pernah lupa dengan sang Pencipta. Tiada lain, dia memfasilitasi kekurangannya dengan giat bekerja dan berdoa.

Bisa dibayangkan bagaimana raut tukang becak itu ketika melihat putranya dikalungi penghargaan tertinggi di Akademi Militer. Namun, dia ternyata tak berubah, tetap sama, masih bersahaja.

Suatu malam, ibu menelepon saya. Beliau menanyakan kabar saya karena lama tak bersua. Sembari menyelesaikan pekerjaan, saya berbincang ringan dengan beliau. Di akhir perbincangan kami, ibu sempat mengingatkan saya untuk selalu menjaga shalat. Tak lupa beliau minta dibelikan buku masakan. Saya langsung menyanggupinya. Sebuah permintaan yang wajar. Sebab, beliau sehari-hari berjualan kue dan makanan yang dititipkan di warung-warung dan kantin sekolah. Di usia setengah abad, tubuh ibu kian kurus karena menderita diabetes. Meski demikian, semangat beliau dalam bekerja membantu keuangan keluarga kian menumpukkan rasa hormat saya. Lima buku masakan sekaligus saya paketkan ke rumah untuk ibu. Jika ibu saja masih mau membaca, tak ada alasan bagi saya untuk malas membaca.

Pernah sang pujaan hati merenggut memendam kekecewaan yang dalam. Ternyata, dia kecewa karena saya hanya memberi dia kado buku di hari ulang tahunnya yang ke-26. Rasa kecewa itu dia wujudkan dengan tidak membalas SMS saya.
Tak kurang akal, saya mengirimkan pesan pendek ke ponselnya dan menulis beberapa kalimat maaf untuk dia. ”When you feel alone, just look at the spaces between your fingers. Remember that in those spaces you can see my fingers locked with yours forever. I miss you bad, sweetheart. -Maafin saya.” Beberapa saat kemudian, ponsel saya berdering ada SMS masuk. Pesan itu berbunyi, “Met kerja Mas. Pulang kerja ati-ati ya.”
Nah, membaca yang begituan itu membuat semangat kerja jadi berlipat. Seperti menimba air untuk mandi dan mencuci, membaca menjadi suatu kebutuhan, bukan lagi selingan.

Graha Pena, 21 Nov 2008
Eko Prasetyo
(asmara, ku pijak bara nafsu, ku regut aroma anyelir dari keringatmu, memelas mengajakku: bercinta)

Dipublikasikan: Eramuslim, 23 Nov 2008

Tetes Air Mata di Sela Hafalan

Oleh: Eko Prasetyo

Sudah beberapa hari belakangan, saya menghafalkan surat Al-Mulk dan masih belum hafal juga. Sehabis deadline, saya coba untuk mengulang lagi dan terus mengulang. Ternyata, belajar memang butuh semangat. Lima menit menghafal, lima menit membaca terjemahannya. Isi surat Al-Mulk memang begitu dalam karena mengingatkan akan kebesaran Allah dan azab-Nya yang pedih.

Selepas malam itu, gemuruh hujan yang membasahi Surabaya tampak di balik kaca
kantor. Suasana tersebut membuat saya enggan untuk segera pulang meski jam kerja sudah lewat. Dingin dan hening. Dari balik kaca lantai empat kantor, sejenak saya menatap hujan di luar sana. Tampak dari kejauhan kubah dan menara Masjid Al-Akbar di arah selatan yang hijau dengan cahaya yang dirambati tetes hujan. Subhanallah, indah sekali.

Di meja kerja hanya tersisa dua potong roti dan sebotol air mineral yang sengaja saya siapkan sore sebelumnya untuk santap sahur. Malam itu, saya terpaksa menginap di kantor. Sebenarnya, jikalau hujan segera reda, saya berniat beli nasi bungkus untuk kawan bersantap sahur. Namun, hingga menjelang subuh, hujan tak juga menampakkan tanda-tanda segera reda. Meski demikian, dua potong roti saya rasa cukuplah untuk sahur.

Selepas salat lail, mata ini saya paksa untuk tak sampai terpejam meski mengantuk. Sebab, takut kebablasan jika sudah benar-benar tertidur. Dan ini masih sering saya alami. Jika sudah begitu, ya wedang kopi jadi sahabat karib dan tetap melanjutkan menghafal surat Al-Mulk sembari menunggu waktu sahur ataupun azan subuh.

Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi, mata ini mulai merah dan beberapa kali harus cuci muka agar tak ketiduran. Tiba saatnya untuk sahur. Meski tak cukup kenyang dengan dua potong roti, makan sahur terasa nikmat.

***

Saya selalu teringat suara anak-anak yang mengaji di musala kampung kami selepas asar. Anak-anak begitu bersemangat menghafal iqra dan membaca Alquran dari guru ngaji mereka. Ya Allah, malu rasanya hati ini jika kalah semangat dengan anak-anak itu dalam hal belajar dan menghafal ayat-ayat Allah.

Memang, tanpa disadari, kita terkadang menikmati membaca buku, novel, atau koran hingga lama ataupun berjam-jam. Tapi, saat membaca Alquran, kita enggan untuk membuka bahkan menghafal beberapa ayat. Terkadang menghafal lirik lagu saja kita bisa bersemangat dan berusaha sampai hafal. Namun, ketika menghafal beberapa Alquran saja kita merasa jemu.

Tak terbayang, jikalau Alquran bisa bicara, tentulah ia akan menangis karena sering menjadi sarang debu saat hanya dijadikan pajangan di meja atau lemari. Runtuh rasanya hati ini bila memikirkan hal tersebut. Padahal, itu adalah kalam Allah, Tuhan semesta alam.

Menjelang azan maghrib, ingin sekali saya menangis takkala membuka lembaran mushaf Alquran untuk menghafal kembali surat Al-Mulk. Sebanyak 30 ayat saya hafal dengan gemetar. Bukan karena menahan lapar, tapi gemetar karena malu. Ke mana hendak kusembunyikan tetes air mata yang terjatuh tanpa sengaja saat menghafal Al-Mulk? Sungguh, betapa kufurnya diri ini ketika malas belajar Alquran mendominasi hari-hari.

Sore merambat menjemput petang. Azan maghrib sudah berkumandang. Tiba saat berbuka. Dalam lapar, semangat untuk menghafal 30 ayat itu t’lah terpatri. Rabbizidni ilman warzuqni fahman..

Graha Pena, Mei 2008

Publikasi: Eramuslim 11 Mei 2008

Seutas Harapan Korban Lapindo



Oleh: Eko Prasetyo

Saat hendak berkunjung ke rumah salah seorang famili di Buduran, Sidoarjo, pagi itu terasa ada yang aneh. Jalanan, yang biasanya lancar jika Minggu, terasa padat dan macet mulai daerah Waru. Tampaknya, pintu tol ke arah Porong yang menghubungkan arah Malang dan Pasuruan kembali ditutup pagi itu. Padahal, jam belum menunjukkan pukul sebelas. Cuaca yang agak terik membuat kemacetan panjang tersebut terasa melelahkan.

Persis memasuki kawasan Gedangan, salah seorang warga setempat memberitahukan bahwa hari itu ada unjuk rasa korban lumpur Lapindo. Mereka memblokir jalan masuk ke arah Surabaya dan memusatkan aksinya di kawasan tol Porong. Sehingga, aksi itu mengakibatkan akses jalan Surabaya-Sidoarjo macet. Bahkan, arah ke Mojokerto pun terlihat sangat padat.

Setelah sampai di tempat tujuan, lega sekali rasanya. Perjalanan, yang biasanya bisa ditempuh sekitar 30 menit, molor sampai 1 jam lebih karena macet. Lewat berita di televisi, saya bisa mafhum karena kemacetan tadi disebabkan demo korban lumpur Lapindo.

Memang, tidak pernah disangka, dulu semburan kecil akibat semburan lumpur di areal eksplorasi salah satu sumur milik PT Lapindo Brantas, di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, pada 29 Mei 2006 masih menjadi tontonan. Hal tersebut berlangsung hingga sekitar tiga bulan. Material yang awalnya berupa zat cair itu lama-kelamaan menggenang, bercampur lumpur pekat, dan berbau gas. Itulah awal musibah yang menjadi derita berkepanjangan para warga yang terdampak lumpur tersebut.

Ribuan hektare areal sawah penduduk, ratusan dusun, perumahan, pabrik, hingga bangunan sekolah ikut tenggelam setelah terendam lumpur yang saat ini tingginya mencapai sekitar 12 meter. Tak ada yang tahu sampai kapan musibah yang konon disebabkan kelalaian dalam melaksanakan prosedur tersebut akan berakhir. Adakah ini sebuah peringatan dari Allah?

***

Selain melumpuhkan akses industri di Sidoarjo yang juga berdampak di beberapa wilayah di Jawa Timur, para anak-anak usia sekolah turut merasakan getirnya hidup di pengungsian. Mereka terpaksa belajar seadanya karena gedung sekolahnya tinggal terlihat atapnya saja.

Saat berkunjung ke daerah terdampak lumpur, hati ini semakin tak tega melihat para warga yang kebanyakan terdiri atas ibu-ibu dan anak-anak kecil itu berebut makanan. Terkadang, nasi bungkus yang mereka terima sudah basi. Mereka benar-benar kehilangan keceriaan yang terkubur bersama dengan tenggelamnya rumah mereka. Yang ada hanya wajah-wajah kosong, berusaha memperjuangkan kembali hak ganti rugi atas tanah atau rumah mereka. Juga, hak mendapat pendidikan buat anak-anak mereka yang tidak lagi bisa mengenyam pelajaran di gedung sekolah.

Yang sangat mengetuk nurani, puluhan pengungsi di Pasar Porong Baru saat ini mulai mengemis masal. Itu bisa dilihat di sepanjang jalur Porong-Sidoarjo. Mereka berjajar sambil membawa kardus dan poster meminta-minta kepada supir truk dan kendaraan yang melintas di jalan tersebut. Mereka mengaku terpaksa mengemis untuk makan. Salah seorang di antara warga itu mengatakan, ”Hanya uang dari ngemis ini kekayaan kami.”

Degup hati ini berdesir kencang membayangkan andai saya atau keluarga saya mengalami hal seperti mereka. Sungguh, ujian tersebut sangat berat. Namun, Allah tidaklah menguji di luar batas kemampuan hamba-Nya. Tubuh ini merinding rasanya menyaksikan saudara-saudara saya tersebut mengemis sembari menengadahkan kardus-kardus yang mereka bawa, berharap ada makanan atau uang dari pengendara yang melintas.

Ya Allah, ya Rabb.. ketuklah jiwaku, buncahkan kasihku, bukalah mata hatiku atas penderitaan mereka yang aku sendiri belum tentu sanggup menerima cobaan seperti mereka. Semoga Allah melimpahkan kekuatan dan kesabaran kepada korban lumpur Lapindo.

Graha Pena, Mei 2008

Publikasi: Eramuslim 10 September 2008

Cerita di Atas Angkot Surabaya-Sidoarjo

Oleh: Eko Prasetyo

Perayaan hari lahir atau biasa disebut ulang tahun (ultah) sering kita jumpai di mana saja. Entah itu hari lahir negara atau HUT kemerdekaan maupun ultah seseorang. Bagi kalangan tertentu atau menengah –bahkan ada pula menengah bawah– merayakan ultah bisa dengan hura-hura dan pesta. Cara pandang seperti itu seakan sudah jadi tradisi di masyarakat awam kita.

Ada orang tua yang merayakan ultah anaknya dengan mengundang teman-teman anaknya. Tidak sedikit pula remaja yang merayakan ultahnya dengan party atau pesta dengan amat meriah. Namun, ada juga yang merayakan ultah bersama anak-anak di yayasan yatim piatu. Beragam jenis perayaan ultah menjadi pemandangan yang mudah dijumpai.

Di saat negara mengalami krisis ekonomi panjang seperti sekarang, tidaklah pantas kita merayakan ultah dengan meriah. Apalagi, merayakan ultah adalah budaya Barat yang telanjur diadopsi oleh kebanyakan masyarakat kita. Padahal, tambah umur berarti kita harus bijak. Sebab, bertambahnya usia adalah indikasi kontrak hidup kita di dunia akan semakin berkurang. Karena itu, sudah seharusnya manusia membiasakan dzikir maut atau mengingat kematian agar lebih giat beribadah. Bukan malah umur bertambah, tapi kelakuan semakin jauh dari tuntunan agama.

Ada pemandangan yang kerap saya ingat ketika ada rekan yang merayakan ultah di kantor kami. Ketika kue ultah sudah dipersiapkan, prosesi tiup lilin dilakukan. Setelah itu, para rekan-rekan lain beramai-ramai menyerbu kue tersebut secara berebutan. Hal itu sering saya saksikan. Terkadang, saya bertanya dalam hati, ”Apakah saya bisa ikut bergembira berebut kue, sementara di suatu waktu saya kerap menyaksikan orang miskin makan nasi basi yang dikeringkan?” Batin saya bergolak melihat ketimpangan-ketimpangan yang sering terjadi di lingkungan sekitar.

***

Bekerja pada malam adalah aktivitas yang rutin saya lakukan. Saya tak berani mengeluh pada diri sendiri. Sebab, tidak jarang, ada rekan kerja yang harus pulang pergi Surabaya-Malang dari kantor sehabis deadline. Ada pula kawan yang pulang pergi ke kantor dari Surabaya-Surabaya. Kalau mereka tidak pernah mengeluh, lantas kenapa saya mesti mengeluh? Alhamdulillah atas segala nikmat yang Allah berikan. Memang, hidup ini kita harus pandai-pandai bersyukur terhadap nikmat dari Allah SWT.

Suatu ketika, ada seorang rekan yang bercerita kepada saya saat dia pulang kerja ke Sidoarjo. Sehabis deadline, ada acara ultah rekan lain di kantor. Sedangkan kawan saya tersebut pada saat yang sama bergegas pulang. Karena tak bawa kendaraan, dia harus pulang naik angkot dari Surabaya menuju Sidoarjo. Jika dini hari, memang sulit angkot dijumpai. Kalaupun ada, menunggunya pun lama. Namun, kawan saya tersebut beruntung bisa cepat dapat angkot sehingga tidak perlu menunggu lama di pinggir jalan.

Dalam perjalanan itu, angkot tersebut tidak terisi penuh karena memang sepi penumpang. Saat berhenti sejenak di daerah Gedangan, Sidoarjo, ada seorang penumpang yang naik. Dia membawa beberapa lukisan kaligrafi berukuran sedang. Ternyata, penumpang tersebut adalah penjual lukisan kaligrafi. Kawan saya lantas bertanya kepada orang tersebut, ”Sudah berapa yang laku?” Pedagang kaligrafi itu menjawab bahwa seharian itu tidak ada lukisan kaligrafinya yang terjual sama sekali. Kawan saya tersebut sempat terhenyak sejenak dan merasa iba kepada penjual kaligrafi itu.

Setidaknya, saya mencoba mengambil hikmah di balik cerita sederhana dari kawan saya tadi. Kisah di angkot menuju Sidoarjo tersebut seolah menjadi reminder bagi saya. Betapa kita harus bersyukur terhadap anugerah dan nikmat Allah. Saya jadi sedih manakala teringat di ruang kantor ada suasana gembira hura-hura dalam cara ultah, sedangkan di saat yang sama ada penjual kaligrafi yang dagangannya belum laku sama sekali. Saya berpikir, bagaimana pedagang tersebut bisa makan padahal dia belum mendapatkan penghasilan pada saat itu.

Saat ini, kesenjangan sosial begitu nyata. Yang kaya makin kaya, yang duafa dan miskin makin terimpit. Bagi orang yang ekonominya mapan, terpaan krisis tak akan terasa pengaruhnya. Namun, bagi rakyat jelata, bisa makan sehari satu kali adalah anugerah yang amat besar. Subhanallah. Betapa saya tak bisa membayangkan jika perayaan ultah semakin membudaya. Pesta makan-makan begitu meriah dengan uang yang dikeluarkan tentunya tidak sedikit.

Apakah kesenjangan sosial itu kita biarkan saja? Apakah mata hati kita harus tertutup melihat ketimpangan-ketimpangan yang terjadi? Haruskah kepekaan sosial itu sekadar angin lalu? Mudah-mudahan pada usia ke-26 ini saya tak ikut tergiur dengan perayaan-perayaan semacam itu. Sebab, di kala hati resah, ketika pikiran gundah, hanya Allah lah tempat berserah dan mencurahkan hati yang sempurna.

Terbit: Eramuslim, 11 Juli 2008

Antara Teman dan Sahabat


SENJA: Aku (berkaus biru muda) berharap amal kan jadi sahabat sejatiku.

Oleh: Eko Prasetyo

Harga sebuah persahabatan sangat mahal. Sebab, sahabat sejati yang siap hadir di kala kita senang dan di saat kita membutuhkannya sangat sulit dijumpai. Apalagi di zaman serba digital dan pesatnya teknologi seperti sekarang. Nilai sebuah pertemanan dan jabat erat banyak dilihat dari kedudukan serta materi seseorang.

Kawan akan ada ketika kita mengundangnya di sebuah perjamuan atau pesta. Di saat uang kita berlimpah, dia siap menemani dan menebar tawa canda bersama. Namun, kala sakit mendera dan susah menyapa, tak satu pun di antara mereka yang menengok dan membesarkan hati. Marah? Itu hal yang sia-sia.

Maka, dalam memilih seseorang untuk dijadikan sahabat, kita sudah selayaknya untuk selektif. Sahabat sejati adalah sosok yang selalu mengingatkan akan kebaikan. Dia ada di sisi kita, baik ketika senang maupun di kala sedih. Persahabatan tidak kenal dengan kata putus. Dalam hal mengingatkan kesabaran dan kebaikan, nilai persahabatan ada sampai maut memisahkan raga dari jasad. Bahkan, saat kita sudah mati pun, sahabat siap menyalatkan dan mendoakan layaknya keluarga.

Namun, tak sedikit yang tergelincir karena teman. Ada seseorang yang awalnya baik, ketika berteman dengan pemabuk atau tukang judi, saat terpengaruh dan tak kuat iman, dia pun bisa berubah menjadi tidak baik. Bahkan, di antara masyarakat sekarang pun, banyak yang salah dalam pergaulan. Akibatnya, banyak remaja putri yang hamil di luar nikah, tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, dan lain-lain. Semua itu bukan saja disebabkan lemah iman, tapi juga cara yang salah dalam bergaul. Gaya hidup hedonisme dan bebas ala Barat mulai diterjemahkan sebagai sesuatu yang baik untuk diadopsi. Bahkan, pacaran di tempat umum seolah dianggap sesuatu yang biasa. Efeknya, timbul zina. Naudzubillahi mindzaalik.

***


Ji, demikian saya biasa menyebut salah seorang sahabat saya yang bernama Darmaji. Dia bukan rekan sekantor. Juga bukan orang yang suka berpenampilan rapi. Dia cuma tukang bakso keliling yang sudah menjadi langganan saya di kampung. Namun, banyak hal yang membuat saya angkat topi dan bersyukur mengenalnya.

Suatu sore, saya hanya menjumpai rombong (gerobak) baksonya saja, sedangkan yang jualan entah ke mana. Sekitar tujuh menit menunggu, akhirnya Ji muncul. ”Nang endi ae (ke mana saja)?” tegur saya. ”Sik Asharan Mas. Sampeyan wis sholat ta (Baru salat Ashar. Mas sudah salat)?” jawabnya. Seketika kejengkelan saya karena menunggu berubah mendengar jawaban Ji. Saya malu karena sudah su’udzan kepadanya, apalagi saya sendiri juga belum salat Ashar. Astaghfirullah. Saya bergegas ke musala untuk salat dahulu dan memesan semangkuk bakso kepada Ji.

Usai salat, saya kemudian kembali bertanya ke Ji, apakah dia tidak takut kehilangan uang setoran bila rombong (gerobak)nya ditinggal agak lama. ”Rezeki wis ono sing ngatur, Mas,” jawabnya polos. Dia hanya tukang bakso yang SD saja tidak lulus. Tapi, keyakinannya dan tak alpa untuk salat meski bekerja berkeliling jualan bakso membuat saya kagum. Kerja tetap kerja, namun jika sudah waktu salat, ya harus melaksanakannya. Bukankah memang rezeki telah Allah atur sesuai dengan ketetapan-Nya? Subhanallah.

Karena pengetahuan Ji tentang Islam cukup baik, saya tak jarang bertanya seputar agama yang saya sebelumnya tidak tahu. Alhamdulillah, dari Ji, saya banyak mengambil hikmah dan ilmu. Keakraban kami sebagai sahabat tidak terbatas pada saat bersua saja. Ketika saya jatuh sakit, sebuah sms dari Ji masuk dan mendoakan agar saya lekas sembuh. Subhanallah walhamdulillah, perhatian dari seorang sahabat mampu membuat semangat saya tumbuh kembali.

Rasulullah SAW bersabda: ”Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya. Dia tidak boleh menzaliminya dan menghinakannya. Barang siapa yang membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan memenuhi keperluannya. Barang siapa yang melapangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesusahan di antara
kesusahan-kesusahan hari kiamat nanti. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (Shahih Muslim).

Suatu ketika, Ji mengabarkan kepada saya bahwa istrinya di desa telah melahirkan putra pertama mereka. Tentu saja, saya ikut senang mendengar kabar bahagia tersebut. Tak lupa, saya mengucapkan selamat karena dia telah menjadi bapak. Tiada henti Ji berucap hamdalallah dan senyum syukur. Rendah hati dan menunjukkan sikap sebagai ikhwan yang sederhana. Pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya mengingatkan seperti ”wis sholat ta? masih dia lontarkan ketika kami bertemu atau saat saya membeli baksonya.

Alhamdulillah, nikmatnya bersahabat jika saling mengingatkan tentang berbuat kebaikan. Bahwa persahabatan itu tidak memandang kasta dan kedudukan seseorang. Islam selalu mengajarkan kita untuk pandai bersyukur atas nikmat Allah. Seperti firman Allah: ”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu; dan bersyukurlah kepada-ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah: 152).

Jatuhan daun dari pohon trembesi yang menguning di beberapa sudut jalan terhampar seperti musim semi. Beberapa di antara jalan itu sering kami lalui bersama. Ji menyusuri jalan itu dengan berjalan kaki dan mendorong rombongnya, sedangkan saya melewati jalan tersebut dengan kendaraan pribadi. Namun, ikatan persahabatan menjadikan kami lebih dari sekadar saudara. Dari hadis riwayat Anas bin Malik ra, Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari. (Shahih Muslim). Wallahu ‘alam bishshawab.

dimuat: Eramuslim 5 Mei 2008

Shalat sebelum Dishalati




Oleh: Eko Prasetyo

Dini hari itu, ruang kerja kami sudah lengang. Hanya tertinggal saya dan beberapa rekan saja yang masih berada di kantor. Seusai deadline, biasanya hal yang sangat saya sukai adalah memandang keluar dari balik kaca kantor. Ditemani secangkir kopi, saya berkontemplasi dan mencatat dalam memori apa-apa saja yang akan saya evaluasi. Saya tertegun sejenak saat membaca buku tentang shalat. Betapa selama ini banyak orang mengerjakan shalat, tapi belum sepenuhnya paham esensi salah satu rukun Islam tersebut.

Jika ditelaah, shalat adalah ibadah yang menyehatkan. Shalat membawa banyak manfaat yang luar biasa. Salah satu manfaatnya, shalat bisa memperlancar peredaran darah. Maka, sudah semestinya kita bersyukur karena Allah mewajibkan setiap muslim untuk shalat. Tidak lain, hal tersebut bertujuan demi kebaikan hamba itu sendiri.

Zaman semakin modern, semakin banyak pula orang mengesampingkan ibadah shalat. Ada saja alasan untuk tidak shalat. Pekerjaan yang menyita perhatian, pikiran, dan tenaga dijadikan alasan melalaikan shalat. Masya Allah.

Banyak orang mengaku muslim, tapi rukun Islam tentang shalat sering diabaikan dan tidak dikerjakan. Saya pernah mendengar ada orang yang mengatakan bahwa tidak shalat tidak apa-apa yang penting beramal baik. Astaghfirulah, dari mana pemahaman seperti itu?

Allah berfirman: ”Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) saqar ini?. (Mereka menjawab) kami dahulu termasuk orang-orang yang tidak menunaikan shalat.” (Al-Mudatsir 42–43).

Sudah pasti bahwa siksa Allah itu pedih. Meninggalkan shalat dengan sengaja pun termasuk dosa besar. Tidak ada pengecualian untuk meninggalkan shalat kecuali tiga hal. Yakni, anak kecil hingga baligh, tertidur hingga bangun, orang gila hingga sembuh atau orang yang sudah meninggal. Nah, jelaslah bahwa shalat itu tidak boleh ditinggalkan dengan alasan apa pun. Maka, takutlah jika kita meninggalkan shalat.

Rasulullah SAW bersabda: ”Seringan-ringannya siksa pada hari kiamat ialah orang yang padanya diletakkan dua batu bara api neraka di bawah tumitnya yang mampu mendidihkan otaknya. Pada saat itu, dia merasa bahwa tidak seorang pun yang lebih kuat siksaan yang diterimanya dibandingkan orang lain. Padahal, sesungguhnya itulah siksaan yang seringan-ringannya (HR Bukhari dan Muslim).

***

Dalam suatu perjalanan ke masjid untuk shalat Jumat, saya tertegun karena di jalan masih begitu ramai. Aktivitas orang-orang pun masih berlanjut. Saat azan diperdengarkan, masih banyak orang yang nongkrong di warteg. Masih banyak orang yang sibuk belanja di mal atau pusat perbelanjaan. Tidak sedikit pula orang yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Suara panggilan shalat ternyata masih banyak direspons secara cuek. Padahal, mereka sadar bahwa shalat adalah kewajiban. Shalat juga merupakan tiang agama. Siapa yang menunaikan shalat, dia telah menegakkan tiang agama. Dan siapa yang meninggalkan shalat, dia telah merobohkan tiang agama.

Dalam suatu kesempatan lain, saya menghadiri pemakaman tetangga kampung kami. Tampak, beberapa anggota keluarga si jenazah larut dalam kesedihan. Setelah dimandikan dan dishalati, kami mengantarkan almarhum sampai di makam. Kami ikut memanjatkan doa dan setelah itu kembali lagi ke rumah.

Saya tertegun dan berpikir, ”Inilah (kuburan) rumahku kelak.” Orang kalau sudah mati tidak akan bisa apa-apa. Dia tidak membawa apa-apa, kecuali kain kafan. Putus sudah semua amalan di dunia jika maut telah menjemput. Yang tertinggal hanya tiga perkara. Yakni, amal saleh (jariyah), ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.

Malam-malam di kantor, saya kembali merenung, betapa banyak dosa yang telah saya perbuat. Betapa dhaif dan lemahnya manusia sebagai hamba ALlah. Sebab, tiadalah manusia bisa berbuat apa-apa selain karena pertolongan Allah Yang Maha Perkasa. Dalam qiyamul lail, tak sengaja mata saya basah. ”Bisa apa aku kelak sesudah mati?. Sebab, semua ini hanyalah titipan-Mu ya Allah..”

Fajar hampir menjelang di balik kaca kantor. Dingin dan sepi. Lidah ini seakan beku tak tahu harus berucap syukur apa lagi. Dua rakaat Subuh begitu terasa damai dan nikmat. Lalu, mengapa masih banyak kaum di antara kita meninggalkan shalat dengan sengaja? Betapa sebenarnya Allah itu benar-benar maha pengasih dan penyayang. Namun, kebanyakan hamba-hamba-Nya lupa akan segala curahan nikmat dan anugerah-Nya. Padahal, jika mati, kita tidak akan membawa jabatan, keluarga, apalagi harta.

Jangan sampai kita menyesal di kampung akhirat nanti hanya karena terus memikirkan duniawai. Sebab, dunia hanya persinggahan sejenak dan penuh senda gurau. Allah SWT berfirman: ”Sesungguhnya, Kami telah memperingatkan kepadamu akan (terjadinya) azab yang dekat pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya. Dan orang kafir berkata: ”Aduhai! Sekiranya aku menjadi tanah!” (An-Naba’: 40).


dimuat: Eramuslim 8 Juli 2008

Kabar dari Meulaboh



Oleh: Eko Prasetyo

Dini hari selepas kerja, saya sempatkan kembali membuka e-mail. Ingatan ini tak sengaja terbawa pada curahan hati seorang sahabat seusai bertugas di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sekian tahun silam. Dia bukan orang asli Aceh, hanya seorang sukarelawan dari sebuah LSM di Surabaya yang pernah dikirim ke sana selama beberapa bulan pasca musibah tsunami 2004. Memang, tragedi tersebut sempat membuka mata dunia serta menjadi headline di media cetak/elektronik nasional dan internasional selama beberapa bulan. Aceh berduka.

Tepat pada 26 Desember 2004, terjadi bencana dahsyat yang juga merupakan tragedi internasional waktu itu. Gempa bawah laut yang mengakibatkan tsunami mengguncang Bumi Serambi Makkah. Episenter atau pusat gempa terjadi di sebelah utara Pulau Simelue. Tak terbayangkan, tak sampai sekian jam, hampir separo Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dilanda air bah yang menewaskan ratusan ribu penduduk tersebut.

Patahan bumi yang menjadi sumber gempa di Samudera Hindia, lepas pantai barat Aceh, mengakibatkan kerusakan luar biasa. Tak hanya tanah rencong yang dataran rendahnya tenggelam, tapi beberapa negara juga ikut terkena dampaknya seperti Malaysia, Thailand, Srilanka, Pakistan, India, Bangladesh, hingga Maladewa.

Tak pelak, tangisan pilu, rintihan korban yang sekarat, mayat yang bergelimpangan di mana-mana, tanah yang rata dengan tanah dan porak poranda menjadi pemandangan yang menyayat hati. Jika Allah berkehendak atas segala sesuatu, maka apa yang Dia kehendaki pasti terjadi. Allahu akbar..

Kini, peristiwa itu telah berlalu. Perbaikan infrastruktur telah dilakukan di Bumi Serambi Makkah. Namun, kepiluan dari bencana itu masih menyisakan kenangan pahit yang cukup dalam terhadap korban selamat, termasuk para relawan yang dikirim ke sana.

***

Sahabat saya mengisahkan sebuah pengalaman yang tak bisa dia lupakan seumur hidup saat bertugas ke Aceh pascabencana tsunami. Kebetulan, dia dan beberapa relawan lainnya berada di Kota Meulaboh yang sekitar 80 persen infrastrukturnya hancur.

Allah menampakkan kebesaran dan keagungan-Nya. Terbukti, meski kondisi sebagian besar rumah di tanah rencong rata dengan tanah, bangunan Masjid Rahmatullah yang berada di Kampung Lhoknga, Kecamatan Aceh Besar, selamat dan berdiri kukuh. Masjid dengan tiga kubah yang didirikan pada 12 September 1997 itu mampu bertahan meski sudah digelontor amukan gelombang tsunami yang amat dahsyat. Karena letaknya di tengah lembah dan di kala seluruh bangunan di sekitarnya rebah, masjid bercat putih tersebut bila dipandang dari kejauhan tampak mengapung ke udara. Subhanallah.

Seusai bertugas, sahabat saya tersebut masih sering mengisahkan pengalamannya lewat e-mail. Sahabat kami tersebut menuturkan betapa trauma sangat memengaruhi warga yang selamat. Rasa ngeri melihat jasad-jasad yang terkadang sudah tak utuh lagi sangat menguji batas toleransi keberanian. Rasa sosial dan nurani seorang sukarelawan diuji manakala harus mengevakuasi mayat-mayat korban.

Perasaan jijik dan mual saat memindahkan jenazah untuk dikubur secara masal seolah tak lagi menemani sahabat tersebut. Dia seakan telah terbiasa dengan hal itu setelah berhari-berhari menghabiskan waktu di sana.

Pernah, dia bertemu dengan seorang korban selamat di Meulaboh. Sang korban yang masih remaja itu tak henti berteriak dan menangis karena mengalami trauma hebat. Dia tak hanya mengalami luka hebat pada kakinya akibat tsunami. Tapi, dia juga harus kehilangan kedua orang tua dan saudaranya yang tewas diterjang air bah. Remaja itu seraya menangis meminta sahabat saya dan beberapa relawan lain yang ada di situ untuk membunuhnya saja karena merasa telah kehilangan segalanya dan tak mampu menanggung beban penderitaan tersebut. Tentu saja, hati manusia mana yang tak tersentuh dengan kejadian yang menimpa remaja tersebut. Pastilah, banyak korban-korban lain yang bernasib sama seperti yang dia alami. Subhanallah.

***

Gelombang dahsyat yang menyapu bumi Aceh pada 2004 meninggalkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia. Bantuan logistik, obat-obatan, medis, serta dukungan moral tak cukup untuk memulihkan trauma para korban selamat yang kehilangan sanak famili mereka.

Namun, Allah adalah sebaik-baik tempat kita kembali. Allah Yang Mahagagah Perkasa jauh lebih berhak menentukan atas nasib kita, hamba-hamba-Nya yang dhaif.

Kita kadang terlampau angkuh berjalan di atas bumi Allah. Kita alpa bersyukur dan memelihara bumi dengan sebaik-baiknya. Saat senang, kita lupa pada Ilahi. Tapi, ketika ditimpa musibah kita baru memohon ampun dan mengucap istighfar. Segala nikmat lewat akal dan hati yang diberikan Ar Rahman rupanya tak cukup menggerakkan kalbu kita untuk mengucap syukur dan ampunan.

Lantas, pantaskah kita menyalahkan bahwa Allah tidak adil ketika musibah melanda negeri kita bertubi-tubi, baik yang disebabkan oleh alam maupun kelalaian manusia? Sungguh, kitalah sebenarnya yang terkadang kerap memperlakukan Allah tidak adil.

Cinta sejati lahirnya dari dalam hati yang bersih. Yang datang saat kedua tangan menengadah bermunajat berharap ampunan. Air mata yang jatuh karena mengingat dosa dalam keheningan malam menjadi untaian kasih mesra. Cinta sejati bukannya tak ada. Sebab, Ia begitu dekat, sangat dekat...saat kita bersujud.

Semoga bencana tsunami beberapa tahum silam dan musibah-musibah lainnya yang melanda negeri ini membuat kita sadar bahwa diri kita kecil, bukan apa-apa. Apa yang kita punya tak lebih dari sekadar debu titipan yang akan diminta kembali kelak saat tiba masanya. Mati pun manusia hanya berkawan kain kafan. Hanya kerendahan hati dan setangkup cinta kepada Allah lah yang mampu menyelamatkan kita dari penyakit menghamba duniawi.

Yaa Hayyu, Yaa Qayyum..
diri ini tak luput dari noda dosa
ampunilah kami yang khilaf dan kufur atas segala nikmat-Mu
selamatkanlah kami dari segala marabahaya dan bencana, amiin..


Graha Pena, Mei 2008

dimuat: Eramuslim, 5 Mei 2008

Di Sudut Terminal Bungurasih



Oleh: Eko Prasetyo

Cukup mengharukan perkenalan saya dengan salah seorang pengamen cilik di Terminal Bungurasih, Surabaya. Saat itu, saya hendak pergi ke Malang. Sengaja tidak memakai kendaraan pribadi, saya ingin berangkat ke sana naik angkutan umum saja waktu itu.

Hidup di terminal seperti hidup di ibu kota. Itulah yang saya tangkap dari kisah seorang pengamen cilik tersebut. Awalnya, saya yang masih di luar terminal ingin mencari makan di sebuah warung. Menu rawon akhirnya menjadi pilihan saya siang itu. Sedang asyik menikmati santap siang, ada bocah laki-laki sekitar tujuh tahun ngamen di warung itu.

Berbekal suara fals dan alat musik bikinan sendiri (dari tutup botol dan kayu kecil), dia mulai beraksi. Alat musik itu biasa saya sebut ecrek-ecrek karena bunyinya memang mirip begitu. Meski demikian, tidak ada yang peduli dengan nyanyian bocah itu. Namun, tampangnya yang agak dekil dan masih memakai celana sekolah membuat saya iba.

Salah seorang pengunjung yang juga makan di warung itu nyeletuk kepada bocah tersebut, ”Sing liyane ae, prei disik (Yang lain aja, lewatin dulu).” Tapi, pengamen cilik itu masih tetap berdiri. Sejenak, dia tidak bernyanyi, tapi melihat orang-orang yang makan di situ, termasuk saya. Tentu saja, saya jadi perasaan karena dilihat oleh anak kecil yang mungkin belum makan. Selang beberapa lama, saya memberi dia uang 500 perak. Kemudian, dia ngeloyor pergi.

Tidak ingin menjadi perhatian orang sekitar, saya juga pesan nasi campur yang dibungkus plus es teh. Bocah itu masih tampak mengamen di warung nasi lainnya. Setelah menunggu dia selesai ngamen beberapa saat, saya memanggil bocah itu. Saya kemudian menyerahkan bungkusan nasi tersebut kepadanya. Dia agak takut melihat karena saya mungkin masih asing bagi dia.

Suasana di antara kami pun jadi gayeng (akrab). Singkatnya, bocah itu mengatakan tinggal di kawasan Medaeng, Sidoarjo. Dia mengaku, sepulang sekolah biasanya langsung mengamen di Terminal Bungurasih.

”Kenapa ora ngamen nang kampung?” tanya saya kepadanya.
”Emoh Mas. Wonge pelit-pelit (Orangnya pelit),” jawabnya.
”Buat apa kamu ngamen?” tanya saya lagi.
”Buat jajan Mas,” ujarnya.

Saya lantas tersenyum mendengar jawaban polos dari anak laki-laki itu. Tak berapa lama kemudian, saya menuju bus jurusan Surabaya-Malang. Di bus, saya mencatat di jurnal pribadi tentang kisah perjalanan saat itu. Tentang kehidupan pengamen di kota, mereka sama seperti kita, mencari makan meski dengan jalan mengamen. Ada pula pengamen yang nyambi jadi copet. Namun, tak sedikit pula yang benar-benar mengamen hanya untuk mencari uang. Sering, para pengamen itu menghadapi ujian mental. Misalnya, tuan rumah menutup pintu erat-erat meski tahu ada pengamen di luar. Kadang, di bus, orang pura-pura tertidur saat ada pengamen yang menyodorkan bungkusan tempat uang.

***

Sebelum berpisah, pengamen kecil tadi sempat mengatakan bahwa dia ingin seperti bocah-bocah sebayanya tanpa harus mengamen di jalanan atau terminal. Dia menuturkan sangat ingin bisa makan di warung seperti pengujung lainnya. Namun, dia hanya bisa terus menyanyi dan menatap kosong para pengunjung yang lahap dengan makanan mereka. Mendengar itu, hati saya tersentuh.

Saya berpikir, mungkin banyak anak-anak seperti dia. Mereka pun membutuhkan uluran tangan kita dan perhatian dari pemerintah. Pendidikan yang semakin mahal dan sulit terjangkau bagi mereka adalah tugas kita untuk ikut membantu meringankan beban mereka. Sebab, para pengamen cilik itu juga merupakan tunas bangsa. Karena itu, mari kita budayakan zakat dan infaq untuk merajut kasih dengan Allah SWT. Ini semua perlu kita lakukan demi meringankan beban saudara-saudara kita yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Wallahu ’alam bishshawab.

dimuat: Eramuslim, 3 Agustus 2008

Selembar Kertas Kontrak

Oleh: Eko Prasetyo

Betapa sulit mencari kerja sekarang. Sempitnya lapangan kerja menambah deret angka pengangguran. Apalagi, tingkat persaingan semakin tinggi dengan bertambahnya lulusan sekolah menengah atas ataupun perguruan tinggi yang mencari kerja. Itu masih ditambah dengan belum stabilnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Tak heran banyak pengangguran intelektual (sarjana) di negeri ini. Jika sarjana di negeri ini masih banyak yang menganggur, bagaimana dengan mereka yang berpendidikan rendah?

Kadang, tak jarang kita jumpai bahwa banyak warga Indonesia yang terpaksa merantau ke negeri orang untuk mencari sesuap nasi. Mereka bekerja sebagai pembantu ataupun buruh di negara tetangga karena merasa sudah mentok mencari kerja di negeri sendiri. Para pahlawan devisa itu tak jarang pula mendapatkan aniaya dari majikan yang kadang bisa saja merengut nyawa mereka. Meski, tak sedikit di antara mereka yang sukses membawa hasil keringat saat pulang ke tanah air.

Di saat lapangan kerja semakin sulit didapat, tak jarang ketika sudah bekerja pun hak-hak pekerja atau karyawan kurang diperhatikan karena terbentur birokrasi perusahaan. Pernah, saat kebetulan melintas di suatu kawasan industri di Sidoarjo, saya melihat sekelompok buruh berdemo. Pemandangan seperti itu sering saya lihat, baik di televisi ataupun melihat secara langsung. Para buruh pabrik tersebut tidak hendak mengancam perusahaan atau sengaja membuat macet jalan. Mereka hanya memperjuangkan hak-hak mereka ketika perusahaan kurang memperhatikan kesejahteraan pegawainya.

Sekarang ini, di setiap perusahaan banyak menerapkan sistem kontrak kerja kepada para karyawannya. Ada karyawan yang dikontrak cuma setahun, ada pula yang dikontrak selama dua tahun. Ada juga buruh yang hanya dikontrak selama enam bulan. Bahkan, tidak sedikit perusahaan yang menerima karyawan lewat perusahaan outsourch. Bisa dipahami jika banyak sekali buruh yang merasa waswas, bekerja tidak tenang, dan bingung ketika menjelang kontrak kerjanya habis.

Pernah, saya terenyuh mendengar kisah tetangga saya. Dia mendatangi saya dan menceritakan bahwa dia baru saja mengalami pemutusan kontrak kerja. Sebagai buruh pabrik yang berpendapatan kurang dari Rp 800 ribu, dia merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi, dia harus menghidupi istri dan seorang anaknya. Dalam keadaan bingung dan kalut, dia meminta tolong kepada saya untuk membantu mencarikan lowongan kerja. ”Kerjo opo ae aku gelem Mas (Kerja apa saja saya mau Mas),” tuturnya. Saya sempat terdiam dan tak tahu harus menjawab apa kepada tetangga saya tersebut. Saya termenung sejenak karena berpikir bahwa wong saya ini juga buruh. ”Insya Allah Pak. Saya usahakan membantu mencarikan info kerja. Tapi, saya ndak janji bisa mendapatkan secepatnya buat sampeyan,” jawab saya.

Mungkin, tidak sedikit orang yang mengalami hal seperti tetangga saya tadi. Saya semakin prihatin manakala membaca berita ada seorang buruh pabrik wanita yang menangis karena dikeluarkan. Bahkan, dia mengatakan telah memberi uang kepada salah seorang staf agar tidak dikeluarkan dari perusahaan itu. Dia mengaku berbuat demikian demi bisa diperpanjang kontraknya. Ketika uang sudah diserahkan, janji untuk diperpanjang tak terealisasi. Rasa sedih, kecewa, dan kalut bercampur jadi satu di hati wanita tersebut. Masya Allah. Betapa susahnya mencari sesuap nasi hingga persaingan pun menimbulkan iklim tidak sehat di dunia kerja. Seolah-olah, rezeki dan nasib seseorang itu bisa ditentukan oleh selembar kertas kontrak kerja. Astaghfirullah.

Bekerja adalah ibadah. Namun, banyak orang yang memaknai esensi kerja hanya untuk kebutuhan dapur dan perut belaka. Sehingga, banyak dijumpai orang yang putus asa karena masalah kerja. Padahal, masih banyak jalan jikalau kita mau berusaha. Masih banyak cara untuk mencari rezeki di bumi ini. Allah berfirman: ”Kami telah menjadikan untukmu semua di dalam bumi itu sebagai lapangan mengusahakan kehidupan. Tetapi, sedikit sekali kamu berterima kasih.” (QS Al-A’raf: 10). ”Maka menyebarlah di bumi dan carilah rezeki dari keutamaan Allah.” (QS Al-Jum’ah: 10).

Keterpurukan ekonomi negeri ini disebabkan oleh semakin merajalelanya para koruptor. Utang negara semakin menumpuk, ditambah semakin lunturnya moralitas sebagian pemimpin. Negeri yang kaya sumber daya alam ini ternyata tak mampu menghidupi penduduknya karena dirusak dan dikeruk habis-habisan tanpa usaha diperbarui. Tak salah, kelaparan dan kemiskinan di negara ini semakin menjadi-jadi. Pembenahan moral bangsa dan etos kerja yang baik harus segera dilakukan agar negeri ini tidak dijajah oleh pemimpin korup. Jangan lagi menambah rakyat kita menderita karena sulitnya mencari sesuap nasi. Di luar sana, banyak wajah muram para buruh dan pencari kerja. Mereka tak berharap apa-apa, kecuali merindukan hidup di negeri yang memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.


Graha Pena, Juli 2008
(di tengah kesendirianku menikmati hangatnya cahaya rembulan)
dimuat: Eramuslim (17 Juli 2008)