Sang Guru



Catatan Eko Prasetyo

Puluhan tahun silam, Prof Surya bertekad keluar dari sebuah perusahaan nuklir di Amerika Serikat. Saat itu temannya sangat terkejut. Dia menanyakan alasan profesor yang jago fisika tersebut. Surya menjawab, dirinya akan pulang ke Indonesia dan menjadikan anak-anak nusantara menjadi juara dunia di olimpiade sains.

Saat mengatakan bahwa dirinya hendak mencetak juara dunia fisika dari Indonesia, banyak yang menertawakannya. Ucapan itu diulangi tiap tahun. Tak ada kata putus asa dan menyerah.

Hari ini saya menerima kabar dari seorang teman. Dia baru saja menyelesaikan pendidikan pascasarjana di sebuah perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka di negeri ini. Dia mengatakan akan kembali ke kampung halamannya di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Padahal, dia telah digadang-gadang untuk melanjutkan pendidikan S-3 di luar negeri.

Saya percaya karena dia memang dikenal cerdas dan pandai, baik dalam hal akademis maupun sosialisasi. Dia amat yakin ingin pulang dan meninggalkan beasiswa S-3 di depan mata itu. Ketika saya tanyakan alasannya, jawabannya mirip dengan tekad Prof Surya sekian tahun silam tersebut.

Teman saya itu ingin menjadi pendidik di kampung halamannya. "Daerah saya membutuhkan orang-orang seperti saya. Selama ini, saya melihat bahwa daerah itu kekurangan SDM di bidang pendidikan," ujarnya mantap.

Keraguan yang semula bergelayut di hati saya berubah menjadi kebanggaan. Saya sangat mendukung niat tersebut.

Selama ini, saya memang melihat bahwa kualitas tenaga pendidik, baik di daerah maupun kota, masih belum baik. Mengajar hanya dijadikan rutinitas, tanpa niat untuk benar-benar memintarkan murid-muridnya. Ada guru yang "tega" meninggalkan jam pelajaran demi sebuah sertifikat seminar. Bahkan, banyak yang berani memalsukan karya tulis ilmiah demi lolos sertifikasi, demi jabatan dan pangkat.

Ada seorang guru yang buru-buru pulang, padahal jam kerjanya belum usai. Dia kedapatan pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Dia tak malu dengan seragam dinasnya, tak malu pada dirinya sendiri. Ada sebuah tanggung jawab yang tertanggal.

Saya baru mengedit kasus memalukan di sebuah sekolah menengah atas negeri di Surabaya. Sekolah tersebut diindikasi meminta pungutan kepada orang tua siswa yang ekonominya kurang mampu. Kasus ini menampar dunia pendidikan di Kota Pahlawan. Beberapa waktu lalu, kasus serupa menimpa sekolah tersebut. Seorang guru menghajar muridnya dan kasus lain adalah pungutan liar kepada orang tua siswa.

Ini sebuah pekerjaan rumah (PR) yang amat berat bagi pendidikan negeri ini.

Karena itu, saya sangat mendukung niat tulus teman saya tadi untuk kembali dan membangun generasi berkualitas di daerahnya. Saya berharap agar dia bisa merealisasikan cita-cita itu, seperti halnya Profesor Surya. Dia begitu brilian dan membuktikan bahwa dia bisa mencetak juara-juara dunia olimpiade sains dari Indonesia.

Ya, juara dunia sains dari Indonesia. Saya merinding membaca buku Mestakung karya Surya. Dalam satu kisah, seorang peserta dari Indonesia berhasil meraih medali emas di sebuah olimpiade fisika sedunia. Saat nama Indonesia disebut dan Indonesia Raya diperdengarkan, semua hadirin melakukan standing ovation dan aplaus luar biasa.

Itulah mimpi yang jadi nyata. Saya berdoa mudah-mudahan banyak orang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap roda pendidikan di tanah air ini seperti mereka. Semoga!

”Dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa
dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir,” (QS Yusuf 87)


(tulisan ini dedikasikan untuk sang sahabat di kota dingin)

Graha Pena, 8 Januari 2010

Tidak ada komentar: