Dengan Jilbab, Cantik di Dunia dan Akhirat



Oleh: Eko Prasetyo

Berkah terbesar dari Allah SWT adalah iman dan hidayah. Salah satu di antaranya adalah hijab. Tidak ada anugerah dan pertolongan terhadap seorang perempuan yang lebih besar daripada petunjuk dan hijab. Allah SWT berfirman: ”Janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang nampak daripadanya” (QS An-Nur: 31).

Betapa indah Islam mengatur segala sesuatu bagi kemaslahatan umat manusia. Jikalau mau disadari dan dipahami, peraturan dan perintah Allah itu diberikan untuk kebaikan hamba-Nya sendiri. Tak terkecuali, perempuan. Diperintahkan, seorang muslimah harus menghijab dirinya dengan sempurna. Karena itu, berjilbab menjadi wajib hukumnya bagi setiap akhwat atau perempuan muslim.

****

Akhir 2007 membawa kenangan tersendiri bagi saya pribadi. Ketika itu, di beberapa wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah dilanda banjir hebat. Penyebabnya, Sungai Bengawan Solo meluap. Memang, meluapnya sungai tersebut disebabkan hujan yang tak kunjung reda hingga berhari-hari waktu itu. Tak pelak, wilayah sekitar sungai tersebut bisa dipastikan terendam banjir.

Hanya ada satu pintu air untuk Bengawan Solo, yakni di Jawa Tengah. Karena itu, beberapa daerah di Jatim yang dialiri sungai tersebut kena dampak banjir yang merupakan bencana akhir tahun itu. Selain Solo, Blora, dan Cepu, beberapa kota di Jatim seperti Ponorogo, Ngawi, Magetan, Madiun, Trenggalek, Tuban, dan Lamongan dilanda banjir besar. Namun, yang tak bisa saya lupakan hingga sekarang adalah banjir di Bojonegoro.

Bantuan makanan dan obat-obatan dari para donator segera dikerahkan di wilayah-wilayah tersebut. Sayang, saya tak bisa menjangkau ke Kota Bojonegoro yang dua pertiga wilayahnya kena banjir paling parah. Pasalnya, akses masuk ke kota itu sulit karena jalan masuk ke sana di Lamongan dan Tuban juga dilanda banjir parah.

Evakuasi terhadap warga yang menjadi korban banjir intens dilakukan. Di daerah yang sulit terjangkau tim relawan dari sipil dan militer, beberapa warga terpaksa mengevakuasi anggota keluarga mereka sendiri. Hujan yang turun berhari-hari, ditambah meluapnya Bengawan Solo, membuat rumah-rumah warga korban banjir hanya terlihat gentingnya.

Banjir luapan Bengawan Solo menyisakan kisah mengharukan. Seorang rekan wartawan merekam kisah seorang korban. Yati, seorang ibu asal Cepu, berhasil menyelamatkan dua anaknya dengan menumpang perahu milik tetangganya. Selain kedua anaknya, dia sempat membawa seekor kambingnya. Nahas, perahu yang mereka tumpangi diterjang arus deras dan terbalik ke sungai. Bisa menguasai diri, Yati berupaya mengejar kedua anaknya yang terbawa arus sungai. ”Saya teriak-teriak minta tolong dan terus menyebut asma Allah, tapi tidak ada yang menolong. Saat itu sekitar pukul 23.30,” tuturnya.
Beruntung, lanjut Yati, anaknya tersangkut di tanaman yang dia sendiri tidak tahu apa namanya sehingga dapat dia gapai. Sedangkan kambingnya terus meluncur bersama derasnya air dan hanyut ke Bengawan Solo.

Bencana banjir akibat luapan Bengawan Solo akhir tahun lalu benar-benar dahsyat. Namun, di Bojonegoro itulah saya tak henti mengucapkan tasbih. Seorang ibu paro baya yang terjebak di area banjir berhasil menyelamatkan diri setelah bergantung di potongan kayu. Ketika bisa diselamatkan oleh warga, sang ibu itu tak membawa apa-apa kecuali Alquran kecil dengan tetap memakai jilbab besar meski basah kuyup. ”Saya sudah pasrah ketika itu,” akunya.

Subhanallah, berjuang saat menghadapi maut, ibu itu masih sempat menyelamatkan Alqurannya. Dalam kondisi bertaruh nyawa, beliau pun mampu bertahan dengan kehormatannya sebagai muslimah: memakai jilbab. Kejadian-kejadian tersebut tidaklah kecil dan sederhana jikalau kita menangkapnya sebagai sebuah pertanda kebesaran Allah.

***

Dalam berbagai kesempatan, entah di kampung, mal, pasar, kampus, ataupun kantor, saya banyak mencatat hal yang kontradiktif di sekitar. Hal tersebut adalah masalah jilbab. Di negara yang mayoritas warganya adalah muslim ini, jilbab masih dipandang sebagai pelengkap atau aksesori dalam berbusana bagi perempuan. Gaya hidup glamor ala Barat ditambah pemahaman terhadap agama yang kurang membuat sebagian masyarakat memandang sebelah mata masalah jilbab. Tak heran, masih banyak perempuan muslim mengenakan jilbab, tapi lekuk tubuhnya masih terlihat. Masya Allah.

Saya sangat tidak sependapat bahwa busana muslimah itu harus fashionable atau mengikuti mode. Sebab, hal ini bisa mengaburkan esensi kewajiban berjilbab. Bila ini terjadi, perempuan bisa mengenakan jilbab sambil memakai kaus dan celana ketat. Astagfirullah. Ini sudah banyak terjadi di masyarakat kita. Mulai remaja putri, mahasiswi hingga ibu-ibu. Padahal, jilbab secara sempurna adalah keharusan bagi seorang muslimah, bukan pilihan. Dalam Alquran Allah SWT berfirman: ”katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya..” (QS Al-Ahzab: 59).

Pengalaman ibu berjilbab besar yang selamat dari musibah banjir Bojonegoro tadi adalah salah satu contoh bagaimana seharusnya seorang perempuan menjaga kehormatannya. Jangan lagi perempuan memperturutkan keindahan nafsu dan ego dengan memakai pakaian secara serampangan yang memamerkan tubuhnya. Apa artinya dipuji karena memamerkan tubuh indah jika itu sangat dimurkai Allah SWT.

dimuat: Eramuslim (17 Juni 2008)

Komplain Seorang Guru

Kilas: Eko Prasetyo

Pada 16 September 2008, Indonesia berkabung atas tewasnya 21 orang yang antre zakat di rumah H Syaikhon di Pasuruan. Demi mendapatkan Rp 30 ribu, mereka rela berdesakan, pingsan, bahkan hingga kehilangan nyawa. Bersamaan dengan kejadian itu, saya menerima e-mail tentang pendapat seorang guru SMP swasta di Surabaya.

Beliau menyampaikan keprihatinannya bahwa banyak guru di sekolah swasta atau negeri yang bukan berasal dari jalur kependidikan (SPd). Secara tegas, beliau mengatakan tidak setuju (bisa disebut tidak rela) bila guru berasal dari non kependidikan.

"Bedakan antara mengajar dan mendidik. Pokoknya, guru harus dari sarjana pendidikan," tuturnya.

"Iya, saya tahu esensinya, Pak. Tapi, banyak kita temukan bahwa kompetensi seorang guru lulusan non kependidikan tidak kalah dengan mereka yang bergelar SPd," jawab saya.

Saya lantas berkisah tentang dua rekan saya. Si A adalah lulusan pendidikan (SPd), sedangkan si B seorang sarjana sastra. Kedua-duanya memiliki pengetahuan dasar dan skill mengajar hampir sama baiknya. Saat melamar di sebuah sekolah internasional di Surabaya, si A tidak diterima. Sedangkan kawannya (si B) diterima meski dia tidak memiliki akta mengajar. Alasannya, selain dinilai mampu, si B menguasai bahasa Inggris, inilah yang tidak dikuasai oleh si A.

Saya pikir, guru dari sarjana pendidikan bukan harga mati. Artinya, seseorang yang bukan berasal dari jalur kependidikan pun bisa menjadi seorang guru. Jangan jadikan sarjana pendidikan atau bukan sebagai jurang pemisah. Meski demikian, perlu kebijakan dalam menyikapi masalah tersebut.

Jika saya ingin menjadi guru tapi tak punya akta mengajar, apakah saya akan putus asa dan meratapi mengapa dulu tidak mengambil jurusan kependidikan? Tidak!!! Mungkin, Anda tahu alasannya.


Graha Pena, 16 September 2008
Eko Prasetyo
(bias kutangkap kaki malam, sehening salma kucium aroma parasmu)

Indahnya Ikhlas

Oleh: Eko Prasetyo

Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah, ”Ya Rasulullah, seseorang melakukan amal (kebaikan) dengan dirahasiakan dan bila diketahui orang dia juga menyukainya (merasa senang).” Rasulullah Saw berkata, ”Baginya dua pahala, yaitu pahala dirahasiakannya dan pahala terang-terangan.” (HR. At Tirmidzi).

Perbuatan ikhlas sering diingatkan oleh Rasulullah SAW seperti termaktub dalam hadis di atas. Indahnya berbuat ikhlas adalah balasan pahala dari Allah SWT. Rasulullah telah mencontohkan berbagai amal baik, termasuk berbuat ikhlas. Yakni, perbuatan yang didasari atas niat karena Allah, bukan mencari pujian dari orang lain.

***

Surabaya baru saja diguyur hujan sore itu. Sembari menyelesaikan pekerjaan, saya menyeruput secangkir kopi untuk menghangatkan badan. Belum banyak naskah berita yang masuk, tiba-tiba saya tertegun saat membaca pengalaman Pak Utomo. Pria paro baya itu dikenal sebagai sosok pimpinan yang tegas di instansi tempatnya bekerja.

”Hidup itu disiplin,” tegasnya. Ya, saya sependapat. Disiplin dalam banyak, termasuk beribadah kepada Allah SWT dan bersyukur atas nikmat-Nya. Pak Utomo menuturkan bahwa doa adalah hal yang utama dalam hidupnya. Melalui doa, dia mengatakan merasa dekat dengan Allah.

Saya berdecak kagum ketika dia memaparkan pengalamnnya saat dia menunaikan haji di tanah suci pada 2004 bersama istri. Di sana, dia mengaku mendapatkan perjalanan religi yang tidak akan bisa dilupakan seumur hidupnya.

Ketika tawaf mengelilingi Kakbah, dia bercerita bahwa posisinya sedang bersebelahan dengan istri yang selalu dipanggilnya umi tersebut. Entah pada putaran tawaf yang keberapa, tiba-tiba istrinya menghilang. Takut istrinya terinjak-injak orang yang datang dari berbagai penjuru dunia, dia pun menghentikan langkah, menoleh ke sekeliling. Namun, usaha tengok kanan-kiri tidak membuahkan hasil. Istrinya tak terlihat.

Bingung tidak tahu apa yang mesti dilakukan, Utomo akhirnya memilih pasrah dan melanjutkan tawaf. ”Waktu itu saya hanya doa, semoga Engkau melindungi Umi ya Allah! Nggak kepikiran doa, apalagi karena desak-desakan, saya langsung jalan memutari Kakbah, tawaf lagi,” ceritanya.

Selesai tawaf, tidak tahu datang dari arah mana, istrinya telah berada di sebelahnya kembali. Kaget, Utomo lalu tak henti mengucap syukur. Tiba di hotel, dia pun merenung atas peristiwa tersebut. Dari situ dia sadar bahwa Allah sedang menguji keikhlasannya. ”Saya seolah dapat pencerahan. Semua yang ada hanyalah milik-Nya. Manusia harus mengikhlaskan jika suatu saat apa yang dimiliki diambil oleh yang punya,” ucapnya. Subhanallah.

Gerimis belum juga bosan menyapa Kota Pahlawan. Alhamdulillah, satu hikmah lagi, satu ilmu lagi. Kembali bekerja, semangat menggelayuti hati saya di tengah dinginnya cuaca. Bersyukur, inilah pelajaran kesekian yang saya catat sore itu. Ketika negeri ini diteror oleh keserakahan dan kesombongan, mudah-mudahan sikap ikhlas mampu kita terapkan dalam segala aspek kehidupan, tanpa jenuh menghadapi waktu. Wallahu ’alam.

Graha Pena, akhir Oktober 2008
(saat hujan gerimis, kucium mesra kesunyian di balik kaca kantor)

Jika Aku Jatuh Cinta




"Ya Allah, karuniailah aku dengan
cinta kepada-Mu
cinta kepada orang-orang yang mencintai-Mu
cinta kepada orang-orang yang mendekatkan aku akan cinta-Mu
Jadikanlah cintaku kepada-Mu lebih dari diriku sendiri
dan dari kecintaanku akan air yang sejuk"

Keteladanan Laskar Pelangi




Oleh: Eko Prasetyo

DI TENGAH banjirnya sinema dan tayangan televisi yang kurang mendidik, film Laskar Pelangi menggebrak Indonesia. Tak bisa dimungkiri, memang tidak banyak karya sinema di negeri ini yang bisa dipertanggungjawabkan secara estetika, sekaligus dapat menginspirasi penonton.

Film Laskar Pelangi termasuk yang sedikit itu. Film tersebut sangat enak ditonton. Namun, film itu akan lebih bernilai jika sejumlah nilai kearifan yang tersimpan di dalamnya dijadikan inspirasi untuk bekerja keras menghadapi masalah. Tak ada pahlawan dalam film tersebut. Yang ada adalah kisah anak manusia biasa-biasa saja, tapi mereka percaya bahwa mimpi merupakan hak setiap orang. Para tokohnya memilih kerja keras untuk mewujudkan mimpi-mimpinya itu.

Tak jauh berbeda dari filmnya, novel Laskar Pelangi juga menuai sukses besar. Maka, tak berlebihan jika novel itu disebut sebagai fenomena. Asrori Karni (Laskar Pelangi: The Phenomenon, 2008) mengungkapkan, ada empat alasan mengapa penerbit dan dia menyebut Laskar Pelangi sebagai fenomena.

Pertama, novel tersebut telah menginspirasi jutaan pembacanya. Siapa sangka, gara-gara membaca novel itu seorang mahasiswa di Bandung bernama Nico bertekad menyelesaikan rehab kebergantungannya terhadap obat-obat terlarang. Padahal, orang tuanya sudah putus asa melihat perkembangan anaknya tersebut.

Tidak hanya itu, Nico juga termotivasi, sehingga bertekad menyelesaikan penulisan skripsinya yang terbengkalai selama satu tahun. Ketika Nico membaca novel itu, air matanya berderai seolah membasuh kekerasan hatinya selama ini. Novel Laskar Pelangi membuat Nico terlahir kembali.
Contoh berikutnya, di Cirebon, Jawa Barat, seorang guru honorer di SD Negeri Pamijahan tidak lagi peduli dengan gaji yang dia terima. Selain itu, dia tidak peduli apakah pemerintah akan mengangkatnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sebagaimana yang telah dijanjikan selama ini atau tidak. Dia malu kepada sosok Ibu Muslimah. Laskar Pelangi berhasil membakar semangat guru tersebut untuk fokus kepada siswanya. Dia selalu memotivasi murid-muridnya —yang sebagian besar anak buruh penganyam rotan— untuk bangkit dan bermimpi.

Kedua, novel Laskar Pelangi terjual puluhan ribu eksemplar setiap bulan. Bisa dibayangkan, berapa eksemplar yang terjual dalam setahun. Kenyataannya, novel itu memang dibaca banyak orang. Namun, lebih dari itu, Laskar Pelangi telah menjelma menjadi sebuah kebutuhan. Bahkan, novel tersebut menggambarkan bahwa kita sesungguhnya sedang mencari role model.



Menemukan Keteladanan
Kita adalah bangsa yang saat ini telah kehilangan keteladanan. Di Laskar Pelangi, kita kembali menemukan keteladanan itu lewat sosok Ibu Muslimah. Banyak orang membeli novel Laskar Pelangi bukan semata-mata karena ingin paham tentang sebuah cerita. Lebih dari itu, mereka ingin belajar, menemukan inspirasi, sekaligus ingin bercermin. Laskar Pelangi lebih dari sekadar cerita sastra.

Ketiga, Laskar Pelangi adalah buku terlaris dalam sejarah sastra Indonesia. Fakta itu telah mematahkan anggapan banyak pengamat amatir yang sering berkoar bahwa etos baca orang Indonesia rendah. Nyatanya tidak demikian. Minat baca orang Indonesia sebenarnya cukup tinggi —meski tetap tidak sebanding dengan jumlah populasinya—; dan itu sangat bergantung kepada kualitas bukunya. Karena itu, untuk memupuk minat baca yang sedemikian tinggi, kita sangat berharap agar banyak buku-buku bermutu lahir di Indonesia.

Keempat, Andrea Hirata, sang penulis, dibayar Rp 50 juta untuk berbicara tentang sastra selama 90 menit. Menariknya, itu terjadi di Sumbawa, NTB, pada 4 Agustus 2008. Jamaluddin Malik, sang bupati, merasa tidak rugi meski harus mengeluarkan biaya yang cukup besar. ”Enggak rugi kita,” kata Jamaluddin. ”Itu untuk pendidikan. Itu investasi jangka panjang. Hasilnya memang baru dilihat lama.” (hlm 201).

Dalam bahasa yang cukup menggugah, sang bupati berkomentar tentang kehadiran Andrea Hirata di Sumbawa, ”Laskar Pelangi diharapkan bisa menyemangati warga Sumbawa. Para guru juga bisa menyerap semangat Bu Muslimah.” (hlm 203).

Berhasil Menyihir
Tampaknya, beranjak dari empat hal tersebut, tidak ada yang membantah jika Laskar Pelangi telah menjelma menjadi sebuah fenomena luar biasa. Novel dan sinema itu berhasil menyihir siapa saja. Mulai anak-anak, para orang tua, guru, artis, hingga pejabat. Mereka sadar, bahwa hari ini mereka membutuhkan energi dan semangat baru untuk bisa bangkit.

Ada kesan kuat, mereka menyadari bahwa kemajuan itu harus dibangun dari sebuah keikhlasan dalam memberi pengabdian. Tekad dan kerja keras mewujudkan mimpi itulah kebajikan kisah itu. Para penikmat Laskar Pelangi îtercekamî, karena itu bukan cerita fiktif. Kemiskinan akut dan sepuluh anak yang menolak tunduk kepada keterbatasan tersebut benar-benar nyata. Itu kisah sejati Andrea Hirata dan kawan-kawan yang dikemas secara sastra, yang kemudian difilmkan oleh Riri dengan apik.

Jika Andrea Hirata dan kawan-kawannya menolak menyerah, kita tahu bahwa nilai itulah yang seharusnya diterapkan untuk menangani sejumlah masalah pendidikan di negeri ini. Sebab, di sekitar kita masih ada lebih dari setengah juta anak usia sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) yang putus sekolah. Bangunan sekolah yang memprihatinkan pun masih mudah ditemui di daerah-daerah lain, selain Belitong, setting cerita Laskar Pelangi.

Dari Belitong, kebajikan moral itu telah diajarkan anak-anak yang hidup dalam kemiskinan. Karena itu, kita dan para pemegang kuasa mesti belajar dari mereka.

–– Eko Prasetyo, penulis dan editor, tinggal di Surabaya.

dimuat: Harian Suara Merdeka (22 Oktober 2008)
http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=35821

Degradasi Moral Bangsa Ini

Oleh: Eko Prasetyo

Suatu sore di kantor, saya berbincang dengan salah seorang redaktur senior. Dalam pembicaraan singkat tersebut, saya melemparkan joke tentang kasus salah tangkap polisi terhadap Kemat cs. Diekspos secara gencar di media massa dan elektronik, saya menuangkan pandangan tentang topik tersebut di salah satu surat kabar.

"Isin tenan. Ini kasus yang kesekian," tutur saya kepada redaktur tersebut.

"Tak mengherankan. Sebab, bangsa kita mengalami degradasi moral yang amat akut," timpalnya.

Kata degradasi moral itulah yang saya garis bawahi dan membuat saya merenung agak lama seusai perbincangan tersebut.

Tidak hanya dalam institusi seperti Polri, bahkan segala aspek masyarakat kita pun telah mengalami penurunan moralitas yang kronis.

Dalam kasus salah tangkap itu, betapa polisi sangat ceroboh dalam bertindak. Mereka telah mencederai aturan main yang bahkan mereka buat sendiri. Entah atas alasan ingin kasus tersebut segera tuntas atau mendapat pujian masyarakat luas karena pelaku cepat tertangkap, polisi masih saja menggunakan "cara lama" untuk mengungkap suatu kasus.

Bangsa kita selalu senang menggunakan kata "profesional" dalam setiap motonya. Nyatanya, itu seperti kosmetika belaka. Suka memakai tapi tak paham betul substansinya. Celaka.

Bangsa kita terjebak oleh arus kapitalis. Masyarakat kita kembali diingatkan pada torehan pena pujangga Ronggowarsito: yen ora melu edan, ora keduman (jika tak ikut gila, tak kebagian). Serakah, itulah gambaran bangsa kita sebenarnya.

Jatuhnya moralitas bangsa ini memang tak seheboh terpuruknya pasar finansial global. Namun, perlahan tapi pasti, bangsa ini akan terbawa gaya gravitasi alias menukik.

Kita dengan mudah terlalap iklan. Gaya hidup konsumerisme dan hedonisme nyaris tak terlepaskan dari masyarakat kita. Kita terkungkung pada kemasan, tanpa mengindahkan substansi isi. Beli karena keinginan, bukan kebutuhan, itulah bangsa ini. Orang kita mengaku pintar, tapi mudah diperalat orang asing. Bangsa ini mengaku kaya, tapi kekayaan melimpah itu tidak dinikmati oleh warganya.

Banyak guru yang berteriak atas nama perjuangan hati nurani untuk nasib mereka, tapi mutu pendidikan negeri ini tak kunjung membaik. Kita saling menyalahkan antara birokrasi dan individu tanpa mau instrospeksi terhadap titik kelemahan yang tentu saja mutlak kita miliki. Wajar jika wajah pendidikan bangsa ini begitu buram. Sebanyak 210 juta populasi di Indonesia menjadi salah satu angka terpadat di dunia. Sayang, angka buta huruf, kemiskinan, dan pengangguran tercatat sangat tinggi dibandingkan negara di tingkat Asean saja. Masya Allah.

Allah tak pernah salah membuat takdir atas sebuah bangsa. Sebab, tidaklah nasib suatu kaum itu berubah, kecuali mereka mengubahnya sendiri. Artinya, Allah pun mengajarkan kita mandiri dan tak putus berusaha.

Itu sesuai dengan firman Allah SWT: ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka berusaha untuk mengubah keadaan mereka sendiri.” (Ar-Ra’du: 11).

Ketika kejujuran menjadi barang langka di negeri ini, akankah masih ada orang yang tulus ingin mengoleksinya? Kejujuran adalah benang merah untuk menambal degradasi moral tersebut. Bukan hanya bangsa ini, tapi juga hati kita, hamba Tuhan yang tak luput dari khilaf dan dosa. Jujur itu mudah, tapi bersuara jujur di negeri ini justru dimusuhi. Sudahkah kita jujur pada diri sendiri?

Graha Pena Jawa Pos, 22 Oktober 2008

(dimuat Eramuslim, 23 Oktober 2008)

Pesan Ibu




Oleh: Eko Prasetyo

Shalat adalah salah satu di antara lima rukun Islam. Selain ibadah wajib, shalat adalah tiangnya agama. Barang siapa mendirikan shalat, maka dia telah menegakkan tiang agama. Barang siapa meninggalkan shalat, maka dia telah merobohkan tiang agama. Rasulullah SAW bersabda, ”Batas antara seseorang dan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat.” (HR Muslim).

Sebelum Ramadhan lalu, kedua orang tuaku berkunjung ke Surabaya. Aku menjemput kedatangan beliau berdua di Stasiun Gubeng. Cuaca Surabaya saat itu memang cukup panas. Setelah menunggu beberapa lama, aku melihat wajah ayah dan ibu saya di depan pintu peron keluar. Dibalut jilbab, aku menatap wajah ibu dan mencium tangan beliau.

Aku lantas membawakan tas dan barang bawaan mereka ke dalam kendaraan. Kemudian kami sama-sama menuju ke ke rumahku. Cukup lama aku tak melihat wajah ibu karena jarang pulang ke Bekasi. Karena itu, kedatangan beliau menjadi penawar kangen. Hanya dua hari bermalam sekaligus menengok keluarga di Surabaya, kedua orang tuaku langsung berpamitan kembali ke Bekasi. Sebelum sepur berangkat menuju Jakarta, ibu berkali-kali berpesan kepadaku untuk selalu menjaga shalat. ”Insya Allah. Suwun, Bu, ” jawabku.

***
Suatu senja, seorang wanita berjalan tertatih-tatih. Pakaiannya serbahitam, seolah menandakan bahwa dia tampak sangat berduka. Kerudung menangkup rapat hampir seluruh wajahnya, tanpa rias muka atau perhiasan yang menempel di tubuhnya. Kulitnya bersih, badannya ramping, dan wajahnya cantik. Namun, itu tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah menyeruak hidupnya. Dia melangkah terhuyung-huyung mendekati kediaman Nabi Musa as. Dia mengetuk pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Kemudian, terdengarlah ucapan dari dalam, ”Silakan masuk.” Wanita cantik itu lalu masuk. Kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala dia berkata, ”Wahai nabi Allah, tolonglah aku.

"Doakan aku agar Allah berkenan mengampuni dosa keji ku". ”Apakah dosamu wahai wanita cantik?” tanya Nabi Musa as terkejut. ”Aku takut mengatakannya, ” jawab wanita cantik itu. ”Katakanlah jangan ragu-ragu, ” desak Nabi Musa as. Dengan terbata-bata, wanita itu bercerita, ”Aku telah berzina.” Kepala Nabi Musa as terangkat. Hatinya tersentak. Wanita itu meneruskan ceritanya. ”Dari perzinaan itu, aku lantas hamil. Setelah anak itu lahir, aku langsung mencekik lehernya hingga tewas, ” ucap wanita tersebut seraya menangis sejadi-jadinya. Nabi Musa as murka. Dia menghardik, ”Enyahlah kamu dari sini agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!

Nabi Musa as lalu memalingkan wajahnya karena tidak sudi melihat wanita tersebut. Hati perempuan berparas ayu itu seperti kaca yang membentur batu. Dia merasa hancur luluh. Lalu, wanita itu segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari rumah Nabi Musa as. Ratap tangis wanita itu amat memilukan. Dia tak tahu harus ke mana lagi hendak mengadu. Bahkan, dia tak tahu hendak ke mana membawa langkah kakinya.

Bila seorang nabi saja menolaknya, lalu bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya. Terbayang oleh dia betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Dia tak tahu bahwa sepeninggalnya malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa as. Malaikat Jibril bertanya kepada nabi Musa as, ”Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat atas dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang paling besar daripadanya?” Nabi Musa terperanjat. Dosa apakah yang lebih besar kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?

Maka, Nabi Musa as dengan penuh rasa penasaran bertanya kepada malaikat Jibril. ”Adakah dosa yang lebih besar daripada wanita yang nista itu?” tanya nabi Musa as. ”Ada”, jawab malaikat Jibril dengan tegas. ”Dosa apakah itu?” tanya Nabi Musa semakin penasaran. ”Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan tanpa menyesal, ” jawab malaikat Jibril. Orang tersebut dosanya lebih besar daripada seribu kali berzina.

***

Suatu malam, di ujung ponsel, aku mendengar ibu kembali berpesan agar saya tidak meninggalkan shalat. ”Wis shalat ta?” begitu ibu selalu bertanya kepadaku. Hal itulah yang selalu beliau sampaikan tiap kami bertemu atau berkomunikasi lewat telepon. Aku kemudian merenung dengan hikmah kisah nabi Musa as serta wanita pezina dan pembunuh tadi. Aku bersyukur masih sering diingatkan ibu untuk selalu menjaga shalat. Terima kasih bunda. Zijn euwige liefde...

Dimuat: Eramuslim, 11 Oktober 2008

Yang Terdalam (Untuk Aliya Tersayang)

Oleh: Eko Prasetyo

Aliya adalah gadis cilik berusia tujuh tahun. Kulitnya legam, kurus, dan dekil. Sehari-hari, mengamen di Terminal Jombang. Suatu ketika, dia berkelahi dengan sesama teman pengamennya. Dia dipukul setelah berebut uang dari seorang penumpang.

Wajahnya yang lebam membuat iba seorang kawan saya yang kebetulan ada di situ. Aliya diketahui hidup dengan neneknya. Ternyata, dia yatim piatu. Kawan saya berinisiatif untuk memondokkan dia di sebuah pesantren dekat rumahnya di Jombang.

Saya saat itu dikabarkan tentang keberadaan Aliya yang menyedihkan. Kemudian, saya menawarkan kepada sahabat saya itu untuk menjadi kakak asuh Aliya. Saya bersedia menanggung kebutuhan sehari-hari dan pendidikan Aliya di situ. Namun, saya meminta kepada kawan saya tersebut untuk merahasiakan identitas saya sampai saya bisa bertemu langsung dengan Aliya.

Selanjutnya, Aliya menjalani rutinitas barunya sebagai santriwati. Dia senang memiliki kakak asuh meski belum pernah melihat sosok kakaknya tersebut. Kepada kawan saya dan istri kawan saya itu, Aliya mengatakan ingin bertemu dengan kakak asuhnya yang tidak lain adalah saya.

Kesibukan dan aktivitas saya yang padat di kantor membuat niat saya mengunjungi Aliya selalu gagal. Akhirnya, kawan saya menyampaikan ide untuk bertemu di Sidoarjo saja, di tempat salah seorang familinya. Saya pun sepakat. Akhirnya kami bisa bertemu di Sidoarjo ketika saya libur kerja.

Aliya sebelumnya sengaja tidak diberi tahu bahwa dia akan dipertemukan dengan saya. Dia hanya tahu akan diajak jalan-jalan ke Sidoarjo oleh kawan saya dan istrinya. Saya sempat mengirimkan SMS ke calon istri saya bahwa saya akan bertemu dengan adik asuh saya tersebut.

Alhamdulillah, saya akhirnya bisa bertemu dengan Aliya. Dia tampak ceria. Beberapa kali, dia memamerkan baju dan jilbab pemberian kakak asuhnya. Dia memang banyak diceritakan tentang kakak asuhnya oleh kawan saya dan istrinya. Saya sangat terharu melihat wajah bocah polos tersebut.

"Apa masku mau ya ketemu aku?" ujar Aliya.
"Lho Mas-mu mesti seneng ketemu kamu. Tapi, apa kamu mau punya mas tukang koran? kata saya.
"Biarin aja," sergahnya.
"Kan orangnya baik," lanjut Aliya.
"Dari mana kamu tahu kalau orangnya baik?" tanya saya.
"Pak ustad (kawan saya) yang cerita," tuturnya bersemangat.
"Orangnya ganteng nggak ya?" ucapnya penasaran.

Kawan saya dan istrinya hanya tersenyum mendengar itu. Saya bersyukur bisa melihat Aliya. Kepolosan dan keceriaannya membuat semangat kerja serasa bertambah.
"Kapan dong bisa ketemu Masku?" rengek Aliya kepada istri kawan saya.
"Nanti tho, Nduk (sebutan Nak untuk anak perempuan di Jawa), kamu iso ketemu karo masmu kuwi," kata istri sahabat saya tersebut lantas tersenyum menatap saya.

Saya sempat mengajak Aliya dan kawan saya makan di sebuah restoran di Sidoarjo. Aliya sama sekali tidak menaruh curiga bahwa dia sebenarnya telah bertemu dengan kakak angkatnya. Memang, saya hanya diperkenalkan sebagai saudara kawan saya yang sehari-hari mengawasi perkembangan Aliya di pesantrennya.

Seusai pertemuan tersebut, saya mengatakan kepada Aliya bahwa suatu saat kakaknya akan mampir ke Jombang untuk mengunjunginya.
"Aku kenal karo masmu," kata saya di akhir perjumpaan kami sore itu.

Ya, saya menetapi janji saya untuk menemui Aliya di Jombang. Pada saat pertemuan kedua itu, Aliya tidak menyangka bahwa saya adalah kakak asuhnya. Begitu senangnya dia hingga tak sempat berkata selama beberapa saat.

Saya menelepon calon istri saya ketika itu bahwa saya telah bertemu dengan Aliya. Saya menyampaikan bingkisan dari calon istri saya tersebut kepada Aliya. Aliya menerimanya dengan sangat senang. Mengharukan.

Saya tak menyangka bisa sebahagia saat itu. Istri teman saya sempat meneteskan air mata melihat begitu gembiranya Aliya bisa bertemu kakaknya. Namun, kebahagiaan itu kini menjadi bagian dari masa lalu. Setelah sempat dirawat inap di rumah sakit setempat karena demam berdarah, Aliya mengembuskan napas terakhir setelah trombositnya sangat rendah.

Kawan saya menyesal karena gagal mencarikan darah di PMI setempat. Untuk ke PMI Surabaya, dia akan sangat terlambat mengingat kondisi Aliya yang sangat lemah dan kritis.

Kabar tersebut sampai ketika saya masih harus menyelesaikan mengedit berita sebelum deadline pukul 12 malam. Mata saya tak sengaja basah. Tangan saya bergetar tak mampu menggerakkan mouse dan mengetik. Begitu berat rasanya kehilangan salah seorang tercinta. Innalillahi wa innailaihi raji'uun.

Saya tak lekas pulang saat itu. Setelah suasana redaksi sudah sepi, saya melaksanakan shalat gaib untuk almarmahumah. Badan saya terasa lemas. Saya tak mengira secepat itu kebahagiaan datang dan secepat itu pula kebahagiaan pergi. Tapi, Allah mahatahu. Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Sebab, saya yakin rencana Allah itu sangat indah. I love you, Aliya.

Grahapena, 8 Agustus 2008
(kukecup cahaya rembulan yang merendah mengibar kerinduanku)

Pak Jumari



Oleh: Eko Prasetyo

Pagi-pagi sekali, Pak Jumari sudah membersihkan halaman sekolah. Ya, dia memang bekerja sebagai tukang kebun di sebuah sekolah dasar tempat keponakan saya sekolah. Sudah lebih dari tiga tahun saya mengenalnya. Kalau saja saya tidak mengantarkan keponakan ke sekolah tersebut, bisa jadi saya tak pernah mengenal sosok sederhana beliau.

Kulitnya hitam karena banyak terbakar terik matahari. Otot tangan dan tulang belikatnya menonjol seolah menjadi saksi kerja kerasnya menjalani hidup. Meski usianya sudah beranjak senja, sekitar enam puluh tahunan, Pak Jumari masih tampak segar dan semangat. Siang itu, ketika menjemput keponakan, saya mengajak beliau untuk makan siang bersama di sebuah warung.

Pak Jum –demikian saya biasa menyapa beliau– mengungkapkan bahwa dirinya sudah 13 tahun bekerja sebagai tukang kebun di sekolah dasar tersebut. Dari obrolan kami, saya menyimpan rasa kagum kepada Pak Jum. Beliau menuturkan, jarak antara rumah ke sekolah tempat dia bekerja sekitar 1 km. Meski demikian, beliau berangkat dengan berjalan kaki. Kendati jam kerjanya mulai pukul enam pagi, Pak Jum sudah berada di sekolah itu setengah jam sebelumnya.

Beliau mengatakan sudah sangat bersyukur meski gajinya per bulan tak seberapa. Berkumpul dengan para guru dan anak-anak membuat dia mengaku kerasan bekerja di situ. ”Kulo mboten nyuwun nopo-nopo kalih Gusti Allah, mung sehat thok sampun cekap Mas (Saya tidak minta apa-apa kepada Allah, sehat saja itu sudah cukup kok Mas),” tuturnya. Subhanallah, saya memetik pelajaran sederhana dari etos kerja Pak Jumari.

Kini, saya tak pernah lagi melihat Pak Jumari jika sedang menjemput keponakan saya di sekolah tersebut. Saya pun tak bisa melihat beliau sedang menyapu atau membersihkan halaman sekolah itu. Sebab, beberapa waktu lalu, Pak Jum dikabarkan telah meninggal karena sakit diabetes menahun. Saya baru tahu kabar itu dari orang tua siswa dan guru sekolah tersebut. Innalillahi wa innailaihi rajiuun.

Meski demikian, saya masih menyimpan beberapa nasihat yang pernah dilontarkan Pak Jum. Mulai etos kerja sampai nasihat agar bekerja sepenuh hati. Dari kesemuanya itu, saya menyimpulkan bahwa bekerja itu adalah amanah.

Saya merenung, betapa banyak orang yang menyepelekan arti amanah dalam bekerja. Saya pernah merasa jengkel saat mengurus perpanjangan KTP beberapa waktu lalu. Seperti diketahui, jam kerja di kelurahan atau instansi-instansi pemerintah lainnya adalah pukul setengah delapan pagi. Namun, hingga pukul sembilan lebih saya menunggu di kelurahan, tak ada orang di situ. Mungkin, jamak terjadi bahwa banyak pegawai pemerintahan yang ngantor telat. Seharusnya masuk pukul setengah delapan pagi, mereka baru masuk kerja pukul sembilan, bahkan sepuluh pagi. Ada pula pegawai yang sudah pulang sebelum jam pulang kantor. Masya Allah.

Tak jarang, di antara para pegawai pemerintahan itu, ada yang jalan-jalan pada saat jam kerja. Yang memprihatinkan, mereka jalan-jalan dengan masih memakai pakaian dinas. Terus, bagaimana dengan pelayan publik yang menjadi tugas mereka? Sering pula saya temui, kadang produktivitas kerja kalangan pegawai tertentu tidak menonjol. Yang tampak, pegawai kantoran yang main komputer, duduk enjoy, dan ngobrol sambil ngopi. Profesionalitas kerja yang termasuk amanah sering terabai. Masuk kantor telat seakan tak merasa bersalah. Tapi, jika gaji telat, mereka sudah berkoar-koar, mengeluh, dan sebagainya. Masya Allah.

Padahal, jika seorang pegawai menunaikan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh mengharapkan pahala dari Allah, dia telah menunaikan kewajibannya. Dia pun berhak mendapatkan balasan atas pekerjaannya di dunia dan beruntung dengan pahala di kampung akhirat. Bekerja termasuk amanah yang harus dijaga. Sebab, Islam pun mengajarkan tentang pentingnya bersikap profesional.

Allah berfirman: ”Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui” (Al-Anfal: 27).

Cuaca di atas Kota Surabaya cukup terik siang itu. Saya tertegun di depan pagar sekolah saat menjemput keponakan. Tak tampak lagi wajah Pak Jumari yang biasa menyapa saya dengan rendah hati. Tentang sikap amanah, saya resapi dari tutur kata dan semangat bekerja Pak Jumari. Selamat jalan Pak Jum, semoga Allah memberikan tempat yang baik di sisi-Nya.


(Mengenang Pak Jum)

dimuat: eramuslim (24 Juli 2008)

Bisnis Ijazah Instan

Catatan: Eko Prasetyo

Hidup di zaman sekarang benar-benar harus kuat iman. Pasalnya, apa-apa serbaduit. Mau buang air kecil saja harus bayar. Ketika saya belanja ke Pasar Keputran, Surabaya, uang Rp 10 ribu cuma dapat tempe, tahu, plus minyak goreng setengah kilo. Meski demikian, saya bersyukur bahwa dini hari nanti punya persiapan sahur dengan lauk istimewa: Tempe! Alhamdulillah. Karena masih bujangan, mungkin saya masih bisa mengirit pengeluaran. Saya tak bisa membayangkan bahwa banyak orang miskin yang tak mampu beli beras.

Saya punya langganan bakul cabai di Pasar Keputran. Si penjual sudah sepuh, sepantaran nenek saya. Dulu sebelum kena stroke, nenek sayalah yang belanja ke pasar tersebut. Tiap belanja, nenek tak pernah absen beli cabai di ibu bakul lombok itu. Witing akrab jalaran soko kulina. Karena sering bersua, mereka menjadi layaknya sahabat karib. Stroke telah membuat kaken dan nenek saya tak mampu berjalan sempurna seperti dulu. Kini sayalah yang mengalih alih tugas belanja. Si mbah penjual lombok tadi sebenarnya tidak menjual cabai segar. Dia mengaku, tiap pukul dua pagi ada truk pengangkut cabai dari daerah lain untuk dibawa ke Surabaya. Nah, tiap ada cabai yang jatuh dari truk tersebut, cabai itulah yang dijarah oleh sebagian penjual, termasuk si mbah tadi, untuk dijual kembali. "Nek tuku larang (Kalau beli, mahal)," tuturnya.

Karena hidup bertiga dengan penghasilan saya plus pensiunan kakek, jelas kami harus benar-benar hemat. Lha piye wong semua harga kebutuhan pokok serbamahal. Karena itu, saya sangat prihatin melihat kenyataan bahwa banyak orang yang membelanjakan uangnya untuk hal yang salah seperti membeli ijazah instan. Saya mafhum, mungkin mereka belum pernah merasakan sulitnya mencari seperti kami dan rakyat kecil lainnya.

Saat membaca berita cover story di Metropolis Jawa Pos edisi kemarin (18/9) dan hari ini, saya terkesiap. Betapa tidak, tak perlu susah-susah kuliah, orang bisa dengan mudah mendapatkan ijazah instan seharga Rp 8 juta.

Dengan minimal Rp 8 juta, titel apa saja bisa Anda dapatkan. Tinggal pilih mau sarjana ekonomi, hukum, atau psikologi. Tak perlu duduk di dalam kelas selama empat tahun. Bahkan sehari pun tak perlu. Proposal skripsi dan skripsi sudah ada yang mengerjakan. Pokoknya tinggal bayar. Dalam waktu sekitar sebulan, semuanya beres (Metropolis Jawa Pos, 18/9/08).

Bahkan, si konsumen ijazah instan akan mendapatkan indeks prestasi 3,01. Nilai yang lumayan, karena nilai itu diperoleh tanpa harus mengikuti kuliah sama sekali. Peminat ijazah instan tersebut pun tidak sedikit. Disebutkan tim Jawa Pos bahwa segmen pasar terbesar ijazah instan adalah instansi pemerintahan (PNS dan guru) serta lembaga negara non-pemerintah (legislatif). Mahasiswa putus kuliah masih kalah besar. Masya Allah.

Ah, saya sedikit menggerutu dalam hati. Untuk mencapai sarjana, saya pernah harus jualan kopi di Jl Basuki Rahmat hingga jadi cleaning service di Gramedia. Mereka yang punya duit dengan mudahnya mendapatkan ijazah sarjana tanpa harus kuliah dan susah payah. Duit kini bak dewa, dipuja dan berkuasa. Jika ada uang, urusan lancar. Jika tak punya uang, jangan pernah ngimpi jadi sarjana di sini! Masya Allah.

Subuh sudah melambaikan tangannya. Mata ini begitu lelah dan mengantuk. Sesampai rumah, saya tengok kamar kakek nenek saya. Mereka masih terlelap. Saya lantas mendesah. Hari ini saya hanya berhasil belanja tempe lagi. Beli dua ribu rupiah sudah bisa dimakan bertiga. Sambil menggoreng tempe tanpa garam buat mbah berdua, saya membayangkan punya uang Rp 8 juta seperti mereka yang membeli ijazah instan. Tentu saja saya menginginkan sekali-sekali di meja makan kami tersaji sayur segar dengan lauk daging atau apalah selain tempe. Tentu itu akan sangat membahagiakan kami bertiga ketimbang beli ijazah yang tak banyak menolong perut kami ketika lapar. Oh Tuhan.


Graha Pena, 29 September 2008
Eko Prasetyo
(bimbang, rapikan bekas kecup mesraku agar tak tertengok cemburu)

Sujud Syukur di Akhir Ramadhan





Oleh: Eko Prasetyo

Malam tak pernah seindah itu. Suara-suara orang mengaji bergaung dan bergema di seluruh pelosok Kota Pahlawan. Langit dan bumi merendah bak menyambut malaikat yang bertasbih memuji Ar-Rahman. Sepuluh malam terakhir di bulan suci Ramadhan menjadi saksi kebahagiaan tak terperi dalam hidup saya, Eko Prasetyo.

Saya lahir dan besar di keluarga penganut Katolik yang taat. Kami tinggal di Bekasi. Tiap Minggu, tak pernah alpa kami beribadat ke gereja. Masa kecil sampai remaja terasa begitu membekas dengan kebahagiaan keluarga kami. Nama baptis saya adalah Yohanes. Nama tersebut masih menempel di ijazah terakhir saya sebelum akhirnya hidayah itu menyapa pada 2005.

Pada Agustus 1999, saya hijrah ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa, dulu IKIP Negeri Surabaya).

Singkatnya, saya kemudian tinggal bersama kakek dan nenek saya.

Hari-hari awal menjadi arek Suroboyo begitu saya nikmati. Jauh dari orangtua adalah awal saya belajar untuk mandiri. Meski selalu mendapat uang saku tiap bulan, saya mulai kasihan dengan ibu yang cuma berjualan kue dan menjadi penjaga kantin sebuah sekolah menengah pertama di Bekasi. Saya ingin bisa memiliki pendapatan sendiri.

Singkatnya, saya kemudian nyambi mengajar privat selepas kuliah. Lumayan, dari hasil memberi les privat tersebut, saya bisa menambah uang saku dan beli bensin. Sempat cuti kuliah pada semester lima karena telat membayar SPP, saya pernah bekerja sebagai cleaning service di sebuah toko buku. Sebagai mahasiswa, saya mulai menyadari bahwa betapa berbedanya dunia kerja dengan dunia mahasiswa yang penuh dengan idealismenya.

Sungguh, saya menyadari betapa susahnya hidup di kota besar seperti Surabaya. Apalagi, gaji sebagai cleaning service itu tak sampai Rp. 500 ribu saat itu! Namun, semua itu memiliki hikmah bagi saya. Sukses itu tidak turun langsung dari langit, tapi harus ada usaha! Do'a, usaha, dan kerja keras. Itulah fondasi sukses. Karena itu, tekad saya bulat, saya harus bisa menjadi sarjana, meski sarjana pun terkadang sulit untuk mencari kerja.

April 2004, kebahagiaan menyelimuti saya dan keluarga. Ya, saya resmi mengakhiri pendidikan di Unesa bersama ribuan wisudawan lain di Islamic Center, Surabaya. Tak pernah terbayang di benak saya bahwa anak seorang ibu penjaga kantin dan bapak supir bisa jadi sarjana. Menjadi raja sehari sebelum esoknya bingung harus membuat lamaran kerja ke sana-sini. Meski demikian, rasa haru dan bangga menyelinap di hati saat saya kali pertama memakai toga.

Setelah lulus, saya memutuskan untuk tetap tinggal di Jawa Timur. Saya bersyukur, setelah menganggur beberapa lama, akhirnya saya mendapat pekerjaan sebagai guru SMP di Kabupaten Malang. Meski penghasilan sebagai guru sangat kecil, saya begitu menikmati profesi tersebut.

Awal 2005, nenek saya sakit dan diopname di RS RKZ Surabaya. Saat itu, karena tak ada di antara anak-anaknya yang bisa jaga malam, akhirnya saya memutuskan ke Surabaya dan menjaga beliau. Meski, konsekuensinya saya harus keluar dari pekerjaan saya. Dan di situlah awal saya mengalami hal yang kemudian mengubah hidup saya.

Tiap pukul empat sore, saat jam besuk, saya sudah ada di RKZ untuk menjaga nenek. Menyuapi saat beliau makan dan mengambilkan pispot saat beliau buang air kecil, menjadi pengalaman pertama saya merawat orang sakit.

Malam ketiga nenek sakit, saya tak kuat menahan kantuk tertidur dengan posisi duduk di samping paviliun beliau. Jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Saat itulah, saya bermimpi yang menurut saya aneh. Dalam mimpi tersebut, saya melihat diri saya yang seolah-olah melakukan gerakan-gerakan yang kelak saya ketahui adalah shalat. Ketika terbangun, saya tak menghiraukannya. Saya berpikir, mungkin itu hanya bunga tidur saja karena terlalu capai.

Namun, saya tak menyangka, pada malam keempat mimpi itu datang lagi. Saya bermimpi melihat diri saya melakukan ruku yang kelak saya ketahui juga bagian dari shalat. Begitu cepat sehingga saya terbangun dan ketakutan. "Ada apa ini, Tuhan?" ucap saya dalam hati setengah ketakutan.

Entahlah, saat itu mulai terlintas rasa penasaran saya terhadap Islam. Ketakutan saya masih berlanjut. Malam kelima, mimpi itu datang lagi dan kali ini saya melihat diri saya bersujud. Setelah tiga malam berturut-turut bermimpi aneh, saya sadar bermimpi melihat diri saya sedang shalat. Keinginan saya mengetahui Islam menjadi besar mulai saat itu.

Setelah nenek sembuh, kejadian itu berlalu dan hanya saya simpan dalam hati. Diam-diam, saya mulai mempelajari Islam dari buku-buku yang saya beli. Puncaknya, keluarga kami merayakan Paskah dan saya sempat bermalam di Gereja Katedral Surabaya. Menjelang subuh, saya hendak keluar dan membeli makan. Ketika bersiap menggeber motor, saya mendengar sayup-sayup adzan Subuh. Entah mengapa, saya mendadak mematikan mesin motor dan mendengarkan kumandang adzan tersebut. Mulai Allaahu Akbar sampai Laa ilaaha illallaah, meski tak tahu artinya saat itu, hati saya bergetar hebat. Indah sekali lantunan suara adzan Subuh tersebut.

Kepada seorang kawan, saya mulai mengutarakan niat untuk masuk Islam. Meski, saya tahu bahwa keputusan itu akan sangat berisiko karena keluarga saya adalah pemeluk Katolik yang sangat taat. Tiga hari setelah peristiwa itu, saya mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Al-Akbar Surabaya. Hanya ada saya, dua sahabat saya, dan seorang ustadz pembimbing. Allahu Akbar! Saya menjadi muslim. Damai sekali. Dua sahabat saya memeluk saya dan menangis. Suasana begitu mengharukan kala itu.

Saat saya berterus terang kepada orangtua bahwa saya telah menjadi mualaf, ayah saya sangat murka. Begitu marahnya hingga saya mendapat tamparan di wajah. Hari-hari awal menjadi muslim begitu berat saya rasakan. Namun, saya yakin bahwa Allah Mahatahu. Saya menghormati dan sangat menyayangi orangtua saya. Ketika itu, yang bisa saya lakukan hanya berdo'a bagi ibu dan bapak saya. Di Surabaya, suasana diskriminasi dari keluarga sempat saya rasakan. Hal yang wajar karena menjadi muslim saya dicap sebagai pengkhianat. Meski demikian, semua saya syukuri tanpa henti mendo'akan kedua orangtua tercinta.

Akhirnya, malam membahagiakan bagi kami itu datang di bulan suci Ramadhan pada 2006. Malam setelah mengikuti shalat tarawih menjelang Ramadhan berlalu, saya mendapat telepon dari ibu di Bekasi. Secara mengejutkan ibu mengatakan bahwa beliau dan bapak telah masuk Islam setelah bermimpi melihat saya shalat.

Allahu Akbar! Mahaindah Engkau, ya Allah. Tak sanggup berucap sepatah kata, malam itu juga saya sujud syukur dan tiada henti menangis. Menangis bahagia. Cinta itu datang berupa hidayah yang tak ternilai dengan apa pun di dunia ini. Teriring salam terindah untuk Rasulullah, kuucapkan syukur Alhamdulillah atas karunia ini.

Dimuat: kotasantri.com dan swaramuslim.com

Flower in The Desert



"Sebuah ruang yang kosong memberimu kesempatan untuk mengisinya."
Kalimat tersebut pernah diucapkan Putu Wijaya (novelis dan budayawan) di Gedung Kesenian Buleleng, Bali, pada 19 November 1996.

Terus terang, kalimat tersebut sangat memotivasi saya. Karena itu, saya mafhum ketika Andy F. Noya mengundurkan sebagai pemred Metro TV atau Dhimam Abror yang keluar dari jabatannya sebagai pemred harian Surya.

Saya tersentuh ketika seorang rekan wartawan muda berkisah tentang keputusannya untuk mundur dari surat kabar tempat dia bekerja. Banyak yang menganggap keputusannya keluar adalah hal yang bodoh. Apalagi, mencari kerja sekarang sangat sulit dengan persaingan yang sangat tinggi pula. Namun, dia berharap keputusannya itu tidak salah. Saya akhirnya bisa memahami sikapnya.

Perempuan muda itu menuturkan, menjadi wartawan adalah impiannya. "Ternyata tak seindah yang dibayangkan," ujarnya dengan nada berat. Di pengujung April dia kembali ke kotanya, Jogjakarta. ya, dia telah resign. Selembar tulisan berjudul "Kenapa Saya Ingin Jadi Wartawan" saat dia melamar jadi wartawan dikembalikan kepadanya. Dia menjadikan lembaran tersebut sebagai prasasti.

Tak sempat berpamit kepada rekan-rekan wartawan lainnya, dia mengucapkan kalimat perpisahan kepada saya suatu sore, ketika kami terakhir bertemu.

"Aku pulang. Kembali ke barat. Aku bukan kalah. Aku bukan pecundang," terakhir saya menangkap lirih suaranya menahan kesedihan.

Saya menghela napas pagi ini. Banyak sekali kisah yang saya lalui. Berada di sebuah kapal besar sebagai kelasi rendahan harus siap menantang ombak ganas sewaktu-waktu. Sebagai pemuda, saya tidak terbiasa menyerah dengan keadaan. Tantangan dan risiko adalah hal yang wajar dalam kehidupan. Berani hidup harus berani menghadapi tantangan. Meski semua ini telah Dia gariskan, kita tetap tidak boleh menyerah pada keadaan. Sungguh, hati saya bergetar mendengar kisah jurnalis muda tersebut. Tegap, saya memberikan salam perpisahan kepadanya.

Dulu, Agung Putu Iskandar, wartawan Jawa Pos yang juga kawan perempuan tersebut, pernah mengungkapkan hal serupa. Yakni, betapa tidak mudahnya menjadi seorang wartawan. Kini saya mulai mempercayainya. Bukan karena terlambat percaya, tapi saya terlalu mengagumi profesi seorang jurnalis sehingga tak berani mengamini kata-kata itu lebih dulu.

Tentang Bang Andy, Pak Abror, dan mantan wartawan itu, keputusan mereka pun bisa jadi terjadi pada saya atau orang lain. Sebuah ruang yang kosong memberimu kesempatan untuk mengisinya. Entah kapan.


Graha Pena, 5 Sept 2008

Eko Prasetyo
(maaf rindu, aku terlambat memelukmu saat dia gagal membawa pulang cintaku)

Mudahnya Memaafkan




Oleh: Eko Prasetyo

Beberapa waktu lalu, saya tak sengaja menyerempet sebuah mobil toyota kijang di Jl A. Yani. Jalan memang agak macet sore itu. Dan saya memang agak terburu-buru sore itu. Bagian spion kiri mobil tersebut agak lecet akibat senggolan dengan motor saya.

Pemilik mobil itu kemudian minggir dan menyapa saya, "Hei goblok! Matamu sudah buta ya?"

Saya lalu meminta maaf karena tidak sengaja menyenggol mobil orang itu. Dari penampilannya yang perlente, saya jelas ora ono apa-apane. Meski demikian, saya berusaha tetap tenang dan terus meminta maaf. Tapi, orang itu malah tidak terima dan terus memaki-maki saya.

"Aku gak terimo! Kamu harus ganti spion mobil saya. Motomu picek yo (Matamu buta ya)! Naik sepeda motor nggak liat-liat!" kata laki-laki tersebut.
"Akan saya ganti Pak spion yang kegores itu. Maafkan saya Pak," ujar saya.
"Alah gak usah akeh omong. Aku minta kamu ganti sekarang," katanya dengan nada tinggi.

Orang itu tampak sinis memandang saya. Mungkin, dia mengira saya tak akan mampu membayar kerugian sebesar harga spion mobilnya. Apalagi, melihat tampang saya yang kucel begini.

Kemudian, dia kembali menghampiri saya. "Sudah aku minta 200 ribu saja. Sekarang," ujar laki-laki itu.

"Waduh Pak, uang saya cuma 115 ribu iki," jawab saya sambil memperlihatkan isi dompet saya untuk meyakinkan dia.

"Motomu picek yo," ucapnya tidak terima dengan kata-kata saya.

"Kekurangannya saya ambilkan di kantor saya dulu ya Pak karena di sana ada ATM," tawar saya dengan nada memelas.

Eh dia malah nggak terima. Dia menuduh saya dan semakin memaki-maki.

Karena agak kesal, saya kemudian bilang, "Sudah deh Pak, saya ganti 500 ribu. Tapi, uangnya saya ambil di kantor dulu. Di sana soalnya ada ATM," jawab saya.

"Alah rai koyok awakmu mosok duwe duwit," kata dia terus-menerus menghina saya.

Kalau nggak percaya, silakan ikut saya ke kantor yang dekat dari sini (orang itu akan saya ajak ke Graha Pena)," jawab saya.

Alhamdulillah dia mau saya ajak ke Graha Pena. Setelah mengambil uang di ATM, saya benar-benar menyerahkan uang sebesar Rp 500 ribu ke orang tersebut.

Laki-laki itu kelihatan bingung dan bertanya kepada saya, "Memangnya kamu kerja di sini? Di mana? Saya kan cuma minta 200 ribu?"

Saya tidak lantas menjawab pertanyaan orang itu. "Saya minta maaf Pak sudah menyenggol mobil Bapak. Saya sangat berterima kasih sudah diingatkan agar berhati-hati. Matur nuwun Pak," tutur saya kepadanya.

Wajah laki-laki itu tambah bingung. Mungkin dia bertanya-tanya wong dia tadi marah dan memaki saya, tapi saya justru berterima kasih sudah diingatkan.

"Ini kartu nama saya Pak. Silakan main-main ke kantor saya kapan-kapan. Maaf ya Pak, saya harus segera kerja karena ada rapat hari ini. Silakan hubungi saya nanti. Nomornya ada di kartu nama saya itu," ujar saya meninggalkan laki-laki tadi yang masih melongo melihat saya ngacir sebelum sempat berkata-kata.

Alhamdulillah, hari itu saya bisa meredam marah dan tidak membalas makian/hinaan dari bapak tadi. Bapak itu tidak lama kemudian mengirimkan SMS dan berkali-kali meminta maaf kepada saya. Saya membalas SMS beliau dan berterima kasih sudah diingatkan. Dia tambah bingung.

"Mas Eko nyindir saya ya?" tulisnya heran dalam SMS balasannya.

"Lho bapak nggak sadar sudah menasihati saya? Bapak marah-marah tadi itulah yang saya maksud mengingatkan saya agar saya lebih berhati-hati lagi jika di jalan raya," balas saya.

"Mas saya benar-benar minta maaf atas sikap saya tadi," balas dia.

SMS itu kemudian saya tutup dengan ucapan maaf dan terima kasih lagi.

Saya lalu merenung. Mungkin saja, di satu sisi, saya memiliki kelebihan dibandingkan orang itu meski saya berada dalam posisi yang lemah saat itu. Namun, saya memetik hikmah dari kejadian tadi. Yakni, menguasai emosi dan mencoba berpikir positif di saat-saat yang tidak menguntungkan. Sebagai pemuda, saya tetap harus menghormati orang yang lebih tua, tak peduli siapa pun dia dan tanpa melihat kelebihan diri sendiri. Dalam kamus kehidupan, tak ada kata dendam untuk saling menghargai dan mengasihi sesama makhluk Tuhan. Ah, cinta! Ingin kupeluk engkau erat-erat agar tak kabur saat emosiku di atas logika...

Graha Pena, Juli 2008
(merenung sendiri di Jawa Pos pukul tiga pagi)

La Tahzan Saudaraku! (untuk Palestina)



Catatan: Eko Prasetyo

Seusai kerja, sebelum pulang, saya kerap membuka media online lewat internet yang menyajikan berita-berita yang sedang hangat di masyarakat. Namun, dini hari itu, emosi saya serasa tersulut. Membaca salah satu berita internasional tentang Palestina membuat darah saya mendidih. Betapa tidak, dalam berita tersebut dipampang foto seorang balita yang tewas dengan tangan terputus karena serangan Israel. Bocah tersebut merupakan salah seorang korban di antara mayat-mayat orang dewasa yang menjadi kebiadaban Israel.

Sebagai muslim, tentu hati ini tidak sanggup menerima perlakuan brutal dan kejam bangsa Yahudi itu membantai saudara-saudara seiman di Palestina. Dunia Islam pun mengutuk keras tindakan di luar batas kemanusiaan Israel. Namun, tanpa membawa Islam pun, sudah tentu sebagai manusia, jiwa kita akan terketuk melihat darah anak-anak tak berdosa tumpah karena kekejaman Israel yang semakin menjadi-jadi.

Memang, tidak hanya saat itu saya melihat lewat situs berita luar negeri tentang korban-korban dari rakyat Palestina yang tewas akibat serangan militer Israel yang membabi-buta. Konflik di Timur Tengah memang membawa derita berkepanjangan, khususnya di bumi Palestina. Tapi, saya yakin, mereka tidak mati sia-sia. Darah mereka, para wanita dan anak-anak muslim Palestina tak berdosa itu adalah jihad.

Sejengkal tanah dan hak kemerdekaan mereka perjuangkan dari penjajahan Yahudi tersebut. Meski konsekuensinya harus dibayar dengan nyawa, hal itu tak menyurutkan semangat jihad melawan kaum zionis Israel. Tiap saat diliputi kemelut. Tiap hari nyawa orang-orang Palestina melayang karena melawan para serdadu Yahudi di wilayah-wilayah perbatasan.

***

Satu kisah menyedihkan dari pengalaman seorang wartawan asing, di jalur Gaza menjelang fajar dijaga ketat oleh tentara Israel. Panser-panser Yahudi dengan senjata lengkap tersebut seolah siap melahap dan menembak para pemuda Palestina yang nekat melintas atau melawan. Tidak ada lagi peace enforment ketika itu. Seorang wanita tiba-tiba muncul di kerumunan barisan serdadu zionis.

Dia kemudian berteriak ke arah para tentara tersebut seraya melantangkan takbir, ”Allahu akbar, Allahu akbar.” Di sela seruan wanita pemberani tersebut, dia sempat berkata, ”Rahimku ini akan terus melahirkan para pejuang untuk berjihad.” Tak lama kemudian, wanita itu rebah tersungkur ke tanah. Tubuhnya bersimbah darah setelah diberondong senapan otomatis milik tentara Israel. Innalillahi wa innailahi rajiuun. Seorang muslimah telah gugur sebagai syuhada.

Peristiwa itu menyulut kemarahan para pemuda pejuang muslim Palestina. Apa daya, kekuatan militer Israel jauh lebih baik daripada mereka. Namun, para kaum muslimin tersebut tidak gentar. Bersenjata batu dan sedikit senjata, mereka melakukan perlawanan ke arah tentara-tentara Yahudi. Tak pelak, korban-korban tewas pun banyak berjatuhan dari pihak Palestina.

Darah di mana-mana. Ini tanah kami! Darah muslimin tak akan jatuh dengan sia-sia. Ini bumi kami! Begitulah semangat para pemuda Palestina dalam melawan kekejaman Israel yang telah berpuluh-puluh tahun menyerobot tanah air mereka.

Si wartawan peliput tersebut akhirnya memutuskan untuk berhenti dari profesinya. Kali terakhir, pemandangan menyedihkan melihat seorang bocah laki-laki cacat karena kakinya putus akibat terkena serpihan ranjau di daerah konflik. Itu membuat hatinya miris. Dia tak menyangkal kekejaman Israel. Hingga anak-anak pun tak luput dari sasaran senjata para serdadu zionis tersebut. Masya Allah.

***

Kiranya, penghormatan dan doa teriring untuk perjuangan para saudara kami di Palestina. Darah para muslimah dan anak-anak tak berdosa itu tidak akan jatuh dengan sia-sia. Bahwa mati syahid lebih dipilih daripada tanah air diduduki oleh kaum Yahudi. Saudaraku di Palestina, percayalah bahwa perjuanganmu tak akan pernah sia-sia. Allah lebih tahu tentang jihad membela panji Islam yang kalian perjuangkan. Kami yang di sini selalu mengiringi doa akan harapan kedamaian di bumi Palestina yang menyimpan banyak sejarah para nabi.

Ini tanah kami! Ini bumi kami! Setelah keras menentang, diiringi teriakan takbir, pemuda-pemuda pemberani itu pun gugur diterjang timah panas serdadu Yahudi. Dan tidaklah tangisan para wanita yang kehilangan suami, anak, serta sanak saudaranya menjadi akhir dari perjuangan. Benar! Di rahim mereka, akan lahir syuhada-syuhada yang tak sudi bangsanya dijajah oleh Yahudi.

Mati sebagai syahid lebih disukai. La tahzan saudaraku! Jangan bersedih dan berhenti berjuang. Semoga Allah merahmati perjuanganmu. Dan tetapkan di hatimu bahwa Rasululullah pernah bersabda:”Sesungguhnya, besarnya pahala mengikuti pada besarnya cobaan. Susungguhnya, Allah apabila mencintai suatu kaum, pasti Dia menimpakan cobaan-Nya kepada mereka. Barang siapa yang ridha, dia akan mendapat keridhaan-Nya. Dan barang siapa yang marah, maka dia akan mendapat murka-Nya.”

Graha Pena, Mei 2008

Jakarta Oh Jakarta!

Catatan: Eko Prasetyo



Jakarta? ”Nice city,” begitu kata seorang kawan. ”Yaah, sampeyan belum tahu sih..” begitu jawab saya dalam hati. Kalau saja dia jeli atau keliling Kota Jakarta, mungkin bisa jadi dia bakal mengoreksi kata-katanya tadi. ”Home to over 10 million people, Jakarta is the capital city of Indonesia,” terang saya. Padahal, saya mafhum betapa ibu kota negara itu identik dengan macet dan sumpek. Di ujung-ujungnya, saya bertanya, ”So, why should you visit Jakarta?” Jawaban para bule pasti kurang lebih sama: ”Because we can find everything here..” Mungkin, ada benarnya. Meski padat, urbanisasi ke Jakarta justru meningkat.

Desember 2006, saya mengunjungi Jakarta. Meski bukan kali pertama, saya berdecak kagum dengan pesatnya pembangunan di sana. Gedung-gedung pencakar langit menjulang begitu megah. ”Yo iki sing bikin Jakarta sering banjir,” pikir saya. Sebab, banyak bangunan yang tinggi tanpa memperhatikan konstruksi serapan air. Akibatnya, jika datang hujan dan air kiriman dari Bogor, banjir menggenangi hampir 2/3 Jakarta,

Meski demikian Jakarta adalah kota yang supersibuk. Denyut nadi kehidupannya hampir 24 jam seiring perputaran uang di sana. Jujur, saya cukup norak melihat busway sliweran. Bagus sih busnya, tapi kasihan juga lahan-lahan warga yang digusur untuk proyek busway. Bisa-bisa, sepuluh tahun lagi orang jalan di depan rumah kena macet nih, gumam saya dalam hati.

Herannya, jargon ibu kota itu kejam tidaklah memengaruhi banyak orang. Kian banyak saja orang yang mengadu peruntungan di Jakarta. Angka urbanisasi tetap tinggi. Akibatnya, banyak pengangguran dan kemiskinan karena semakin sempitnya lapangan kerja, sementara tingkat persaingan sangat tinggi. Dari situ akhirnya bersambut dengan tingginya kriminalitas. Pencopetan di bus, penjambretan di terminal, perampokan di taksi, kekerasan disertai penganiayaan hampir setiap hari terjadi di Jakarta. Muaranya satu: urusan perut dan bertahan hidup. Masya Allah.

Cara-cara demikian atau kejahatan terjadi seiring tingginya kesenjangan sosial di ibu kota tersebut. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin tersudut. Rasa kasihan dan perhatian kepada kaum duafa mungkin hanya sedikit yang peduli. Muda-mudi makin trendi dan suka mejeng di mal. Katanya susah, tapi masih mampu kredit kendaraan dan rumah. Gengsi dianggap jauh lebih penting daripada kalah gaya. Konsumerisme nyaris menjadi budaya. Gaya hidup hemat seperti dianjurkan Nabi Muhammad tak banyak dianut. Ivestasi akhirat seperti zakat dan sedekah tak banyak diindahkan.

Korupsi para wakil rakyat di ibu kota pun terbilang tinggi dan bisa bikin geleng-geleng kepala. Korupsi itu sama seperti mencuri. Tak peduli maling ayam atau koruptor kelas kakap, harus dihukum secara setimpal.

Betapa kita harus berkaca dan menilik pada sabda Rasulullah: ”Jika Fatimah binti Muhammad mencuri, maka aku pun akan memotong tangannya.” (diriwayatkan oleh Imam Bukhari). Melihat ketimpangan sosial ini, saya teringat kembali pada hadis tersebut.

Bagi orang awam, pernyataan itu kedengaran sarkastis atau mungkin dalam bahasa George W. Bush disebut militan atau fundamentalis. Namun, bagi kalangan ulama, itu adalah salah satu dasar dalam proses law enforcement.

Kisahnya, seorang perempuan di zaman Rasulullah SAW sesudah fathu Makkah telah mencuri. Rasulullah lalu memerintahkan agar tangan wanita itu dipotong. Usamah bin Zaid menemui Rasulullah untuk meminta keringanan hukuman bagi perempuan tersebut. Mendengar penuturan Usamah, wajah Rasulullah langsung berubah. Beliau bersabda, ”Apakah kamu akan meminta pertolongan (mensyafa’ati) untuk melanggar hukum-hukum Allah Azza wajalla?” Usamah lalu menjawab, “Mohonkan ampunan Allah untukku ya Rasulullah.”

Pada sore harinya, Nabi SAW berkhutbah setelah terlebih dahulu memuji dan bersyukur kepada Allah. Beliau bersabda, “Amma ba’du. Orang-orang sebelum kamu telah binasa disebabkan jika seorang bangsawan mencuri, dibiarkan (tanpa hukuman), tetapi jika yang mencuri seorang awam (lemah), dia ditindak dengan hukuman. Demi yang jiwaku dalam genggaman-Nya. Jika Fatimah binti Muhammad mencuri, maka aku pun akan memotong tangannya.” Setelah bersabda begitu, beliau pun kembali menyuruh memotong tangan wanita yang mencuri itu.

Jakarta oh Jakarta. Dalam hati,saya berharap menjelang pulang ke Surabaya. Semoga kemiskinan yang sedemikian menonjol di ibu kota, atau kota-kota lain, dapat memicu kesadaran kita dalam berzakat dan menumbuhkan kepekaan sosial. Juga, pemerintah bisa bersikap tegas menindak para koruptor dan menegakkan keadilan. Semoga kita bisa memberantas KKN di negara ini menuju suatu baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur. Amiin..


Graha Pena, Juni 2008

Mengajar dengan Bahasa Cinta

Catatan: Eko Prasetyo

Julukan pahlawan tanpa tanda jasa yang diberikan kepada guru memang tak berlebihan.Mencurahkan perhatian dan membagi ilmu kepada anak didik adalah perbuatan mulia. Guru merupakan orang tua kedua, di mana mereka mengajarkan tentang pelajaran dan sesuatu yang sebelumnya belum kita ketahui.

Tak terbayang pengabdian sekian hingga puluhan tahun di dunia pendidikan demi membentuk para tunas bangsa menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Agaknya, terima kasih saja belum cukup untuk mengungkapkan rasa hormat kita kepada mereka akan bimbingan selama belajar di bangku sekolah.

Maka, sudah selayaknya pemerintah memberikan apresiasi kepada para guru. Sebab, jauh sebelum masa sertifikasi seperti sekarang, kesejahteraan para guru terbilang cukup memprihatinkan. Apalagi bagi guru yang mengajar di daerah-daerah terpencil dan jauh dari sentuhan informasi. Gaji yang mereka dapatkan kadang jauh dari kata cukup dan tak sepadan dengan pengorbanan serta pengabdiannya selama bertahun-tahun.

***

Ketika kantor kami pernah mengadakan program untuk guru di Jawa Timur, banyak pengalaman dan hikmah yang bisa saya petik dari beliau-beliau, para tenaga pendidik tersebut. Dalam suatu semiloka, saya sempat berbincang dengan beberapa guru. Di antara mereka mengaku bahwa menjadi guru adalah cita-cita mereka. Bahkan, di antaranya pun sadar bahwa tidak mudah untuk menghadapi kenyataan minimnya apresiasi terhadap para guru saat itu.

Tegar dan optimistis. Itulah spirit yang mereka usung dalam mendampingi anak-anak didik mereka. Mengajar dengan sepenuh hati. ”Saya mengajar bukan karena uang semata karena penghasilan guru tak seberapa. Namun, nasib para guru pun tolong diperhatikan,” tutur salah seorang guru. Ya, tidaklah kecil tanggung jawab yang disematkan di bahu para guru.

Tak sedikit orang tua yang mengeluhkan jika nilai anak mereka jeblok kepada guru. Tak jarang pula, para orang tua menuntut guru harus bisa membuat prestasi anak didiknya meningkat, atau minimal lulus ujian dengan angka baik. Sungguh, ini bukan hal yang semudah membalikkan telapak tangan. Namun, melihat kesabaran dan kecintaan para guru terhadap profesi mereka, pantaskah guru harus disudutkan dengan dilematika seperti itu? Ada guru yang menyambi memulung sampah plastik seusai mengajar di sekolah. Ada pula guru yang menyambi menjadi tukang pijat keliling kampung. Keadaan ekonomi serba sulitlah yang membuat mereka rela melakukannya. Pendapatan dari mengajar tak cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga selama sebulan. Selama pekerjaan sambian itu halal, mereka mengaku ikhlas menjalaninya sembari tak melepaskan tanggung jawab mendidik murid-muridnya. Subhanallah.

Sebuah kisah dari seorang guru SD di Lamongan mampu membuat mata saya basah dan merenungi kembali betapa selama ini posisi guru di daerah seperti beliau tidaklah mudah. Guru tersebut bertutur bahwa pendapatannya dari hasil mengajar hanya sebesar Rp 150 ribu per bulan. Sebagai guru tidak tetap, kondisi tersebut memaksanya untuk bekerja sambian sebagai tukang becak. Sedangkan istrinya membantu ekonomi keluarga sebagai buruh tani. Malu? Tidak. Beliau melakukannya dengan tabah dan senang hati. Meski demikian, beliau memiliki cita-cita agar anaknya bisa mengenyam pendidikan sampai sarjana agar tak mengalami nasib seperti kedua orang tuanya. Cintanya pada profesi guru pun ditekuni dengan rasa tanggung jawab tinggi. Subhanallah.

Patah tumbuh hilang berganti. Namun, harapan itu terus menyala di sanubari sang guru untuk memperjuangkan kesejahteraannya. Sementara masih banyak murid yang acap membuat gaduh di kelas, tidak menghormati saat gurunya menerangkan materi pelajaran, tapi perhatian dan buaian ilmu tetap diberikan oleh bapak dan ibu guru. Terkadang, saya merindukan masa lalu di saat mengenang semasa di bangku sekolah dasar kelas satu. Huruf demi huruf saya eja lewat tuntunan ibu guru. Setelah huruf, lalu menghafal kata dan mengucapkan kalimat lengkap. Saya atau kita mungkin belum tahu apa-apa tentang kalimat dan materi pelajaran waktu itu. Hingga akhrinya belajar memahami materi pelajaran dengan terapannya. Kita bisa karena guru. Kita belajar dengan tuntunan guru. Tugas mulia dan tanggung jawab guru atas kelangsungan pendidikan ada karena cinta. Sebab, mereka mengajar dengan bahasa cinta yang tak pernah meminta balas jasa dari murid lewat ilmu yang diberikannya. Terima kasih bapak dan ibu guru.

(sebuah pengalaman ketika Program Untukmu Guruku 2008 Jawa Pos)

Buat Nenek

Catatan: Eko Prasetyo

Kakek dan nenek saya adalah penganut Katolik yang taat. Tiap Minggu pagi, kakek tak pernah absen mengikuti misa kebaktian di gereja. Meski saya muslim, toleransi di antara kami sangat tinggi. Kakek dan nenek sangat menghormati ketika saya sedang salat. Karena bekerja di redaksi, tiap hari saya pulang larut pagi. Tak heran jika saya tidur menunggu setelah azan subuh. Selesai salat subuh, saya tidur hingga menjelang zuhur. Dan yang selalu membangunkan saya untuk segera bangun dan salat zuhur adalah mbah putri. Begitu pula jika ada kegiatan koor gereja atau mengikuti misa, saya selalu menyempatkan untuk mengantar kakek ke gereja. Di masa tuanya, kakek justru semakin aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di paroki setempat dan di Keuskupan Surabaya.

Sudah dua tahun ini, nenek saya menderita stroke sehingga jalannya sudah tidak seperti orang normal, tertatih-tatih. Kakek pun kena stroke meski tak seberat nenek. Karena itu, ikatan batin antara kami sangat kuat. Pernah saya berniat untuk kos karena tak ingin merepotkan mereka, tapi karena tak tega melihat wajah tua nenek yang melas, niat itu saya batalkan.

Saya pernah berterus terang kepada kakek dan nenek bahwa saya ingin sekali menikah tahun ini dan telah memiliki calon pendamping. Mereka bertanya siapa calon isteri saya. Saya menjawab bahwa perempuan terkasih itu berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah. Kami saling mengenal saat pertama bersua di Jawa Pos, tempat saya bekerja sekarang. Mereka tampak ragu. Lalu, nenek berpesan kepada saya agar mencari calon isteri yang baik dan memperhatikan saya.

Nenek mengatakan bahwa dia kasihan terhadap saya. Kerja sore, pulang pagi, dan mengurus keperluan kami bertiga sehari-hari. Nenek bertanya apakah saya akan meninggalkan mereka setelah menikah nanti. Saya tidak segera menjawab. Sejujurnya, justru saya yang iba mendengar hal tersebut.

Saya memeluk tubuh renta itu erat-erat. Keluarga nenek dan kakek saya memang tergolong pas-pasan. Ketika anak-anak mereka tidak tahu tentang keadaan orang tuanya yang mulai sakit-sakitan, saya mengikrarkan dalam hati untuk menjaga kakek dan nenek saya itu. Nenek saya berterus terang bahwa dia takut saya akan meninggalkan mereka setelah menikah. Hati saya tidak diciptakan dari batu, karena itulah saya menahan air mata karena terharu.

Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengasih. Dia mendengarkan doa saya saat saya ingin memperkenalkan calon pendamping saya kelak kepada nenek dan kakek. Bersamaan dengan kedua orang tua saya yang datang ke Surabaya awal Maret lalu, saya membawa serta calon isteri saya tersebut ke rumah nenek. Saya ingin membuktikan kepada keluarga bahwa saya benar-benar serius menjalin hubungan kasih dengan pujaan hati saya dan sangat mencintainya.

Tentu saja kedatangan saya dan calon pendamping hidup saya membuat terkejut nenek dan kakek saya. Awalnya, saya agak ragu karena perempuan tercinta adalah wanita berjilbab. Pasalnya, keluarga besar saya di Surabaya semuanya penganut Katolik yang taat, Calon isteri saya kemudian mencium tangan dan pipi nenek. Sambutan nenek saya ternyata di luar dugaan. Nenek sangat bahagia dan sering melempar tawa renyah. Belum pernah saya melihat nenek seceria itu. Saya ikut merasakan kebahagiaan tersebut. Alhamdulillah ya Rabbi atas kebahagiaan pada hari itu.

****

Belakangan, nenek kembali jatuh sakit. Strokenya kambuh. Kadang, saya harus segera bangun ketika nenek memanggil nama saya. Saat dia merintih dan meminta bantuan untuk buang air besar, saya benar-benar tak tega. Tubuhnya makin kurus. Sampai-sampai tubuh saya yang juga kurus masih sanggup menggendong beliau sendirian ke kamar mandi.

Pernah karena sudah tak bisa menahan, nenek terpaksa berak di kasur. Nenek berkali-kali meminta maaf kepada saya karena merasa merepotkan saya. "Mboten mbah, mboten nopo-nopo, " jawab saya setengah terisak. Laki-laki segagah apa pun pasti runtuh karena mendengar ucapan nenek saya. Kakek saya sendiri membantu mencuci seprei yang kena kotoran tersebut. Sedangkan saya membersihkan tubuh nenek dan mencuci pakaiannya. Suasana benar-benar senyap, hanya terdengar rintihan nenek yang mengerang kesakitan. Mata saya masih pucat karena kurang tidur. Pagi itu juga, nenek masuk rumah sakit. Saya yang hampir-hampir tak sanggup bekerja pada hari itu sempat tertidur di paviliun 12 RS RKZ Surabaya, tempat mbah putri dirawat.

Meski dijaga oleh anak-anaknya, nenek kadang menanyakan kepada pakde atau bude saya apakah saya sudah makan ketika berangkat ngantor. Subhanallah. Apa yang bisa saya lakukan selain berdoa memohon kesembuhan bagi wanita senja yang sangat saya kasihi tersebut meski kami berbeda keyakinan. Saya merindukan keceriaannya.

****

Dini hari saat pulang kantor, saya tengok sebentar kamar nenek dan kakek. Di meja makan, tak tersedia makanan apa-apa, tak seperti dulu saat nenek masih sehat tiga tahun yang lampau. Urat-urat di tangan saya nampak akrab tanda bahwa tubuh saya tambah kurus. Lapar perut saya tak mengapa, asal nenek dan kakek saya sudah makan. Sayang, mereka tak menyantap makanan orang sehat. Sehingga, untuk sekadar makan nasi pecel saja nenek tak berani memakannya. Tiap hari, hanya tempe dan tahu tanpa garam dengan kecap manis.

Manakala tangan lemahku tak berdaya untuk menengadah, biarlah hati ini bicara tentang permohonan. Wajah tua nenek tercinta, tak lupa kecupan manis kuberi di keningnya yang berkerut saat pulang kerja. Ampuni dosa-dosaku ya Allah. Ampuni dosa kedua orang tuaku...

(eramuslim, 16 April 2008)

Kumandang Azan Sore Itu


Catatan: Eko Prasetyo

Kawasan sekitar Raya Darmo dan Wonokromo sehari-hari memang amat padat. Jika sore, arus lalu lintas tak jarang macet dan tersendat. Jika sore melintas di depan Masjid Al-Falah di Raya Darmo, saya teringat kejadian dua tahun yang lampau. Seorang laki-laki separo baya bertampang lusuh dan menggelar tikar di pinggir trotoar kini tak pernah saya jumpai lagi.

Awalnya, saya menyangka bahwa orang itu adalah gelandangan ataupun pengemis. Sebab, hampir tiap sore saya melihatnya di tempat yang sama. Namun, sore itu, sore yang kesekian saya melihatnya, ada hal yang terus membekas di hati saya hingga sekarang.

Kumandang azan Ashar bergema sayup-sayup dari Masjid Al-Falah. Terdengar indah dan menggugah hati untuk segera menghadap Allah. Kebetulan, saat itu saya membelokkan motor ke masjid tersebut untuk mengikuti salat Ashar berjamaah. Suasana teduh dan basuhan air wudu membuat wajah segar kembali karena cuaca di Surabaya yang amat terik terasa membakar kulit waktu itu.

Usai salat, saya bermaksud kembali ke kantor. Tegukan air mineral terasa segar membasahi kerongkongan yang haus. Cuaca sore itu benar-benar panas. Tak terbayang, jika panasnya surya di dunia saja sudah amat menyengat seperti ini, lantas bagaimana bila manusia sudah berada di Padang Mahsyar saat matahari hanya berjarak satu jengkal di atas kepala? Mahasuci Allah dengan segala kebesaran dan keagungan-Nya.

Bermaksud menggeber motor bergegas kembali, di seberang trotoar dekat POM bensin, saya tak sengaja melihat laki-laki paro baya yang biasa saya jumpai sedang tegap berdiri. Tetap sama dengan penampilannya yang agak dekil, namun gelaran tikarnya menjadikan orang itu berbeda daripada biasanya.

Entah, terlepas orang tua itu gelandangan atau bukan, namun aksinya saat itu membuat hati saya bergetar kagum. Saya tak menyangka dan tak percaya ketika melihat orang tua itu sedang salat. Detik demi detik berlalu, saya tak lagi berselera mempercepat laju motor saya. Dari kejauhan, saya termangu dan merasa bersalah.

Mungkin, dia miskin. Atau, barangkali dia memang gelandangan karena pakaiannya memang sungguh tak layak untuk dipakai. Tapi, perbuatannya mampu membuat saya tercenung.

Di tengah lalu lalang padatnya arus kendaraan, di tengah padatnya aktivitas kerja, ada hamba Allah yang tak alpa menunaikan kewajibannya, salat. Kadang, dengan alasan sibuk dan menuntaskan pekerjaan, kita lalai dan mengabaikan waktu salat. Dunia serasa mendapat tempat istimewa ketimbang perbuatan yang pertama dihisab di akhirat nanti. Slogan waktu adalah uang terkadang membuat kita lengah dan mau diperbudak oleh dunia. Uang dianggap segala dan dipuja bak dewa.

****

Laki-laki paro baya tadi membawa ingatan ini tak kala saya untuk pertama kalinya mengucap dua kalimat syahadat di Masjid Al-Akbar. Tak banyak saksi saat itu. Nasihat ustad yang membimbing saya bersyahadat untuk tidak meninggalkan salat masih terngiang. Salat adalah tiang agama. Dan orang yang tidak mendirikan salat berarti telah merobohkan tiang agama. Saya sujud sesyukur-syukurnya saat menjadi mualaf saat itu. Ini agama yang paling indah dan ajarannya menyentuh serta menyejukkan hati.

Sejak hidayah itu menyapa lewat mimpi di tiga malam berturut-turut, saya makin mantap untuk memeluk Islam dan menjadi umat Rasulullah. Mendengarkan tausiyah dan belajar salat adalah kenikmatan luar biasa yang saya rasakan dan tak bisa diungkapkan dengan kata.

Sungguh, ketika saya lalai dan mengutamakan pekerjaan ketimbang salat tepat waktu, saya malu pada laki-laki tua tadi. Bahwa Allah SWT tak pernah melihat hamba-Nya dari harta dan fisiknya, tapi ketakwaannya. Bukankah sebaik-baik hamba yang mulia di sisi Allah adalah mereka yang bertakwa?

Menatap orang tua tersebut berdiri hingga sujud menghadap kiblat membuat hati saya menjadi gerimis. Mungkin, dia tampak rendah di hadapan sesamanya, namun di hadapan Allah belum tentu.

Senja segera menjelang. Saya kembali dengan berpeluh takjub. Tikar kusam tergelar sebagai sajadah. Wajah lusuh dan mungkin saja menahan lapar terpekur bermunajat. Dia hamba Allah, aku pun hamba Allah. Wajahnya yang tak pernah lagi terlihat di sudut trotoar itu tetap terkenang hingga kini. Semoga Allah melindunginya.

Ampuni kekufuran hamba Yaa Rahman, Yaa Rahiim.. Jadikanlah lidahku terbiasa bersyukur dan mengucap ampunan kepada-Mu. Amiin

Graha Pena, April 2008
Mengenang bapak tunawisma di Wonokromo

(tulisan ini dimuat di eramuslim, 27 April 2008)

Langit Nyaris Pecah




Oleh: Eko Prasetyo

”Ada dua kejadian yang membuat langit hampir saja pecah..”


Bumi yang semakin tua terhampar luas sejauh mata memandang. Lalu, langit menaungi tanpa syarat. Seluruh alam bertasbih menurut peredarannya. Semua jadi pertanda kebesaran-Nya. Allah bisa sangat lembut dengan sifat-Nya yang Maha Pemurah. Tapi, Allah pun bisa sangat murka jika hamba-hamba-Nya berbuat kemunkaran di luar batas. Ada dua kejadian yang membuat langit hampir saja pecah.

Pertama, langit nyaris pecah karena manusia menganggap bahwa Allah itu mempunyai anak.

Dalam Alquran, hal itu ditegaskan pada ayat:
"Hampir saja langit pecah dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu) karena mereka menganggap Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak," (QS Maryam: 90-91).

Tidak bisa dibayangkan betapa dahsyatnya murka Allah karena menilai bahwa Allah memiliki anak. Allah yang memiliki sifat mukhalafatu lil hawadits (berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya) disamakan dengan manusia (yang berkembang dengan cara beranak) yang justru diciptakan untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya.

Untuk itu, Allah menegaskan dalam Alquran surat Al-Ikhlash ayat 3-4, ”Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.”

Pada zaman teknologi serbacanggih seperti saat ini, peristiwa yang berkaitan dengan kejadian alam atau apa pun kerap dikaji dengan sebab ilmiah atau logika. Misalnya, musibah tsunami, longsor, banjir bandang, gempa bumi, dan lain-lain. Peristiwa yang disebabkan oleh kejadian alam tersebut selalu dikaji dan dijelaskan dengan alasan-alasan ilmiah. Padahal, selalu ada hal yang tak bisa dijelaskan dengan logika atau akal manusia. Di situlah kebesaran Allah akan semua rahasia dan ketetapan-Nya.

Karena itu, penyamaan Allah dengan makhluk ciptaannya –manusia– merupakan perbuatan yang sangat tercela. Apalagi menganggap bahwa Dia Yang Mahaperkasa mempunyai anak: Allah akan sangat murka.

Kejadian kedua yang membuat langit hampir saja pecah adalah keagungan Allah.

Dijelaskan dalam Alquran surat asy-Syura ayat 5:

"Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Allah) dan malaikat-malaikat bertasbih memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS asy-Syura: 5)

Begitu indah bahasa Alquran menggambarkan kejadian itu. Di mana para malaikat bertasbih memuji kebesaran Allah SWT serta memohonkan ampunan bagi manusia di bumi. Dan kejadian tersebut nyaris membuat langit pecah.

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar..

Betapa indah dan agungnya Allah. Kekuasaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Sampai-sampai takkala Nabi Musa ingin melihat Allah SWT di Bukit Tursina, lalu Allah menampakkan kebesaran-Nya pada langit, bukit tersebut hancur dan Nabi Musa jatuh pingsan. Langit pun hampir saja pecah karena takjub dan tak mampu melihat kebesaran dan keagungan Ilahi Rabbi. Subhanallah.

Kejadian ini sering luput dari kajian kita. Satu kejadian luar biasa, meski berbeda sebab, yang dapat mengakibatkan langit nyaris pecah.

Mengambil Hikmah

Di antara dua peristiwa yang hampir membuat langit pecah itu, banyak hikmah yang dapat dipetik.

Terkadang, tanpa kita sadari, saat kita berkuasa, kita berperi laku hendak menyamai Allah.

Merasa sebagai atasan, kita memperlakukan bawahan kita sekendaknya. Seolah, atasan adalah pemegang nasib bawahan. Tanda tangan atasan seakan sangat menentukan masa depan bawahannya. Hasilnya, senyum karena kontrak kerja diperpanjang atau muka sedih karena kontrak kerja berakhir.

Bahkan, uang bisa dianggap sebagai dewa dan layak disembah. Dengan uang, orang bisa membeli kekuasaan. Dengan uang, darah seseorang seakan tak ada nilainya. Dengan uang, dunia seolah bisa direngkuh.

Penguasa bisa mengebiri rakyat. Sebab, ini memang sudah jadi tren di negara kita. Politik jadi senjata untuk memperalat rakyat. Yang menentang ”diamankan.” Bahkan, pada era sebelumnya, darah rakyat penentang kekuasaan ”dihalalkan.”

Tak semestinya manusia berbuat menyerupai kekuasaan Allahu azza wa jalla. Bahkan, atas diri sendiri pun, manusia tidak memiliki hak. Allah lah yang sangat berhak berlaku takabur (Al Mutakabbir). Sebab, Dia-lah yang Maha Memiliki Segala Keagungan.

Karena itu, sudah seharusnya kita bersyukur dan merendah memohon ampunan Allah SWT. Tidak sepantasnya seorang hamba itu bangga dengan kekuasaan, uang, ataupun kepandaian. Sebab, semua itu harus dipertanggungjawabkan kelak pada hidup sesudah mati, kehidupan yang kekal: akhirat.

Sedangkan mendengarkan suara petir yang keras saja kita dibuat kaget dan takut, apalagi bila langit itu pecah. Saat kita menertawakan orang lain, saat kita membentak bawahan, saat kita menghukum murid yang bebal, pernahkah terlintas bahwa langit hampir saja pecah karena kesombongan kita. Maka, jangan membuat langit nyaris pecah karena Allah murka jikalau dengan bertasbih memuji keagungan-Nya saja langit nyaris pecah.

Graha Pena, 8 April 2008

Detik-Detik Sakaratul Maut Rasulullah


sumber: unknown

Inilah bukti cinta yang sebenar-benarnya tentang cinta, yang telah dicontohkan Allah SWT melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit mulai menguning di ufuk timur, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya.

Rasulullah dengan suara lemah memberikan kutbah terakhirnya, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka, taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Alquran dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku. Dan kelak, orang-orang yang mencintaiku akan masuk surga bersama-sama aku.”
Kutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu per satu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang. Saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta etrsebut hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba, dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi, Fatimah tidak mengizinkannya masuk. “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian, dia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah.
“Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku. Orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya tersebut hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut,” kata Rasulullah. Fatimah menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut telah datang menghampiri. Rasulullah pun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya. Kemudian, dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut roh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka. Para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.
Tapi, semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak, sepeninggalanku?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril meyakinkan.
Detik-detik kian dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan, roh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh. Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara, Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Jibril pun memalingkan muka.
“Jijikkah engkau melihatku hingga engkau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril sambil terus berpaling.
Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku,” pinta Rasul pada Allah.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku. Peliharalah salat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”
Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya. Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii, ummatii, ummatiii?” Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran kemuliaan itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Saat Perut Lapar



catatan: Eko Prasetyo

Entah, kapan kali terakhir saya melihat foto seorang bocah kurus kering sekarat yang di sampingnya ditemani burung bangkai. Foto yang pernah menjadi salah satu foto terbaik dunia itu diambil di salah satu negara Afrika. Sang fotografer begitu jitu membelalakkan mata dunia lewat foto tersebut. Beberapa waktu kemudian, sang fotografer mengalami depresi berat dan bunuh diri setelah mengambil gambar itu.

Pesan sosial dalam foto tersebut begitu dalam. Burung bangkai di samping bocah itu bagai malaikat maut yang siap mencabik-cabik tubuh sekarat tersebut. Menggetarkan. Betapa di sudut dunia yang semakin renta ini, lapar bisa menjadi pembunuh. Bukan salah Tuhan membuat takdir. Bukan salah pemimpin yang lalai. Bukan salah kita yang terkadang masih acuh. Bukan salah siapa. Sebab, menyalahkan adalah sikap yang menertawai kekerdilan sendiri.

Di Indonesia, kasus balita busung lapar dan bayi kurang gizi mencapai angka yang mengkhawatirkan. Sekitar 25 persen penderita di antaranya meninggal. Ramainya bursa kampanye untuk pemilihan kepala daerah, bahkan kampanye tersembunyi pemilihan presiden yang masih jauh pada 2009, telah menghabiskan uang miliaran rupiah. Tujuan utamanya: mencari dukungan! Seperti yang sudah-sudah, pergantian kepemimpinan bak aroma sedap malam yang harumnya mudah hilang dalam sekejab.

Menjadi pemimpin adalah tugas mulia. Namun, jika ada pemimpin yang tidak tahu terdapat 20.000 lebih balita meninggal di antara 210 juta lebih rakyatnya, ini sangat ironis. Jumlah itu bukan angka kematian yang disebabkan penyakit umum, tapi lapar. Ya, rakyat lapar!

Andai ada pemimpin yang tulus menengok langsung wajah-wajah lesu tanpa gairah karena lapar di Wamena, Kupang, Ponorogo, Kendari, Sampang, Boyolali, atau di mana pun di area kekuasaannya. Tanpa jas, tanpa dasi, tanpa basa-basi. Tanpa omong kosong tentang birokrasi kompleks. Satu bangsa, sakit satu anggota badan, terasa di seluruh tubuh. Mereka butuh makanan, bukan janji kesejahteraan. Orang lapar hanya terpikir satu kata: makan.

Manakala satu kaki saya tak mampu menyangga badan untuk menunaikan salat Jumat kala itu, merebah menghadap kiblat mengucap syukur dalam empat rakaat zuhur ini. Teringat, bayi perempuan berusia empat bulan di sebuah kampung di Nginden, Surabaya, yang menderita hydrocepallus. Bantuan duafa dari sebuah lembaga amil untuk keluarga bayi tersebut menggerakkan nurani saya. Saya yang tidak punya apa-apa akhirnya menjual ponsel lawas saya karena keinginan untuk melihat bayi cantik tersebut bisa survive. Meski, uang tersebut tak ada artinya buat biaya pengobatannya. Saat menggendongnya, keharuan membuncah kala teringat pada foto bocah malang di Afrika tersebut. Bahagia sekali melihat ibu dari bayi itu tersenyum dan memeluk tubuh saya.

Cat: Nama fotografer itu Kevin Carter, fotografer Reuters. Foto tersebut dimuat di New York Times pada 1994. Carter memenangi Pulitzer untuk foto berita terbaik tahun
itu.

Surabaya, November 2007