My Stupid Boss



Oleh Eko Prasetyo

Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri.
~J.K. Rowling~

***
Stephen King pernah mengatakan, ”Untuk menjadi penulis, yang dibutuhkan hanya kemauan keras untuk menulis dan kemudian mempraktikkannya.” Menurut dia, orang yang hanya memiliki kemauan menulis, tapi tak pernah melakukannya, ia sama dengan bermimpi untuk memiliki mobil tanpa berusaha dan bekerja keras untuk memilikinya.

Agaknya, ”petuah” King tersebut dicamkan betul oleh Chaos@work (nama samaran). Ia mengumpulkan unek-unek dan pengalamannya selama bekerja di Malaysia dalam bentuk tulisan. Seluruh kisah nyata itu di-posting di blog.

Hebatnya, pengalaman gokil si penulis (Chaos@work) diterbitkan oleh Demedia Pustaka. Buku setebal 200 halaman ini cukup mengharukan sekaligus mampu mengocok perut pembaca. Isi buku ini menceritakan pengalaman si penulis dengan bosnya yang dianggap paling edan. Cerita unik dan aneh di dalam buku terbitan 2009 ini niscaya bisa dilahap tak sampai satu jam! Buktikan sendiri, tapi saran saya: jangan baca buku tersebut di kantor.

Berikut cuplikan isi buku My Stupid Boss.

Si Boss punya satu dealer baru, namanya Ah Cay, yang juga temen akrab dia waktu di Amrik. Karena temen akrab, si Boss kasih harga luar biasa murah.
Ujung-ujungnya, dia nggerundel sendiri.
Boss : Gak usah ladenin si Ah Cay! Dia juga beli service murah kek gitu!
Gue : Loh, kan Bapak yang kasih harga?
Boss : Habis, dia paksa turun terus! Kalo dia minta mesinnya diambil, bilang aja barang gak ada!
Gue : Kalo dia datang ke pabrik?
Boss : Bilang aja sibuk! Kamu buat list utang-utang si Ah Cay. Kamu tagih ke dia. Yang belum jatuh tempo pun tagih! Ngomong kasar aja langsung!
Bilang mau ambil barang boleh, tapi bayar dulu dong!
Ya udah, akhirnya gue ngomong gitu ke Ah Cay.
Apa yang terjadi?
Si Boss dateng ke gue ngomel-ngomel,
“Saya barusan ketemu si Ah Cay. Katanya dia gak happy sama kamu. Kamu judes banget sih. Udah deh, kamu gak usah urusan sama dia. Lagian, ini kan urusan Sales. Kamu kan bukan Sales. Jadi bukan urusan kamu!”

*****

Boss : Kamu atur kerja di bengkel gak bener ini.
Gue : Maksudnya?
Boss : Masak udah dua bulan mobil si Ah Tek belum kelar juga!
Gue : Kan waktu itu lagi ngerjain punya Ah Tek, tapi Bapak stop suruh bikin punya Dato’ Din dulu..
Boss : Mestinya sih enggak.
Gue : Lah, Bapak yang kasih perintah kok. Kita meeting sama orang bengkel kan waktu itu. Minutes meeting-nya masih ada kok!
Boss : Iya, tapi semuanya jadi stuck nih.
Gue : Yah, Bapak jangan komplen ke saya.
Kan Bapak yang atur.
Boss : Mestinya sih bukan saya yang ngatur gitu..
Ya udah, mestinya sih genderuwo yang ngatur!!

*****
Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari buku My Stupid Boss.
Pertama, jika Anda jadi pengusaha, hati-hati apabila akan menerima karyawan. Jangan sampai Anda malah menjadi objek cerita andai si karyawan berniat jadi penulis. Hahaha.
Kedua, Chaos@work membuktikan bahwa seorang ”tenaga kerja Indonesia (TKI)” pun bisa menulis (buku). Menulis dari hal yang sederhana berdasar pengalaman sendiri. Sebagaimana diungkapkan J.K. Rowling, ”Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri.”  

Referensi:
Buku My Stupid Boss
Facebook Page My Stupid Boss

Graha Pena, 5 Agustus 2010

Dari Menulis, Raup Rp 25 Juta Per Jam


Oleh Eko Prasetyo

Usahakan menulis setiap hari. Niscaya kulit Anda akan menjadi segar kembali karena kandungan manfaatnya yang luar biasa.
~Fatimah Mernissi~

***
Tidak akan rugi orang yang giat melakukan aktivitas menulis. Sebab, manfaatnya memang cukup banyak. Selain mengasah kemampuan berpikir, menulis dapat menenangkan dan menghibur diri. Yang paling utama, menulis dapat memberikan keuntungan dari sisi finansial.
Pada ulasan kali ini, saya akan membahas keuntungan menulis dari sisi finansial. Mengapa? Sebab, umumnya, faktor inilah yang mayoritas mampu memengaruhi motivasi seseorang dalam menulis.
Jamak diketahui bahwa menulis dan membaca belum menjadi tren atau budaya di negara kita. Alasannya bermacam-macam. Salah satunya, menulis dianggap sebagai aktivitas yang sulit dilakukan.
Namun, agaknya, anggapan itu mesti dienyahkan. Andrea Hirata telah membuktikannya. Sebagai karyawan PT Telkom, dia tak berhenti belajar untuk mengasah kemampuan menulisnya. Bagi dia, setiap orang bisa menulis dan hanya rasa malaslah yang bisa menghentikan niat seseorang untuk menulis.
Benar saja, novel pertamanya, Laskar Pelangi, meledak di pasaran. Setelah dikupas habis di sebuah mailing list (milis) buku dan sastra, novel itu banyak menuai pujian. Mulai sosok penulisnya, seorang karyawan BUMN yang dianggap tidak punya asal-usul di dunia sastra, hingga proses penulisannya yang dianggap ajaib (Gatra No 13, 6/2/2008).
Sukses itu juga membayangi karya-karya Andrea berikutnya. Mulai Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, hingga Padang Bulan. Kesuksesan juga dituai film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi.
Andrea seolah menegaskan bahwa penulis Indonesia pun bisa menulis buku bermutu dan laku. Dia juga mengkritik sastrawan yang suka merendahkan diri. ”Dibayar murah mau,” tuturnya dalam wawancara dengan majalah Gatra.
Padahal, para motivator memasang tarif mahal setiap kali angkat bicara. Akibatnya, sastra tidak punya posisi tawar dan menjadi anak tiri di Indonesia. Karena itu, kini Andrea tak segan memasang tarif Rp 25 juta per jam setiap kali tampil. ”Sastra itu penting!” katanya (Gatra No 13, 6/2/2008).

 Graha Pena, 4 Agustus 2010

Catatan untuk Puisi Chairil Anwar


Oleh Eko Prasetyo


Artikel saya yang bertajuk Karya Plagiat Paling Legendaris di Indonesia menuai berbagai respons dan komentar di Kompasiana. Ada yang menilai bahwa judul itu terlalu provokatif. Mungkin, karena faktor itu pula, artikel tersebut menjadi headline di Kompasiana pada Jumat malam (3/9/2010).
Bahkan, ada Kompasianer yang menilai saya telah menyebarkan fitnah karena menyebut Chairil Anwar menjiplak dalam puisinya, Krawang-Bekasi. Untuk itu, saya mencoba menguraikan data-data berdasar literatur sastra dan mengimbangkannya dengan uraian tokoh sastra.
Dalam buku Chairil Anwar Pelopor ’45 (CAP, 1968), H.B. Jassin mengategorikan sajak-sajak Chairil ke dalam sajak asli, sajak saduran, sajak terjemahan, dan sajak yang menerima pengaruh (Edisi Kritis Puisi Chairil Anwar, Dian Pustaka: 1996). Dalam CAP III, disebutkan ada 12 sajak terjemahan karya Chairil.
Di antaranya, Hari Akhir Olanda di Jawa dari Max Havelaar karya Multatuli, Somewhere dari De Brug-Djambatan karya E. Du Perron, Jenak Berbenar dari Ausgewahlte Gedichte karya R.M. Rilke, dan Datang Dara Hilang Dara dari karya Hsu Chih-Mo dari Tiongkok.
Namun, ada pendapat berbeda dari Asrul Sani, sahabat dekat Chairil Anwar. Menurut Asrul Sani yang termasuk trio “Tiga Menguak Takdir” bersama Chairil dan Rivai Apin sekaligus sesama pelopor Angkatan ’45, sebagai sastrawan wajar bila Chairil membaca karya orang lain. Dijelaskan Asrul, sebagai penyair yang punya kepekaan ungkapan-ungkapan puisi, wajar pula bila Chairil terpukau oleh karya orang lain.
Dikutip dari majalah Tempo (1990:47), Asrul Sani mengatakan sebagai berikut. ”Dia (Chairil Anwar, Red) cepat sekali menghafal sajak. Seperti karet busa. Cuma beberapa menit baca, langsung hafal. Jadi, kalau dalam puisinya kita temui unsur-unsur puisi lain, tidak kita katakana, dengan sadar dia mengambilnya. Sebab, dia itu ibarat kutu buku yang kena racun.”
Namun, pembelaan Sani menuai tanggapan dari berbagai pelaku seni dan penikmat sastra. Beberapa pihak bahkan mencurigai bahwa puisi-puisi Chairil Anwar merupakan saduran. Hal ini lantas mendapatkan perhatian dari H.B. Jassin yang dikenal sebagai kawan karib Chairil.
Dalam CAP (1968), H.B. Jassin mendaftarkan sepuluh sajak Chairil yang mengandung unsur pengaruh dari beberapa pihak yang memberitahukan. Atas tanggapan itu, Jassin memberikan dua macam tanggapan: setuju dan tidak setuju. Di luar informasi Jassin, di majalah Horison pada 1967, J.E. Tatengkeng menunjukkan adanya unsur saduran dalam sajak Chairil yang bertajuk Di Mesjid dan Taman.
Lima di antara sepuluh sajak yang diduga menyadur dikuatkan H.B. Jassin. Tiga di antara lima sajak tersebut ditunjukkan oleh Slamet Muljana. Misalnya, Kepada Kawan dari dua penyair Belanda, yakni In Memoriam Minjzelf karya Marsman dan De Hand van den Dichter karya Slauerhoff.
Menilik itu, pada masa 1960-an, banyak pengamat sastra yang menanyakan kesahihan puisi-puisi Chairil Anwar. Karena itu, H.B. Jassin sebagai kawan dekat Chairil (mereka berkenalan sejak pendudukan Jepang) merasa perlu mengeluarkan pembelaan dengan caranya sendiri (Sapardi Djoko Damono, Tempo, April 2010).
Kata saduran sendiri juga menuai kontorversi di berbagai kalangan pencinta sastra. Sebagian pihak menilai, H.B. Jassin membela puisi-puisi Chairil Anwar dengan menyebut kata ”menyadur” (CAP, 1968). Sebagian lain tak sepakat dengan pendapat tersebut.
Pendapat lain disampaikan penyair Sapardi Djoko Damono. Dia memberikan paparan sebagai berikut. ”Ia (Chairil) mengarahkan pandangannya ke Barat; di sana ditemukannya Lorca, Du Perron, Marsman, Rilke, dan Eliot. Dalam sajak-sajak karya para penyair itulah ia menemukan apa yang dicarinya. Ia pun menerjemahkan, menyadur, dan mencurinya. Proses itulah ternyata yang telah memberinya jalan untuk menciptakan gaya baru pada bahasa Indonesia. Pengalaman dan emosi yang ada dalam sajak-sajak asing itu dipindahkan ke habitatnya yang baru, bahasa Indonesia.” (Tempo, 24/4/10).
Kata sadur dan jiplak memang memiliki makna yang berbeda (Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI). Namun, dalam bahasa sastra, dua kata tersebut sangat mungkin bisa dikaitkan satu sama lain. Dalam hal ini H.B. Jassin pernah membela habis-habisan Chairil tentang tuduhan banyak orang yang menyatakan dan membuktikan bahwa karya penyair itu adalah plagiat. (baca: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/88813). Pembelaan itu dituangkan dalam buku Chairil Anwar Pelopor 45.
Atas tuduhan semacam itu, Jassin membelokkan perkara dari masalah moral kepada masalah sastra. Yakni, kredibilitas Chairil Anwar sebagai penyair ditentukan oleh kreativitas sastranya, bukan pertimbangan moralnya ketika melakukan tindakan yang membuat sebagian karyanya disebut plagiat.
Mengikuti logika Jassin, moralitas adalah urusan manusia dengan hati nuraninya sendiri, tetapi pekerjaan sastra Chairil adalah urusan kritikus sastra untuk menunjukkan duduk perkaranya sebagai perkara sastra. (baca: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/88813).
Ia wafat lebih dulu sebelum sempat memberikan tanggapan atas munculnya kontroversi tentang karya-karyanya. Meski demikian, persoalan karya orisinalitas belum begitu terekspos pada zaman itu seperti sekarang. Terlepas dari segala kontroversi itu, Chairil Anwar tetap menjadi salah satu ikon sastra Indonesia. Indonesia patut bangga memiliki penyair nasionalis yang hebat seperti dia. Charil adalah sejarah puisi Indonesia. Sebagaimana dikatakan sastrawan Sapardi Djoko Damono, bahasa puisi Chairil Anwar tetap menjadi masa depan bagi penyair Indonesia.

Graha Pena, 4 Agustus 2010

Sumber bacaan:
Ilham, Zaenal. 1996. Edisi Kritis Puisi Chairil Anwar. Jakarta: Dian Rakyat.
Jassin, H.B. 1968 (cetakan III). Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45. Jakarta: Gunung Agung.
Kratz, Ernst Ulrich. Bibliografi Karya Sastra Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sumber internet:

Karya Plagiat Paling Legendaris di Indonesia


Oleh Eko Prasetyo

Jiplak menjiplak bukan kasus baru di Indonesia. Hal ini bahkan dianggap sebagai sebuah seni, trik, atau kebiasaan untuk mencapai suatu tujuan. Umumnya, kasus jiplakan atau plagiat sering menerpa di dunia pendidikan.
Kita tentu masih ingat dengan kasus plagiarisme yang melibatkan Profesor Anak Agung Banyu Perwita PhD, dosen Universitas Parahyangan Bandung. Kasus ini merebak setelah surat kabar The Jakarta Post memasang pengumuman bahwa artikel Prof Banyu menjiplak.
Tulisannya yang berjudul ”RI as a New Middle Power?” dimuat The Jakarta Post pada 16 November 2009. Namun, setelah diusut redaktur koran itu, tulisan Prof Banyu ternyata menjiplak karya tulis ilmiah milik Carl Ungerer, ”The Middle Power Concept in Australian Foreign Policy”. Artikel tersebut diterbitkan Australian Journal of Politics and History: Volume 53, Number 4, pada 2007.
Tak pelak, berita ini menghebohkan dunia pendidikan Indonesia. Apalagi, Universitas Parahyangan menemukan fakta bahwa Prof Banyu empat kali menjiplak (Detik.com, 9/2/2010). Busyet!
Belum reda kasus tersebut, alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) tersangkut kasus serupa. Empat warga ITB itu dilaporkan IEEE Xplore menjiplak paper berjudul ”3D Topological Relations for 3D Spatial Analysis” karya Siyka Zlatanova (Kompas, April 2010). Empat orang tersebut adalah Mochammad Zuliansyah, Suhono Harso Supangkat, Yoga Priyana, dan Carmadi Machbub. ITB berang bukan main dan merasa dibohongi. Sebagai sanksi, gelar doktor Zuliansyah dicabut.
Sebelumnya, pada Januari 2010, di Riau pangkat sekitar 1.700 guru golongan 3B diturunkan menjadi 3A karena terbukti menjiplak karya tulis ilmiah (JPNN, 31/1/2010). Kasus serupa yang terkait dengan sertifikasi terjadi di beberapa daerah di Indonesia.

Plagiator Legendaris
Namun, kasus-kasus plagiarisme semacam itu bukan baru-baru ini terjadi. Jauh pada masa mempertahankan kemerdekaan RI, kasus plagiat telah terjadi. Yang heboh, kasus ini melibatkan salah seorang penyair ternama Indonesia, Chairil Anwar.
Dugaan plagiat itu terjadi pada puisi berjudul Karawang-Bekasi. Puisi legendaris yang ditulis Chairil tersebut dituding menjiplak karya Archibald Mac Leish. Puisi Mac Leish itu berjudul The Young Dead Soldiers Do Not Speak.
Siapa sih yang tak kenal Chairil Anwar? Sang maestro puisi angkatan ’45 itu wafat dalam usia 27 tahun. Penyair kelahiran Medan, 26 Juli 1922 tersebut menghabiskan tujuh tahun untuk berkarya.
Menurut H.B. Jassin, dalam jangka waktu tujuh tahun masa berkarya tersebut, Chairil menghasilkan sekitar 94 karya. H.B. Jassin mengategorikannya dalam tiga jenis karya. Yakni, karya saduran (4 sajak), karya terjemahan (10 sajak, 4 prosa), dan karya asli (70 sajak, 6 prosa).
Salah satu karya plagiat Chairil yang paling legendaris adalah puisi Karawang-Bekasi. Ada beberapa bait yang mirip (saduran) dengan puisi The Young Dead Soldiers. Berikut beberapa bait yang mirip itu.

(-) Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami?
(+) Nevertheless they are heard in the still houses: who has not heard them?

(-) Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
(+) They have a silence that speaks for them at night and when the clock counts.

(-) Kami mati muda.Yang tinggal tulang diliputi debu. Kenang, kenanglah kami.
(+) They say, We were young. We have died. Remember us.

(-) Kami sudah coba apa yang kami bisa
(+) They say, We have done what we could but until it is finished it is not done.

(-)  Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
(+) They say, We have given our lives but until it is finished no one can know what our lives gave.

Kendati ada karyanya yang saduran, Indonesia berterima kasih kepada Chairil Anwar. Dia dinilai mampu menggelorakan semangat juang mempertahankan kemerdekaan RI lewat puisi-puisinya yang bergelora. Meski demikian, perlu ditanamkan pula kepada generasi muda saat ini bahwa tindakan menyadur dan menjiplak bisa merugikan, bahkan mencederai suatu institusi atau bangsa.

Kita tentu tak mau disebut sebagai kreator yang cuma bisa menjiplak. Kalaupun ingin mengutip, ada cara yang lebih elegan. Yakni, menyebutkan sumbernya. Kita bangsa yang beretika. Salah satunya, etika dalam menghargai karya diri sendiri dan orang lain. Apa artinya karya kita dipuji orang lain kalau itu merupakan hasil menjiplak.

Graha Pena, 3 Agustus 2010


===================

KARAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi
siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Chairil Anwar (1948)
Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957

THE YOUNG DEAD SOLDIERS DO NOT SPEAK

Nevertheless they are heard in the still houses:
who has not heard them?
They have a silence that speaks for them at night and when the clock counts.

They say, we were young. We have died. Remember us.
They say, we have done what we could but until it is finished it is not done.
They say, we have given our lives but until it is finished no one can know what our lives gave.

They say, our deaths are not ours: they are yours: they will mean what you make them.
They say, whether our lives and our deaths were for peace and a new hope or for nothing we cannot say: it is you who must say this.

They say, we leave you our deaths:
give them their meaning:
give them an end to the war and a true peace:
give them a victory that ends the war and a peace afterwards:
give them their meaning.

We were young, they say.
We have died. Remember us.

Archibald MacLeish  (1941)

Inspirasi

Oleh Eko Prasetyo

”Kita tidak harus menunggu datangnya inspirasi itu. Kita sendirilah yang menciptakannya.”
~Stephen King~

***

”Bagaimana sih cara mendapatkan inspirasi untuk menulis?” Pertanyaan nyaris sama sering terlontar dari peserta seminar atau pelatihan menulis. Terutama, menulis artikel opini di media massa.

Sebagian orang menilai inspirasi dalam menulis sama dengan ide atau gagasan. Namun, jika telaah, inspirasi dan ide berbeda makna. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dua kata itu dijelaskan sebagai berikut.

in•spi•ra•si n ilham
meng•in•spi•ra•si v menimbulkan inspirasi; mengilhami: mudah-mudahan acara historis itu dapat ~ kita untuk tujuan yg lebih mulia dan besar;
meng•in•spi•ra•si•kan v menjadikan inspirasi;
ter•in•spi•ra•si v telah diinspirasi; terilhami

ide /idé/ n rancangan yang tersusun di dalam pikiran; gagasan

Mengacu pemaparan di atas, tampak perbedaaannya. Yakni, ide telah terancang dan tersusun di dalam pikiran, sedangkan inspirasi atau ilham bisa datang kapan saja dan dari mana saja tanpa mesti terancang. Kendati begitu, ternyata bagi sebagian orang mendatangkan inspirasi itu tidak mudah.

Dalam kaitannya dengan menulis, sebuah tulisan yang inspiratif tentu memiliki nilai lebih. Karena itu, seorang redaktur akan sangat mempertimbangkan sebuah tulisan dari nilai tersebut.

Bagaimana menjadikan sebuah tulisan memiliki nilai inspiratif? Sebuah artikel ilmiah di media massa alias opini wajib memenuhi beberapa syarat. Salah satunya, aktualitas. Semakin aktual sebuah tulisan, semakin besar peluangnya untuk dimuat.

Nah, nilai inspirasi perlu diselipkan ke dalam konteks aktualitas tersebut. Hal ini bergantung pada kejelian sang penulis dalam mengambil sudut pandang tertentu (angle). Upayakan untuk menghadirkan angle yang berbeda. Hal ini penting diperhatikan apabila tema yang diambil dinilai bakal diangkat pula oleh banyak penulis. Sebab, persaingan menulis di media sangat ketat. Tentunya, kita juga bakal bersaing dengan banyak penulis ternama.

Kebanyakan penulis pemula mengeluhkan sulitnya ”menembus” media massa. Padahal, mereka mengaku sudah berupaya membuat tulisan yang dianggap bagus. Namun, baca ulang dan telaah lagi tulisan tersebut. Jika sudah memenuhi unsur aktualitas, apakah tulisan itu mampu menginspirasi (mengilhami) pembaca?

Apabila sebuah tulisan dianggap memenuhi unsur aktualitas dan inspiratif, tapi tetap tidak dimuat, apa yang mesti dilakukan? Langkah pertama tentu saja konsisten dan menjaga komitmen untuk tetap menulis, terlepas tulisannya belum bisa dimuat. Kegagalan merupakan cambuk menuju keberhasilan. Bahkan, dari kegagalan itu, kita dapat menghadirkan inspirasi. So, keep writing!

Graha Pena, 3 Agustus 2010
www.samuderaislam.blogspot.com

Menjaring Ide


Oleh Eko Prasetyo

”Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.”
~Imam Al-Ghazali~

***
Menulis itu gampang, yang sulit adalah mencari idenya. Celetukan itu keluar dari mulut seorang wartawan baru. Dia baru saja menjalani pendidikan jurnalistik yang dijadwalkan berlangsung selama tiga pekan. Ketika pemaparan teori dan kiat-kiat berburu berita disampaikan redaktur senior, para wartawan muda itu ngeh. Namun, begitu praktik langsung di lapangan, banyak yang menemui kesulitan. Padahal, mereka hanya ditargetkan menulis satu berita dalam sehari.
Seorang rekan reporter yang kini bertugas di Jakarta pernah mengalami kesulitan serupa. Terutama dalam hal mencari ide untuk tema tulisan keesokan hari. Ya, profesi jurnalis dituntut untuk selalu mengembangkan kreativitasnya. Ibaratnya, wartawan itu tidak boleh kering ide. Tak mudah memang. Namun, itulah dinamika profesi yang membutuhkan intelegensi, integritas, dan daya juang tinggi.
Pernah, suatu ketika sang teman tadi mengalami kegalauan. Gara-garanya, dia dipindah ke pos baru di bidang kesehatan. Padahal, dia kadung klop dengan pos lamanya di bidang kriminalitas. Dia juga telah menjalin hubungan yang sangat baik aparat di pos itu. Karena merasa tak punya pengetahuan dan jaringan yang memadai tentang kesehatan, dia tampak sangat risau. Dia bingung hendak menulis tentang apa. Padahal, kala itu, dia di-deadline untuk setor satu tulisan feature dan dua berita kesehatan dalam sehari.
Panik saja tidak akan menyelesaikan masalah. Diam pun tak dapat mengobati kegelisahannya. Satu-satunya solusi terbaik adalah mengerjakannya, apa pun hasilnya. Dalam posisi ”tertekan” tersebut, dia dituntut untuk mengolah kreativitasnya. Karena ditempatkan di pos kesehatan yang dia sama sekali buta soal itu, mau tak mau dia harus belajar lagi. Terutama, menjaring ide dan menjaganya agar tidak sampai kering.
Di sinilah, setiap orang sangat mungkin mengalami hal serupa dengan si wartawan itu. Dalam kondisi tertentu, seseorang bisa mengalami kekeringan ide. Hal ini tentu akan menjadi masalah besar apabila sudah dekat waktu deadline.
Maka, menjaring ide adalah langkah penting awal yang bakal dialami oleh seorang penulis. Bagaimana kiatnya?
Tentunya banyak sekali kiat untuk menjaring ide. Banyak pula para penulis profesional telah mengungkapkan dan membagikannya dalam berbagai seminar dan pelatihan menulis. Namun, setidaknya saya akan menyederhanakan kiat itu menjadi tiga jenis.
Pertama, membawa buku tulis ke mana pun kita pergi. Hal ini diperlukan karena sebenarnya ide itu berkeliaran di sekitar kita. Tinggal kita bisa atau tidak menangkap ide tersebut dan menjadikannya sebuah tulisan. Nah, buku itu menjadi alat untuk menjaring ide tersebut dan menyusunnya sebagai sebuah kerangka karangan. Dengan adanya kerangka karangan (perencanaan yang tertata), kita bakal lebih mudah menjabarkan tiap-tiap ide menjadi sebuah paragraf demi paragraf.
Kedua, perbanyak membaca. Aktivitas membaca adalah syarat mutlak bagi seseorang yang akan memulai menulis. Seorang penulis yang baik ialah pembaca yang baik pula. Maka, jangan heran banyak orang yang tulisannya seperti pepesan kosong lantaran tidak membaca.
Ketiga, banyak ngobrol. Tampaknya aneh ya? Namun, inilah salah satu kiat yang menunjang seseorang dalam menjaring ide. Dengan ngobrol –yang positif tentunya– bersama banyak orang, banyak tokoh, dan banyak teman, segepok ide bukan hal yang sulit untuk didapatkan.
Sulitnya menjaring ide jangan dijadikan sebuah hambatan. Sebab, pada dasarnya, kita dianugerahi otak dan anggota tubuh untuk tak putus berusaha. Sesulit apa pun suatu masalah, jika kita bersungguh-sungguh untuk memecahkannya, solusi bakal datang menghampiri. Sebagaimana dikatakan oleh Thomas A. Edison, ”Sukses itu terdiri atas satu persen bakat dan 99 persen keringat.”

Graha Pena, 2 September 2010

Fullday School


Oleh Eko Prasetyo

Saya memintai pendapat orang tua murid dan praktisi pendidikan tentang fullday school. Ini terkait dengan masih adanya pro kontra soal konsep fullday. Yang kontra menyebut bahwa fullday school memenjara siswa. Sedangkan yang pro lebih memandang bahwa siswa banyak mendapatkan manfaat di sekolah berkonsep fullday, tentu dengan pembelajaran yang menyenangkan. Berikut kutipan komentar sebagaimana dikutip dari akun Facebook saya.

Fullday benar-benar bisa mencetak anak menjadi anak yang mandiri, pandai bersosialisasi, hebat dalam agama, dan lebih menguasai pelajaran.”
Saptari Winedar, orang tua siswa dan pendidik

”Dua anak saya (kelas 3 SD dan 5 SD) ikut full day school. Yang kelas 1 nanti naik kelas 2 SD juga full day dan itu bagus-bagus saja.”
Mohammad Ihsan, Sekjen Ikatan Guru Indonesia (IGI)

”It’s ok Mas Eko, as long as the school can manage the activities to become the excited ones instead to fatigue them all...”
Nina Feyruzi, guru kelas super SMAN 3 Jakarta

“Anak juga perlu belajar bersosialisasi dengan lingkungan. Mereka perlu mendapat pelajaran bertetangga yang baik, memilih lingkungan yang baik, mengendalikan emosi dalam dunia luar yang heterogen, dsb. Saya rasa, pendidikan seperti itu sulit didapat di sekolah yang sekolah yang cenderung homogen.”
Asep Suhendar, guru SMPN 3 Langkaplancar, Ciamis

Fullday bisa menjadi menjenuhkan/membosankan bagi guru dan siswa kalau guru kurang bervariasi dalam mengajar dan mendidik siswa. Walaupun sekolah kami fullday, tidak melulu pelajaran di bangku kelas terus dari pagi sampai sore. Pagi sampai siang pelajaran reguler seperti sekolah umumnya dan siangnya kegiatan ekstrakurikuler/pelajaran yang santai dan menyenangkan.
Yusuf Mansur, Wakasek SMPIT Nur Hidayah Solo

****

Saat ini, cukup banyak –dan mudah ditemui– pasangan suami istri yang bekerja di kantor. Sedangkan putra-putri mereka ditinggal di rumah. Anak-anak bersekolah mulai pagi hingga siang. Setelah itu, mereka berada di rumah sampai sore tanpa mendapatkan  bimbingan dan pengawasan yang memadai.
Nah, yang membimbing dan mengawasi anak-anak tersebut adalah pembantu rumah tangga. Di sisi lain, tugas mengantar dan menjemput biasanya diserahkan kepada tukang becak langganan. Namun, bagi keluarga yang tidak berpunya dan tidak ada pembantu di rumah, otomatis sepulang  sekolah anak-anak itu terjun bebas ke lingkungan sekitar. Mereka bertemu dengan teman sebaya, bermain di sungai, atau bermain PlayStation (PS). Atau, kalau tidak, mereka akan menghabiskan waktu di depan televisi.
Dengan demikian, dampak negatif yang bakal menimpa perkembangan mental mereka dapat dikalkulasi. Dari kondisi  itu, ditemukan tiga unsur yang ”mendidik” mereka sepulang sekolah sampai orang tua mereka pulang ke rumah. Tiga unsur  tersebut adalah pembantu  rumah tangga, televisi, dan tetangga atau lingkungan. 
Pertanyaannya, sudah layakkah tiga unsur itu diserahi proyek bimbingan dan pengawasan  anak? Apakah para pembantu itu sudah memiliki kualitas sebagai seorang pembimbing yang bagus. Sudahkah mereka dibekali ilmu pendidikan dan  psikologis? Apakah acara  televisi juga aman seratus persen bagi anak-anak kita? Bagaimana pula kualitas lingkungan sekitar.
Jawaban  atas pertanyaan-pertanyaan itu dapat dipastikan mayoritas negatif. Hanya  masyarakat di daerah tertentu yang memiliki tingkat responsif tinggi. Namun, untuk kebanyakan daerah di Indonesia, kondisinya masih sama: tidak kondusif bagi pendidikan anak. Bahkan, kecenderungannya bisa lebih buruk.
Jika demikian, kebutuhan akan sekolah-sekolah yang menyelenggarakan proses belajar mengajar (PBM) sampai sore hari adalah mutlak. Masyarakat mengenalnya sekolah sehari penuh atau fullday school. Dengan sekolah model fullday, pengawasan  dan pembimbingan anak berada di tangan para guru yang secara umum lebih terdidik daripada pembantu rumah tangga. Rata-rata pendidikan para guru sekarang S-1, bahkan tak sedikit yang sudah mengenyam S-2 (pascasarjana).
Menurut praktisi pendidikan A. Munir, jangan sekali-sekali memahami makna fullday semata-mata sebagai risiko penambahan materi pelajaran waktu akibat dari penambahan  materi pelajaran. Karena jumlah mata pelajaran yang lebih banyak daripada sekolah umum, waktu belajarnya ditambah. Jika ini yang dipahami, fullday school akan menjadi beban berat bagi siswa. Mereka akan berada di kelas mulai pagi hingga sore hari. Ini tentu tidak menguntungkan.
Dengan lamanya anak-anak berada di sekolah, para guru bisa mendampingi mereka salat berjamaah, makan siang, bermain, dan aktivitas lainnya sebagaimana kegiatan yang mereka lakukan di rumah. Tentu saja semua aktivitas itu diarahkan pada nilai-nilai pendidikan. ”Belajar sambil bermain” atau “belajar dengan berbuat dan melakukan”-lah yang lebih ditonjolkan.
Selain para guru dan pengelola sekolah, para orang tua adalah pihak berikutnya yang harus dipahamkan soal ini. Jika tidak, mereka akan banyak melakukan protes. Jangan sampai orang tua memasukkan anak mereka ke fullday school karena menginginkan si anak mendapatkan porsi belajar lebih banyak sehingga si anak lebih pintar dibandingkan anak yang belajar di sekolah biasa. 
Pemberian materi pelajaran lebih banyak boleh diberikan, asal dibarengi dengan pembelajaran yang baik dan variatif serta lingkungan sekolah yang kondusif untuk perkembangan sosial emosional anak. Sebab,  anak-anak bukanlah kerangjang sampah.

Graha Pena, 1 September 2010


Letters from Iwo Jima


Oleh Eko Prasetyo

A good film is when the price of the dinner, the theatre admission and the babysitter were worth it
~Alfred Hitchcock~

***
You should see it...” Seolah serempak, beberapa teman merekomendasikan film ini ketika kali pertama tayang di bioskop awal 2007. Premier-nya sendiri dihelat di Nippon Budokan, Tokyo, pada 16 November 2006. Mulai 20 Desember 2006, film berjudul Letters From Iwo Jima ini tayang di Amerika Serikat agar bisa mengikuti Academy Awards 2006.
Saya memberikan nilai empat bintang di antara skala maksimal lima untuk film besutan sutradara Clint Easwood tersebut. Alasannya, selain mampu mengaduk-aduk emosi penonton lewat ketegangan demi ketegangan dari gambaran pertempuran dahsyat di Iwo Jima pada 1944, film drama ini mencoba mengurai sejarah Perang Dunia II. Lebih dari itu, Letters from Iwo Jima layak dan mesti ditonton oleh mereka yang ingin belajar menulis kreatif.
Sisi lain yang unik dari film ini adalah seluruh adegan di Letters from Iwo Jima menggunakan bahasa Jepang, meski film itu buatan Amerika Serikat. Film ini merupakan kelanjutan film Flags of Our Fathers yang mengisahkan pertempuran yang sama di Pulau Iwo Jima. Letters from Iwo Jima dibikin berdasar perspektif Jepang, sedangkan Flags of Our Fathers dari perspektif Amerika Serikat.
Jauh sebelum menonton film ini, saya sering membaca buku-buku tentang Perang Dunia I dan II. Salah satunya, buku Perang Pasifik karya P.K. Ojong (Penerbit Kompas: 2001).
Pesan Menulis
Sesuai dengan judulnya, Letters from Iwo Jima mengambil setting di Pulau Iwo Jima. Tidak ada yang istimewa sebenarnya dengan Iwo Jima. Gersang. Namun, pulau inilah yang dinilai sangat strategis bagi Amerika Serikat untuk menggempur Tokyo dengan menduduki Iwo Jima terlebih dahulu. Jika Iwo Jima jatuh, pulau itu akan dijadikan pangkalan bagi Amerika Serikat untuk melanjutkan serangannya ke Tokyo.
Karena itu, panglima perang Jepang Jenderal Hideki Tojo memerintahkan Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi untuk mempertahankan Iwo Jima. Namun, Operasi Detasemen atau yang dikenal dengan pertempuran Iwo Jima justru menjadi titik balik kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.
Perang Iwo Jima bisa disebut perang tak seimbang. Sebanyak 20 ribu tentara di bawah komando Letjen Kuribayashi harus melawan 100 ribu lebih personel AD, AL, dan AU Amerika Serikat. Berkecamuknya perang Iwo Jima membawa kerugian besar di kedua pihak. Di antara sekitar 20 ribu tentara Jepang, hanya 1.083 yang ditemukan hidup dan ditawan AS. Sedangkan AS kehilangan sekitar 20 ribu tentara yang gugur di Iwo Jima (Perang Pasifik: 2001).  
Letters from Iwo Jima mengalir lewat pandangan dua tokoh. Yakni, Saigo, seorang prajurit rendahan dan Letjen Kuribayashi, sang komandan. Selama bertugas di Iwo Jima, dua tokoh itu selalu terkenang kepada keluarganya. Di antara usaha mereka untuk bertahan hidup, mengalirlah ucapan-ucapan cinta pada keluarga melalui surat-surat yang mereka tuliskan berteman remang cahaya.
Saigo selalu mengawali suratnya dengan menyebut nama istrinya, Hanako. Sedangkan Letjen Kuribayashi yang diperankan oleh aktor Jepang Ken Watanabe mengawali tulisannya dengan menulis nama anak lelakinya, Taro. Menjelang pertempuran ”penghabisan”, para prajurit Jepang, termasuk Letjen Kuribayashi menuliskan surat-surat yang berisi kerinduan kepada keluarga dan sanak famili mereka. Surat-surat itu dimasukkan ke dalan kantong-kantong yang disediakan di dalam terowongan. Letjen Kuribayashi memerintahkan Saigo untuk menyimpannya.
Kuribayashi akhirnya gugur dalam pertempuran yang hebat itu. Sedangkan Saigo dikisahkan tertawan oleh pasukan Amerika Serikat. Film tersebut ditutup dengan adegan penemuan kantong yang berisi surat-surat para tentara Jepang pada 2005. Satu per satu surat usang itu jatuh, membawa tangkup cinta yang sangat besar untuk keluarga di rumah, yang terpisah jauh dari Iwo Jima.
Perang memang menjanjikan kekejaman, kehancuran, dan hanya menyisakan kesedihan. Namun, masih ada sisi humanisme yang terpancar dari tiap peperangan. Orang tentu tak menginginkan perang terjadi. Namun, obsesi berkuasa dari segelintir pemimpin terkadang menjadi penyebab berkecamuknya perang.
Pesan lainnya, Letters from Iwo Jima menunjukkan bahwa kegiatan menulis setidaknya mampu mengobati kerinduan terhadap orang-orang terdekat dan terkasih. Menulis itu menyembuhkan. Sebagaimana dituliskan oleh Saigo dalam sebuah adegan. ”Hanako, aku tidak tahu surat ini akan sampai atau tidak kepadamu. Tapi, setidaknya, menuliskannya sudah cukup menghiburku…”

Graha Pena, 31 Agustus 2010

Karakter No Action Talk Only

Oleh Eko Prasetyo

”Children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them.”
(Anak-anak tidak pernah pandai mendengarkan apa yang dikatakan para orang tua atau guru, tetapi mereka tidak pernah gagal dalam meniru mereka)
~James Baldwin~

*****

Sebuah buku lawas –agak butut karena sebagian sampulnya sobek– menarik perhatian saya. Sampul depannya didominasi warna merah dan ilustrasi seorang lelaki dengan topi khas Rusia memegang pistol. Jika beruntung, buku jadul seperti itu bisa didapatkan di toko buku bekas.

Judulnya Mati Ketawa Cara Rusia. Buku berisi banyolan khas Negeri Kamerad itu disunting oleh Zhanna Dolgopolova. Di Indonesia, buku tersebut diterjemahkan dan diterbitkan kali pertama pada 1983 oleh Grafiti Press dari Grup Tempo.

Sayang, buku itu kini jarang ditemukan di toko-toko buku. Padahal, isinya sangat bagus. Bahkan, bisa dikatakan cukup relevan dengan kejadian terkini di Indonesia. Berikut salah satu kutipannya.

Alkisah di Rusia (saat masih bernama Uni Sovyet), seorang tokoh Partai Komunis Sovyet selalu berorasi untuk mengedepankan gotong royong dan bahu-membahu dalam mendorong kemajuan partai.

Suatu hari dia berkunjung ke sebuah daerah di pedalaman Siberia. Namun, terjadi kecelakaan yang mengakibatkan mobil yang ditumpanginya terperosok ke dalam sebuah genangan lumpur.

Kebetulan ada beberapa penduduk di dekat tempat kejadian. Mereka segera mengerumuni mobil tersebut.

”Kalian kenal saya kan?” tanya sang politikus.
”Kenal Kamerad.”
”Kalian sering mendengar pidato saya, kan?”
”Benar Kamerad.”
”Nah, sekarang kalian menunjukkan apa yang kalian pelajari dari pidato saya.”
”Baik Kamerad.”

Dengan tetap sambil mengerumuni mobil tersebut, para penduduk pun berteriak. ”Dorong...dorong...” Namun, mereka tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
”Apa yang kalian lakukan, kenapa hanya berteriak saja tanpa melakukan apa-apa?” tanya sang politikus heran.
”Kami hanya melakukan apa yang Kamerad contohkan kepada kami,” jawab para penduduk serempak.

*****
Cerita tersebut menyiratkan seorang pemimpin yang hanya bisa melontarkan wacana, tanpa bisa mencontohkan dengan tindakan. Hal ini pula yang dikhawatirkan terjadi –dan sudah terjadi– di beberapa aspek, terutama pemerintahan kita.

Banyak pihak yang berkoar-koar menyuarakan tindakan antikorupsi, tapi justru terlibat kasus korupsi. Hal ini juga terjadi di dunia pendidikan kita. Larangan merokok digemakan di lingkungan sekolah, namun justru ada guru yang merokok kebal-kebul di ruang kelas.

Sebagaimana ditekankan Ki Hadjar Dewantoro, tokoh pendidikan nasional sekaligus pendiri Taman Siswa, pendidikan merupakan salah satu penentu kemajuan dan karakter bangsa. Karena itu, guru hendaknya tidak hanya piawai menyampaikan teori dalam kegiatan belajar mengajar, tapi juga memberikan contoh yang baik kepada para anak didik.

Guru merupakan profesi mulia yang kedudukannya sangat tinggi, meski –tak jarang– pengorbanan mereka tak sebanding dengan penghargaan yang didapatkan. Maka, sudah sepantasnya pemerintah serius meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di negeri ini. Termasuk, kompetensi para guru.

Sebab, di tangan merekalah nanti akan lahir generasi pemimpin bangsa. Generasi yang diharapkan memiliki karakter tegas yang mampu membawa bangsa ini lebih maju dari berbagai bidang. Jangan sampai anak didik kita berkarakter no action talk only, yang hanya bisa berwacana tanpa dapat memberikan contoh nyata. Semoga!

Graha Pena, 30 Agustus 2010

Doa Kami Sepanjang Hari

Oleh Eko Prasetyo

Sejak puluhan tahun lalu hingga kini, ibu masih setia bangun pagi sebelum fajar menyingsing. Ia menyiapkan bahan dan mengolahnya menjadi penganan kecil.

Selanjutnya, aneka kue itu ia titipkan di warung-warung, termasuk kantin sebuah sekolah. Ya, ibu bekerja sebagai penjual kue dan sesekali membuat pesanan tetangga.
Lewat itu pula, ibu membantu penghasilan bapak yang mencari rezeki sebagai sopir. Soal penghasilan, jangan tanya. Yang penting cukup untuk menghidupi mereka dan kami, tiga anaknya.

Tak jarang, ibu mendapatkan protes karena telat mengirimkan pesanan. Tak jarang pula, beliau menerima pujian atas hasil jerih payahnya yang terkenal enak dan murah itu. Dari kue-kue bikinannya, kadang saya dan adik-adik memperoleh lembaran rupiah untuk jajan.

Sedangkan bapak kini lebih banyak berada di rumah. Usia tak bisa dibohongi, ia mengaku sudah tak kuat lagi menginjak pedal gas, kopling, dan rem untuk mengemudi jarak jauh. Saya ingat betul pernah ikut mengerneti bapak dari Jakarta ke Surabaya. Saat itu saya masih kuliah di Kota Pahlawan. Karena itu, sekalian pulang ke Surabaya, saya numpang dan menjadi kernet baginya. Meski, ia tentunya punya kernet.

Saya menyaksikan bapak sesekali menyeka keringatnya dengan handuk kecil dan saya duduk di samping pintu depan bus. Sesekali kali pula matanya tampak menahan kantuk karena mengemudi jarak jauh. Sebotol kecil air mineral berisi kopi menemani bapak di samping kemudi. Dengan hasil menginjak pedal gas dan rem itulah, saya bisa kuliah. Ini tentu akan saya ingat sampai mati, tentang kebaikan mereka: ibu dan bapak.
***
Sabtu, 28 Agustus 2010, saya mendapatkan kesempatan menjadi salah satu juri dalam Festival 1.000 Anak Yatim Menulis di gedung DBL Arena Surabaya. Acara itu dibuka langsung oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan diliput banyak media. Pada acara yang terhitung pertama di Indonesia (karena melibatkan anak yatim menulis) itu, ada 99 karya terbaik yang akan dibukukan.

Kegiatan tersebut juga didukung juri dari kalangan guru dan teman-teman dari Forum Lingkar Pena Jatim. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada seorang novelis yang mengundang saya sebagai salah satu juri. Sebab, saya bisa berinteraksi langsung dan belajar banyak pada anak-anak yatim piatu itu.

Ada dua tema yang diusung dalam festival tersebut. Yakni, merajut impian dan surat untuk ayah. Sebelum memulai berlomba, ribuan anak-anak yatim se-Jawa Timur itu mendapatkan pengarahan dan tip menulis dari Bunda Silvi dan Kak Maya, keduanya adalah aktivis Forum Lingkar Pena.

Ketika acara menulis dimulai, saya meninjau dan melihat mereka, anak-anak itu, menuangkan imajinasinya. Ternyata saya tak sekadar melihat imajinasi ala anak-anak yang rata-rata usia SD dan SMP itu.
Saya menyempatkan membaca salah satu karya dari Dian Novita, 13, peserta dari Surabaya. Karyanya lolos dan layak untuk dibukukan. Dia mengambil tema surat untuk ayah, yang juga ia jadikan judul karyanya.

Dia menumpahkan kerinduannya kepada bapak dan ibunya. Ya, Dian telah ditinggal sang bapak yang wafat setelah menderita penyakit liver. Si ibu menyusul ke alam kubur sekian tahun kemudian.

”Bapak, sekarang aku sudah SMP dan mencuci bajuku sendiri. Aku pengen jadi guru. Mengajarkan mereka ilmu dan membuka jendela dunia. Doakan ya Pak biar aku bisa menggapainya. Aku pengen bikin Bapak bangga sama aku.” (Surat untuk Ayah, Dian Novita)

Itulah sepenggal kalimat dari karya Dian. Jujur dan polos. Saya turut mendampinginya saat briefing bersama tim juri lainnya. Saya sempat bertanya tentang bapak dan ibunya. Belum sempat menjawab, mata Dian tampak menyimpan mendung. Seperti hendak menumpahkan kesedihannya. Saya lalu mengalihkan pembicaraan dan memuji tulisannya. Jujur, saya sangat tersentuh dan nyaris menumpahkan air mata setelah membaca karya lengkap Dian tersebut.

Ia hendak menjadi guru untuk membuat bapaknya bangga. Saya menyemangati Dian untuk mengasah bakat menulisnya dan mengejar cita-citanya tersebut.

Seusai kegiatan, saya menyempatkan berkirim pesan pendek ke bapak dan menanyakan kabarnya. Beliau menjawab baik dan sehat, demikian pula ibu. Kami mengobrol singkat. Namun, itu lebih dari cukup untuk membendung kerinduan saya kepada mereka. Sebab, Lebaran tahun ini, saya tak bisa pulang untuk menengok mereka, orang-orang baik yang membesarkan saya dan adik-adik.

Kendati demikian, doa selalu kami panjatkan kepada mereka sepanjang hari. Terima kasih saja mungkin tak cukup. Tapi, seperti halnya Dian, saya juga ingin membuat mereka bangga. Kendati, saya belum bisa memberikan apa-apa untuk mereka. Dan apa-apa itu pun mungkin tidak akan bisa membalas kebaikan mereka. Semoga Allah melindungi dan menjaga mereka dengan cinta-Nya.

*)Terima kasih untuk Yayasan Al Madina dan FLP Jatim atas kesempatan ini.

Graha Pena, 29 Agustus 2010
www.samuderaislam.blogspot.com

The Power of Kepepet


Oleh Eko Prasetyo

Every point is a game point!
~Rudi Hartono~ (mantan juara dunia bulu tangkis asal Indonesia)

***
Judul artikel ini menukil judul buku yang ditulis Jaya Setiabudi, entrepreneur dan motivator muda sukses. Berkat kepepet, dia terdorong untuk menerjuni dunia wirausaha hingga akhirnya menjadi pebisnis muda, yang disejajarkan dengan tokoh seperti Renald Khasali. Tulisan ini sendiri ditujukan bagi penulis pemula yang merasa bingung memulai tulisan dari mana.
Sebelum mengupas lebih jauh, kita perlu tahu apa sih kepepet itu? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV memberikan penjelasan sebagai berikut.

ter·pe·pet v 1 terimpit; terjepit; 2 terdesak (ke pinggir atau sudut); 3 ki berada
dalam keadaan kacau atau sukar; tersudut (tentang menghadapi persoalan)
ke·pe·pet v terpepet

Menurut Jaya Setiabudi, ada dua kondisi yang membuat orang bertindak. Yaitu, keinginan yang kuat dan keadaan kepepet. Hal senada dikatakan praktisi pendidikan Mugito Duido. Dia menyebut, motivasi itu sifatnya suatu iming-iming. Ia lama-kelamaan bisa pudar (fading out), lalu hilang. ”Kita tahu manfaatnya dan tahu itu penting, tapi sering ogah melaksanakannya,” tuturnya.
Nah, apabila motivasi masih tidak dapat mengubah diri kita, diperlukan upaya yang lebih keras. Dongkrak atau doping dengan kondisi kepepet!
***
Abdullah Munir, penulis buku best seller Spiritual Teaching, mengisahkan sebuah pengalamannya ketika dipercaya untuk mengelola sebuah sekolah Islam di Jogjakarta. Dia mengaku agak gamang. Pasalnya, dia masih kuliah waktu itu alias belum lulus. Hal serupa dialami beberapa temannya yang mendapatkan tawaran sama.
Munir kala itu telah menyelesaikan beberapa konsepnya dan mampu menerapkannya dengan baik. Namun, di sisi lain, dia tak mau membohongi orang tua murid karena dirinya belum lulus pendidikan S-1. Dia kepepet. Namun, hal itu justru mengilhami dia untuk menelurkan ide. Yakni, menaruh gelar CSPd untuk calon sarjana pendidikan dan CSAg untuk calon sarjana agama di belakang nama mereka yang belum lulus S-1.
”Dengan begitu, kami merasa tak terbebani dan tak membohongi orang murid,” tulisnya dalam Catatan Cinta Seorang Guru.
***
Bagi penulis pemula, mengemas ide dan menguraikannya dalam bentuk tulisan bukan pekerjaan yang mudah. Mereka bisa saja duduk berjam-jam di depan komputer tanpa menghasilkan satu lembar tulisan pun. Padahal, mereka mungkin pernah atau sering mendapatkan motivasi dari para penulis profesional lewat seminar atau pelatihan menulis.
Namun, seperti dijelaskan pada paragraf sebelumnya, obat yang bernama motivasi bisa hilang. Maksudnya, ketika di dalam kelas mengikuti seminar menulis, otak kita bisa terus-menerus mengingatnya. Namun, saat berada di luar, motivasi tersebut bisa pudar.
Maka, kepepet adalah salah satu solusi untuk mengatasi kesulitan itu. Bagaimana caranya? Bisa dengan membuat deadline untuk diri sendiri. Misalnya, menulis satu lembar artikel bebas dalam waktu setengah jam atau satu jam. Ciptakan kondisi kepepet itu. Yakni, mau tak mau harus bisa! Mau tak mau harus nulis satu lembar dalam waktu yang sudah ditentukan. Ketika belajar, jangan bicara kualitas, itu belakangan.
Bingung cari judul? Itu belakangan juga, yang penting nulis dulu. Judul bisa didapatkan ketika proses menulis. Dengan menciptakan kondisi kepepet, kita ditantang harus bisa memecahkan masalah.
Kita bisa belajar pada Rudi Hartono. Ketika ditanya apa yang membuat dia menjadi juara, Rudi menjawab: ”Every point is game point!” Artinya, dia menciptakan tekanan pada dirinya sendiri untuk meyakinkan dan menumbuhkan keyakinan kuat bahwa dirinya harus bisa (menang). Terbukti, prestasi Rudi Hartono dikenang sepanjang masa dalam dunia olahraga bulu tangkis dan nama Indonesia pun terangkat. Jika dia bisa, kita juga bisa.

Graha Pena, 29 Agustus 2010

Emas di Tangan Penulis

Oleh Eko Prasetyo


Menulis akan selalu membuat kita ”kaya”.
~Helvy Tiana Rosa~ (penulis, pendiri Forum Lingkar Pena)

***
Pada edisi 24 April–21 Mei 2008, majalah Adil merilis lima nama penulis terkaya di Indonesia. Tempat pertama diisi Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi, yang disebutkan meraup Rp 2,5 miliar. Disusul Habiburrahman El Shirazy –penulis novel laris Ayat-Ayat Cinta– yang mendapatkan penghasilan Rp 1,5 miliar. Berikutnya berturut-turut ada nama Kinoysan, Asma Nadia, dan Helvy Tiana Rosa.
Majalah Adil tidak menyebut apakah pendapatan lima penulis Indonesia itu diperoleh per bulan atau per tahun. Hanya Kinoysan yang disebutkan mendapatkan kocek Rp 90 juta per tiga bulan.
Pada tahun ini, Andre Hirata dan Habiburrahman masih bertengger di tangga teratas penulis best seller Indonesia. tidak banyak berubah. Hanya posisi ketiga dan kelima yang berubah.Tempat ketiga diduduki Ahmad Fuadi dengan karya apiknya, Negeri 5 Menara. Selanjutnya, ada nama Asma Nadia dan Dewi ”Dee” Lestari yang menelurkan novel populer Perahu Kertas dan Rectroverso (http://serujadiguru.blogdetik.com). Pada novel terbarunya, Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas, Andre Hirata bahkan seakan belum tertandingi oleh penulis lain Indonesia. Wajar jika dia tetap anteng di posisi paling atas deretan penulis terkaya Indonesia.

Jika kuseduhkan kopi, ayahmu menghirupnya pelan-pelan lalu tersenyum padaku”. Meski tak terkatakan, anak-anaknya tahu bahwa senyum itu adalah ucapan saling berterima kasih antara ayah dan ibu mereka untuk kasih sayang yang balas membalas, dan kopi itu adalah cinta di dalam gelas.” (Cinta di Dalam Gelas, Andrea Hirata)

Selain meraup pundi-pundi rupiah dalam jumlah ratusan juta, para penulis potensial itu berperan menggairahkan kembali dunia buku di negeri ini. Khususnya, menyedot animo masyarakat untuk membaca. Langkah tersebut tentu saja positif, mengingat budaya membaca di Indonesia belum bisa dikatakan baik.
Tak ayal, para penulis tersebut bak menggenggam emas di tangan mereka –selain tentu saja tangan mereka adalah emas. Andrea Hirata, misalnya. Novelnya bakal merambah dunia. Sebab, Penerbit Bentang Pustaka telah menandatangani kerja sama dengan Amer-Asia Books Inc dari Tucson, Arizona, Amerika Serikat. Amer-Asia Books Inc bakal menjadi agen dan memegang lisensi untuk penerbitan tetralogi Laskar Pelangi di luar Indonesia.
Selain itu, Andrea mendapatkan beasiswa menulis di Iowa University, Amerika Serikat. Dia termasuk salah satu di antara 13 orang dari berbagai negara yang mendapatkan kesempatan emas tersebut. Beasiswa itu didapatkan berkat novel Laskar Pelangi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, The Rainbow Troops. Selain itu, film berjudul sama dengan novel tersebut telah ditonton oleh sekitar 4,5 juta penonton. Prestasi itulah yang membuat kedutaan besar AS memberikan beasiswa menulis kepada novelis yang juga karyawan PT Telkom tersebut. Kontan, tangan emas si penulis bak menggenggam emas.
Emas di tangan penulis juga dialami Asma Nadia. CEO Forum Lingkar Pena Publishing itu mashyur lewat karya best seller-nya, Catatan Hati Seorang Istri dan kumpulan cerpen Emak Ingin Naik Haji.
Berkat menulis, Andrea Hirata, Habiburrahman, Asma Nadia, dan Ahmad Fuadi bisa memperoleh kekayaan. Lebih dari itu, mereka memberikan suntikan motivasi kepada masyarakat dan jutaan remaja Indonesia untuk membuka jendela dunia lewat tulisan.
Kekayaan memang bukan melulu soal materi. Seperti dikatakan Helvy Tiana Rosa, kakak kandung Asma Nadia, bahwa ada ”kekayaan” sejati yang bisa diperoleh penulis. Bentuknya bisa saja kepuasan seperti ketika Helvy rajin menyumbangkan royaltinya untuk kegiatan sosial.
Terlepas dari itu, seorang penulis tetap akan kaya. Jikalau belum menggenggam emas, tangan mereka adalah emas. Lewat pena seorang penulis, berbagai informasi, ilmu pengetahuan, dan manfaat terlahir lewat tangannya. Maka, tak salah bila menulis perlu ditanamkan sejak kecil kepada anak-anak kita. Minimal, itu dapat bermanfaat bagi mereka sebelum memberikan manfaat kepada orang lain.

Graha Pena, 27 Agustus 2010