Stop Kriminalitas Pendidikan



Oleh Eko Prasetyo

Mengejutkan. Saya mengelus dada saat membaca curahan hati seorang pelajar sebuah SMP di Jawa Barat. Betapa tidak, dia begitu rinci menjelaskan berbagai ”keanehan” yang dilihat langsung selama mengikuti unas. Kebetulan dia mengikuti unas di sekolah lain. Di situlah dia menyaksikan hal tidak terpuji tersebut.

Saya mendapatkannya di sebuah milis pendidik. Berikut cuplikan tulisan siswa tersebut.

Selama saya mengikuti UN di sekolah A ada sesuatu yang membuat saya dan teman saya merasa geram, yaitu ulah para murid SMP itu yang berlaku curang dalam mengerjakan soal UN. Mereka mendapat kunci jawaban semua mata pelajaran UN, mereka mendapatkan kunci jawaban itu dari guru mereka sendiri.

Pada paragraf lainnya, si murid tersebut melanjutkan curhatnya yang membuat saya tercengang. Berikut petikan curhat itu.

Banyak sekali cara mereka menyembunyikan kunci jawaban itu ketika UN berlangsung, diantaranya ada yang menuliskan kunci jawaban di sepotong kertas kecil, diatas papan jalar, diatas meja, didalam kaos kaki, dan masih banyak cara mereka yang lain.

Siswa tersebut berusaha menahan diri. Sebelumnya, dia telah diajarkan oleh gurunya untuk menjunjung tinggi kejujuran saat unas. Tidak boleh menyontek, apa pun risikonya, misalnya tidak lulus sekalipun. Ketika ditawari jawaban soal oleh siswa lain, dia menolaknya. Takut, katanya. Di paragraf berikut, hal tersebut dia sampaikan.

Melihat semua itu membuat saya marah, bahkan membuat saya takut pada Allah karena saya tidak bisa melakukan apa-apa disaat saya menyaksikan itu semua. Tapi, kenapa mereka yang melakukan hal itu tidak punya rasa takut pada Allah? dan kenapa guru mereka justru menjerumuskan mereka pada yang perbuatan yang salah?. Entah apa yang ada dipikiran mereka.

Saya kagum pada siswa tersebut. Pertama, saya acungi jempol buat dia karena tulisannya sangat bagus untuk anak seusianya. Saya sengaja tidak mengedit sedikit pun tulisannya. Saya biarkan begitu apa adanya. Sebuah ungkapan yang polos dan jujur dari seorang pelajar.

Kedua, saya kagum atas keberaniannya mengungkapkan kecurangan tersebut. Ketiga, ini yang utama, saya salut dengan keputusannya untuk tidak menerima jawaban soal unas. Alasannya, takut kepada Allah. Bahkan, dia menyatakan takut karena merasa tak bisa berbuat apa-apa ketika melihat kecurangan itu terjadi. Subhanallah.

Kekagetan saya berlanjut saat mendapatkan”oleh-oleh” dari ibu angkat saya di Bogor. Beliau kebetulan memiliki teman yang menjadi pengawas unas di sekolah lain. ”Oleh-oleh” yang saya maksud adalah pengalamannya selama tiga hari menjadi pengawas unas di sekolah lain. Dia menceritakan, pada hari pertama unas, tidak ada keanehan dan keganjilan.

Pada hari kedua, para siswa mengerjakan soal unas bahasa Inggris. Nah, saat itulah, dia menyaksikan kecurangan di dalam kelas. Misalnya, beberapa siswa tampak sibuk dengan kertas jawaban tanpa melihat soal di hadapan mereka.

Si guru pengawas itu curiga, para murid tersebut sudah memiliki kunci jawaban. Kecurigaannya terbukti setelah menanyakan kejanggalan tersebut kepada seorang siswa. Siswa tersebut mengatakan, jika datang lebih pagi, mereka bakal dapat kunci jawaban sudah beredar di kelas. Siswa itu tidak menyebutkan sumber kunci jawaban tersebut.

Kekecewaan si pengawas tersebut bertambah ketika dia melihat pemandangan menyedihkan pada hari ketiga. Saat itu, soal unas yang dihadapi adalah matematika. Ketika dia mengedarkan daftar hadir pada setengah jam pertama, beberapa mruid sudah menandai lembar jawabannya dengan titik-titik (sebagai tanda). Padahal, soal belum disentuh.

Pada hari terakhir unas, ketika pelajaran IPA, si guru pengawas itu tidak mendeteksi kecurangan. Tapi, tampaknya tim pengawas independen (TPI) dari unsur mahasiswa mulai merasa ada kecurangan. Itu terlihat dari seringnya intensitas mereka mengamati kelas, jauh lebih sering ketimbang hari-hari sebelumnya. Mereka mengintip dari jendela dan membuat catatan-catatan.

Tapi, banyak guru yang tidak suka dengan menyindir TPI saat pengumpulan berkas. Padahal, TPI menjalankan tugas sesuai fungsinya.

Ibu angkat saya lantas memberikan catatan kecil yang ditulis oleh guru pengawas itu. Berikut cuplikan tulisannya yang tidak saya edit sama sekali.

Beberapa hal yang menjadi bahan perenungan saya:
1. Ternyata masih banyak guru yang tidak mencerminkan akhlak yang terpuji dilihat dari interaksi antara bukan muhrim, memanggil dengan sebutan yang tidak baik dan saya sangat…sangat astaghfirullah dan ngeri dengan pendidikan di sekolah “negeri.”
2. Masih banyak guru yang pro terhadap kecurangan dengan alasan kasihan jika anak-anak tidak lulus dan membuat malu guru, terutama kepala sekolah.
3. Berharap semakin banyak ikhwah bisa masuk ke lini ini karena guru, bagaimanapun menjadi panutan bagi murid-muridnya…

Dua pengalaman dari siswa SMP dan guru pengawas di atas cukup menjadi gambaran bahwa kriminalitas telah merambah dunia pendidikan kita. Kronis pula!

Dengan membiarkan anak-anak kita menerima jawaban soal unas, itu sama dengan menanamkan benih ketidakjujuran. Mereka dibiarkan berbuat kriminal dengan mengorbankan kejujuran dan kehormatan.

Masalah ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar. Karena itu, kita mesti bisa belajar dari kesalahan hari ini dan menjadi lebih baik esok hari. Stop kriminalitas pendidikan sekarang juga! Jika tidak, jangan salahkan jika banyak orang yang mengumandangkan kalimat sastrawan Taufiq Ismail. Yakni, Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.

Wallahu ’alam bishshawab.

Graha Pena, 29 April 2010
prasetyo_pirates@yahoo.co.id
(sumber foto: Kompas)

Introspeksi bagi Semua



Catatan Eko Prasetyo,
editor Jawa Pos

Ujian nasional (unas) telah diumumkan. Hasilnya, diperoleh data bahwa angka kelulusan turun empat persen dibandingkan tahun lalu. Angka kelulusan yang semula 93,74 persen (2009) kini anjlok menjadi 89,88 persen (metrotvnews.com, 26/4/2010).

Seperti yang sudah-sudah, hasil pengumuman unas selalu mengundang pro dan kontra. Baik di kalangan pejabat, orang tua, sekolah, maupun murid. Banyak yang meminta unas tidak dijadikan tolok ukur kelulusan. Tak sedikit yang mengkritik bahwa unas sudah melenceng dari hakikatnya dan tujuan semula, yakni memetakan pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia.

Seperti yang sudah-sudah pula, unas tahun ini menelan korban. Kompas (27/4/2010) melaporkan, Wahyu Ningsih, siswi di SMKN di Muaro Jambi, tewas bunuh diri. Diduga, dia nekat mengakhiri hidupnya karena tak lulus unas. Nilai bahasa Indonesianya mendapatkan poin absolut: delapan. Namun, nilai matematikanya hanya tiga koma. Stres dan shock berat melanda gadis 17 tahun itu. Akal sehat pun seolah dipinggirkan. Wahyu memilih menenggak racun untuk menutupi rasa malunya lantaran tak lulus unas. Menyedihkan.

Malam setelah deadline (27/4), saya menyempatkan menonton berita di televisi. Salah satu topik berita adalah pengumuman kelulusan siswa SMA di Sulawesi Selatan. Banyak yang kedapatan tidak lulus. Sang kamerawan menyorot puluhan siswa-siswi yang menangis histeris karena tidak lulus unas. Bahkan, ada yang pingsan. Mereka menyesal karena tak bisa berbagi bahagia dengan rekannya yang lulus.

Dunia pendidikan kita pun tak akan lupa dengan kasus di SMAN 2 Ngawi pada 2009. Saat itu, mereka mencatat rekor tidak lulus unas 100 persen. Yang ironis, para siswa sekolah tersebut diduga mendapatkan jawaban palsu.

Masih pada 2009, seorang siswa SMA bernama Tri Sulistiono nekat menceburkan diri ke dalam sumur sedalam 15 meteri di rumahnya. Diduga, dia melakukan bunuh diri lantaran tak kuat menanggung beban psikis setelah dinyatakan tidak lulus unas (Suara Merdeka, 25/6/2009).

Dengan fakta tersebut, tak heran jika ada pihak yang menyebut bahwa unas bisa menjadi ”pembunuh”.

Introspeksi bagi Pemerintah
Kejadian memilukan seputar siswa yang bunuh diri gara-gara tak lulus unas seharusnya bisa membelalakkan mata pemerintah. Dalam hal ini, Kemendiknas yang memiliki otoritas di bidang pendidikan seharusnya mengambil langkah evaluasi terhadap unas. Khususnya, dampak unas sebagai penentu kelulusan dengan patokan nilai yang ”mencekik”.

Bagi siswa-siswa di kota besar, yang mungkin rutin ikut tryout dan berbagai bimbel, unas mungkin bukan momok menakutkan. Namun, bagi siswa lain di daerah, yang jarang terdapat bimbel, unas bisa jadi monster.

Pemerintah juga tak boleh melupakan terjadinya berbagai kasus yang mencoreng pendidikan terkait unas. Di antaranya, tertangkapnya sejumlah kepala sekolah, guru, dan staf dinas pendidikan di Bengkulu Selatan (Detiknews, 8/6/2009). Mereka diduga mencuri soal unas. Untung, soal belum dibagikan ke siswa sehingga unas urung bocor.

Yang paling mutakhir, dua siswa SMAN 2 Medan (SN dan JWB) ditangkap polisi karena membawa lembar jawaban soal unas pada hari pertama ujian (Tempointeraktif, 23/32010). Di Dumai, Riau, ratusan siswa SMP mengaku menerima SMS jawaban unas (Suara Merdeka, 1/42010). Hal serupa terjadi di berbagai daerah seperti Cirebon, Pekanbaru, Garut, Lhokseumawe, dan lain-lain.

Kasus-kasus yang merendahkan dunia pendidikan tersebut seharusnya mampu membuka mata hati dan nurani otoritas pendidikan di negeri ini. Kita tentu tak ingin kasus pencurian soal unas oleh pelaku pendidikan dan bunuh diri lantaran stres tak lulus unas oleh siswa terulang pada masa mendatang.

Penerapan unas sebagai iklim penentu kelulusan sudah saatnya ditinjau ulang. Mengingat, peta pendidikan di tanah air sebenarnya belum merata.

Instrospeksi bagi Yang Tak Lulus

Setelah pengumuman hasil unas 2009, banyak pihak berharap agar kasus pelajar yang bunuh diri dengan mencebur sumur tidak terulang. Nyatanya, kasus bunuh diri murid yang tak lulus unas terjadi lagi tahun ini.

Memang, tidak lulus unas bisa menjadi beban moral bagi siswa yang tidak lulus. Mereka merasa putus asa setelah perjuangannya selama tiga tahun harus beujung pada kegagalan. Mereka mungkin tak kuat menanggung malu di hadapan keluarga, teman, dan masyarakat. Tidak lulus unas dianggap petaka.

Sebenarnya, para siswa yang tidak lulus unas tidak perlu berkecil hati. Mereka juga tidak perlu larut dalam keputusasaan. Sebab, masih ada kesempatan pada ujian kedua. Pintu masa depan belum tertutup. Seandainya tidak lulus pun, rasa sedih tak boleh dibiarkan berlama-lama dan berlarut-larut. Mereka harus bisa menjadi ”pemenang.” Artinya, mereka bisa menginstrospeksi diri sendiri. Sudah benarkah pola belajar selama ini? Pantaskah saya lulus jika jarang belajar dan tak memperhatikan guru ketika pelajaran berlangsung? Pertanyaan inilah yang mesti dijadikan cermin sekaligus cambuk penyemangat.

Introspeksi bagi Semua
Memang, unas tak melulu memuat kepedihan, kesedihan, dan keputusasaan. Banyak yang terbuai euforia bagi yang lulus unas. Namun, perlu juga dicatat, tak sedikit siswa yang lulus merayakannya dengan cara berlebihan yang justru bukan kegiatan positif. Misalnya, mencoret-coret seragam, menenggak minuman keras, dan konvoi roda dua yang mengganggu lalu lintas. Euforia yang memprihatinkan.

Mungkin, kita juga perlu memahami mengapa mereka melakukan perbuatan yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain tersebut. Bisa jadi, perayaan unas dengan konvoi dan mencoret seragam merupakan cara untuk ”membunuh” rasa khawatir mereka. Yakni, kekhawatiran akan tidak lulus.

Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan mereka digembleng dengan pelajaran-pelajaran yang diunaskan. Begitu takutnya mereka akan unas sehingga ada siswa yang pergi ke dukun untuk meminta jampi-jampi supaya bisa lulus unas. Maka, ketika benar-benar dinyatakan lulus, mereka merasa seperti meraih kemenangan besar.

Lulus unas dianggap sebagai akhir dari perjuangan. Padahal, perjuangan tidak boleh berakhir. Orang yang akan meninggal (sakaratul maut) pun pasti berjuang, yakni mengucapkan kalimat tauhid agar mencapai kematian yang baik (husnul khatimah). Maka, drama unas yang melulu berisi tragedi ini hendaknya menjadi introspeksi bagi kita semua.

Graha Pena, 28 April 2010
prasetyo_pirates@yahoo.co.id
(sumber foto: Kompas.com)

Kejujuran Itu Langgeng

Oleh Eko Prasetyo*)

Hari ini (26 April 2010), hasil ujian nasional (unas) siswa SMA/SMK/MA diumumkan. Saya tidak hendak menyoroti banyaknya siswa yang tak lulus unas. Sebab, dalam ujian, pasti ada yang lulus dan tidak lulus. Dengan standar nilai kelulusan yang cukup ”mencekik” plus ketatnya pengawasan, tingginya angka ketidaklulusan merupakan keniscayaan.

Ada hal yang lebih menarik untuk dicermati, disikapi, dan diatasi. Yakni, krisis kejujuran. Tak bisa dimungkiri, salah satu penyakit kronis yang melanda dunia pendidikan kita saat ini adalah kejujuran. Orang mengira bahwa uang bisa membeli kejujuran. Tahun lalu saja, dunia pendidikan kita tercoreng dengan kasus 100 persen siswa di SMAN 2 Ngawi tidak lulus. Penyebabnya, mereka mendapatkan kunci jawaban soal yang salah! Memalukan.

Bahkan, demi lulus 100 persen, ada kepala sekolah yang nekat mencuri lembar soal dan jawaban unas. Ada pula yang sekolah yang meminta murid-muridnya datang lebih pagi untuk memberikan jawaban soal unas. Busyet!

Ada yang bilang bahwa kejujuran itu cuma retorika. Di negeri ini, orang-orang jujur dianggap sebagai kaum pinggiran. Mereka justru dimusuhi dan dianggap munafik. Celaka.

****
Pada 9 Desember 2009, bertepatan dengan peringatan hari antikorupsi sedunia, ada pahlawan kejujuran dari Bandung. Dia adalah Oo Kosasih. Dia menerima uang kadeudeuh (penghargaan) Rp 1 juta dari Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda. (Detiknews.com, 10/12/2009).

Uang kadeudeuh tersebut diberikan karena atas kejujuran Oo. Dia mengembalikan tas milik Rian yang ditemukan di pinggir Jalan Wastukencana pada November 2009. Meski sederhana, tindakan Oo patut mendapatkan apresiasi.

Tentunya, di luar sana, masih banyak Oo Kosasih yang lain. Nah, orang-orang seperti mereka, pahlawan kejujuran, pantas mendapatkan kadeudeuh, bukan malah dimusuhi dan dianggap munafik.

Dalam kejadian lain, saya mendapati seorang tetangga yang rela kembali ke pasar, padahal jarak dari rumahnya cukup jauh. Gara-garanya, dia menerima uang kembalian lebih Rp 5 ribu. Merasa si pedagang keliru karena memberikan uang kembalian lebih, tetangga saya tersebut buru-buru mengambil sepeda onthel dan bablas ke pasar untuk menyerahkan uang Rp 5 ribu tersebut.

Mungkin, Oo dan tetangga saya tadi bisa dengan mudah menelip tas dan uang kembalian itu. Tapi, mereka tidak melakukannya. Mereka lebih memilih mengembalikannya. Mungkin saja, kondisi ekonomi mereka pas, tidak kurang dan tidak lebih. Tapi, mereka masih menjunjung tinggi kejujuran, satu-satunya yang bisa mereka banggakan di hadapan keluarga. Setidaknya, mereka tidak menanamkan benih tumbuhan neraka di dalam tubuh anak istri masing-masing dengan uang hasil korupsi.

Ya, kejujuran merupakan investasi jangka panjang yang menguntungkan. Baik bagi perseorangan maupun suatu bangsa. Betapa membanggakan jika suatu bangsa memiliki banyak warga negara yang jujur.

Sebuah pepatah Belanda menyebutkan, eerlijk duurt het langst (kejujuran itu langgeng). Saya tidak meragukan kalimat tersebut. Dengan berbuat jujur, kita bisa tidur nyenyak tanpa harus takut dikejar-kejar rasa bersalah dan berdosa. Dengan bersikap jujur, kita tak perlu khawatir kehilangan wibawa, pangkat, dan jabatan.

Seperti halnya biduk rumah tangga. Manakala ditimpa prahara karena api ketidakjujuran seperti berbuat serong, jangan harap rumah tangga itu bakal langgeng. Negeri ini pernah diterpa badai ketidakjujuran selama 32 tahun lebih. Ibarat api dalam sekam, rezim tersebut tidak langgeng dan justru tumbang.

Maka, masihkah kita meragukan bahwa eerlijk duurt het langst?

”Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu)
orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta
dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka
mengurangi”. QS.Al-Muthafifin (83) ayat 1–3


Graha Pena, 26 April 2010
prasetyo_pirates@yahoo.co.id

Pelajaran dari Nelayan Tua



Oleh Eko Prasetyo*)

Buku : The Old Man and The Sea
Penulis : Ernest Hemingway
Tebal : 131 Halaman
Penerbit: Selasar Surabaya Publishing
Cetakan : I April 2008
Harga : Rp 31.000

”Jangan pernah menunda membaca novel indah ini atau Anda menyesal!”
(Efendi B.P.)

Terus terang, kalimat tersebut sangat provokatif. Namun, ketika saya menuruti sarannya, yakni membaca novel yang dimaksud, saya sadar bahwa saran tersebut benar! Novel itu bertajuk The Old Man and The Sea (Lelaki Tua dan Lautan).

Mungkin, tak berlebihan jika saya menyebut novel tersebut sebagai karya emas Ernest Hemingway. Novel itu dipublikasikan di Kuba lewat majalah Life edisi pertama September 1952. Tercatat, dalam waktu dua hari saja, The Old Man and The Sea mereguk untung luar biasa, yakni terjual 5,3 juta eksemplar. Novel fiksi tersebut diterbitkan kali pertama oleh Penerbit Charles Scribner’s Sons pada 8 September 1952.

Cerita sukses The Old Man and The Sea tidak berhenti pada keuntungan penjualannya. Saking fenomenalnya, novel itu mendapatkan hadiah Pulitzer pada 1953 untuk kategori fiksi. Pada tahun yang sama, The Old Man and The Sea mendapatkan Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters. Setahun kemudian, novel yang mengisahkan kegigihan seorang nelayan tua tersebut memperoleh penghargaan bergengsi Nobel Sastra 1954. Novel itu diakui sebagai penuangan gagasan hebat yang dipadu seni bernarasi yang indah.

Cara Mencintai Profesi
The Old Man and The Sea mungkin menjadi karya fiksi terakhir dan terbesar Ernest Hemingway. Setelah didapuk mendapatkan nobel sastra pada 1954, hidup Hemingway terasa begitu berat. Dia mengalami dua kali kecelakaan pesawat beruntun dalam sebuah safari.

Selain mengalami luka serius pada bahu, dada, dan tangan, Hemingway tenderita gegar otak parah. (www.wikipedia.org). Sukses Hemingway sebagai jurnalis dan novelis akhirnya berujung tragis. Dia bunuh diri dengan menembakkan pistol ke kepalanya pada 2 Juli 1961, menjelang ulang tahunnya ke-62.

Namun, dunia tetap mengenang Hemingway sebagai salah seorang penulis produktif pada masanya. Dunia tentu bakal berterima kasih kepada Hemingway untuk mahakarya The Old Man and The Sea.

Betapa tidak, kisah dalam novel tersebut penuh dengan makna dan pesan hidup yang baik dari seorang nelayan tua bernama Santiago.

Santiago mampu mengajarkan pelajaran kehidupan dengan teramat baik. Sebuah inspirasi yang ditularkan Santiago adalah kesabaran, kekuatan hati, dan sikap pantang menyerah terhadap kesulitan.

Santiago digambarkan sebagai nelayan yang keras hati. Dia tetap memancing, memancing, dan memancing sampai mendapatkan ikan. Dia tak mau pulang tanpa membawa hasil. Semangatnya yang tinggi mampu menaklukkan ketakutan akan keganasan lautan.

Kisah heroik Santiago mencapai puncak saat dia berada di lautan selama 81 hari. Selama itu pula dia belum mendapatkan ikan. Namun, dia tak lekas putus asa. Begitu cintanya terhadap profesi sebagai nelayan, Santiago yakin akan mendapatkan buah dari kerja keras dan semangatnya.

Dia ternyata benar! Pada hari ke-81, Santiago mendapatkan ikan besar. Buah kesabarannya menuai kebahagiaan.

Meski gagasannya sederhana, pesan dalam The Old Man dan The Sea tak sederhana. Ernest Hemingway mengajak pembaca untuk menyelami kehidupan yang penuh liku-liku ini dengan sabar dan semangat.

Perjuangan Santiago, si nelayan tua, di tengah lautan digambarkan begitu apik dalam novel ini. Dia seolah mengajarkan kepada kita tentang cara mencintai profesi. Sebuah hal yang terkadang kita abaikan.

Sebab, tak jarang kita mengeluhkan profesi kita. Keluhan-keluhan itu hanya berbuah rasa tak puas. Meski rasa tak puas adalah kodrat manusia, apakah kita tak bisa sejenak berpikir tentang solusinya? Jawabannya tentu ada di dalam hati masing-masing. Kitalah yang sebenarnya menentukan jalan hidup kita, bukan orang lain, bukan pula Tuhan yang Maha Pengasih.

*) jurnalis dan editor buku,
tinggal di prasetyo_pirates@yahoo.co.id

Sepatu Spirit

Oleh Eko Prasetyo

Pak Sam, sebut saja begitu, pada akhir 2004 diterima mengajar di sebuah SMP di daerah terpencil di Kabupaten Malang. Dia mengampu mata pelajaran bahasa Inggris untuk siswa kelas 3. Hari-hari pertamanya mengajar diselimuti kisah nanar. Perasaan Pak Sam tak menentu kala itu.

Betapa tidak, dia harus mengajari puluhan murid yang bakal menghadapi ujian akhir sekolah dan nasional. Padahal, kebanyakan siswa tidak mengerti tentang bahasa Inggris tersebut. Bahkan, tak sedikit yang ”nol” alias tak bisa mengeja dengan baik ejaan bahasa Inggris.

Karena tekadnya sudah tinggi untuk mengajar, semangat Pak Sam tak surut. Dia mencari cara agar bahasa Inggris mampu menjadi pelajaran yang menyenangkan bagi anak didiknya. Jika siswa sudah mulai menyukai, tentu mereka bakal menyerap pelajaran dengan mudah. Begitu pikir Pak Sam kala itu.

Terinsipirasi oleh model pembelajaran luar kelas di kampusnya dulu, Pak Sam menemukan ide. Dia mengajukan izin kepada kepala sekolah untuk memberikan pelajaran bahasa Inggris di luar kelas (outdoor). Alasannya, mengajak siswa mampu memahami pelajaran dengan baik di alam bebas yang masih segar itu. Ya, Pak Sam memang mengajar di sekolah yang terletak di daerah pegunungan. Tak jauh dari sekolah tersebut, terdapat air terjun yang bukan main indahnya.

Gayung bersambut, sang kepala sekolah mengabulkan permintaan Pak Sam. Mulai saat itu, Pak Sam mengajari para siswanya di luar kelas. Awalnya, dia mengajak para siswa merasa menyatu dengan alam. Setelah merasa segar, mereka diajak berdiskusi tentang materi pelajaran. Dua jam pelajaran terasa begitu cepat berlalu. Anak-anak mulai tampak antusias. Hal inilah yang diharapkan Pak Sam.

Pak Sam begitu cepat mendapatkan tempat di hati para siswanya. Tak jarang, para siswa sering bertanya kepada Pak Sam di luar jam pelajaran, bahkan bertanya tentang mata pelajaran lain. Suatu hal yang hampir tak pernah terjadi sebelumnya. Melihat gelagat baik itu, kepala sekolah menyatakan senang. Karena itu, dia mendukung Pak Sam untuk memberikan bimbingan pelajaran di luar kelas.

Ada pengalaman lain yang dialami Pak Sam. Suatu pagi, ada seorang siswa yang dihukum berdiri di dekat tiang bendera. Hari itu bertepatan dengan Senin, ketika upacara berlangsung. Sang siswa dihukum lantaran tidak memakai sepatu.

Setelah jam istirahat, Pak Sam memanggil murid tersebut. Pak Sam menanyakan alasan siswa itu tak memakai sepatu ketika upacara pagi tadi. Si murid menjawab, dirinya tak sempat memakai sepatu karena harus mencari rumput untuk pakan sapi. Sebuah hal yang lazim dilakukan anak-anak sebayanya di dusun, apalagi dekat pegunungan. Si murid menambahkan, dirinya sebetulnya sudah malu kepada teman-temannya karena sepatunya tak layak dipakai. Sebab, beberapa bagiannya robek lantaran digigit tikus.

Pak Sam lalu meminta muridnya tersebut untuk mampir ke rumahnya setelah jam pulang sekolah. Tempat kos Pak Sam sebenarnya cukup jauh dari sekolah. Sebuah kos yang sederhana di rumah berlantai tanah, juga lazim di pedesaan. Di situlah Pak Sam merajut mimpi dan asanya sebagai guru. Di situ pula, dia melayani privat murid-muridnya tanpa meminta bayaran.

Si murid akhirnya tiba di kediaman gurunya tersebut dengan naik bus kecil. Pak Sam tanpa basa basi langsung meminta si murid memakai helm. Mereka lalu pergi ke kota kecamatan dengan naik motor tua milik Pak Sam. Rupanya, Pak Sam menuju pasar. Di sana sasarannya adalah toko sepatu. Setiba di tempat yang dimaksud, Pak Sam menyuruh si murid untuk memilih sepatu yang disukainya dan sesuai dengan ukuran kakinya.

Setelah membayar sepatu itu, Pak Sam berpesan kepada sang murid. Pak Sam meminta muridnya itu berjanji untuk giat belajar, terutama dalam pelajaran bahasa Inggris. Sebenarnya, harga sepatu itu hampir separo dari honor Pak Sam sebulan sebagai guru tidak tetap (GTT). Namun, Pak Sam yakin pemberiannya itu tak sia-sia.

Hari demi hari berlalu. Pelajaran bahasa Inggris yang semula ”ditakuti” kian digemari, bahkan menjadi pelajaran primadona di kelas Pak Sam. Berkat motivasi Pak Sam dan metode outdoor class, para siswa mampu menyerap pelajaran dengan baik. Dari yang tak bisa mengeja menjadi bisa melafalkan dengan baik. Kemudian, memperkaya perbendaharaan kosakata. Waktu beberapa bulan terasa begitu singkat.

Ketika musim ujian tiba, hati Pak Sam agak sedikit tenang. Ada enam siswa yang mendapatkan nilai di bawah lima untuk mapel bahasa Inggris. Kendati begitu, Pak Sam tak tampak sedih. Sebab, jika menilik kondisi sebelumnya, dia malah memprediksi banyak siswanya yang bakal dapat nilai merah.

Sekian tahun kemudian, ketika Pak Sam sudah pindah ke kota lain, dia mendapatkan kabar bahwa beberapa muridnya di SMP itu dulu diterima di sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Timur. Bahkan, dua di antaranya mengambil jurusan bahasa Inggris. Salah satunya adalah murid yang pernah dihukum di dekat tiang bendera. Hati Pak Sam bahagia, sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Dia yakin sepatu pemberiannya dulu memberikan spirit dan kepercayaan diri bagi siswa tadi.

Sejenak Pak Sam melihat ke kolong meja di sudut rumahnya, matanya menerawang. Sunyi. Tampak di situ sepasang sepatu usang. Talinya agak kumal dan beberapa bagian sudah kusam karena termakan waktu. Sepatu itulah yang dulu dipakai Pak Sam untuk mengantarkan siswa tadi menjemput impiannya, impian untuk merajut masa depan yang lebih baik.


Graha Pena, 15 April 2010
prasetyo_pirates@yahoo.co.id

Jangan Tersenyum kepada Orang Buta

Oleh Eko Prasetyo

Jangan tersenyum kepada orang buta.
Jangan berbisik kepada orang tuli.

Dua kalimat tersebut saya simak dari seorang dai terkenal di forum pengajian. Dua kalimat tersebut dilontarkan sebagai perumpamaan tentang hal yang mubazir. Saya lebih menganggapnya sebuah pesan mendalam. Yakni, konsisten.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV (2008), konsisten masuk dalam kelas kata sifat. Ada dua pengertian. 1. tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; ajek. 2. selaras; sesuai: perbuatan hendaknya -- dng ucapan.

Berkaitan dengan konsisten, negeri yang ”katanya” gemah ripah lohjinawi ini mengalami krisis moral yang begitu akut. Salah satunya, tumbuh suburnya sifat tidak konsisten alias inkonsisten. Contohnya cukup banyak. Sebut saja, kasus Gayus Halomoan Tambunan. Pegawai golongan III A itu terseret kasus makelar kasus (markus) di Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak. Negara dirugikan puluhan miliar rupiah. Diinkasi, kasus semacam ini sudah ”membudaya” di instansi tersebut. Ironis!

Saya sangat prihatin sekaligus geram dengan mencuatnya kasus itu, yang diekspos besar-besaran oleh media. Slogan ”Orang Bijak Taat Pajak” seakan-akan dikebiri oleh koruptor macam Gayus. Kegeraman itu mungkin juga dirasakan oleh banyak wajib pajak lainnya. Wajar jika kasus tersebut memunculkan plesetan ”Orang Pajak Makan Pajak.”

Tak bisa dimungkiri, kasus Gayus bisa jadi hanya ”kelas teri”. Seorang jurnalis senior dan pengamat ekonomi bahkan pernah mengatakan bahwa mungkin saja ada kasus semacam Gayus yang dapat dikatakan ”kelas hiu”, bahkan ”kelas paus”. Busyet!

Kasus Gayus sebenarnya merupakan tamparan telak bagi pemerintah. Betapa tidak, pemerintah bisa disebut gagal dalam mengemban amanah rakyat: konsisten. Baik konsisten dengan janji saat kampanye pilpres maupun janji memberantas habis korupsi.

Konsisten seolah menjadi endemi di negeri yang ”katanya” kaya dan subur makmur ini. Ketika banyak orang berlomba-lomba untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin, mereka menawarkan aroma sedap kampanye: konsisten dalam memegang komitmen.

Sayang, tak ada hitam di atas putih alias tak ada surat kontrak janji. Andai itu ada dan diberlakukan, kita sebagai rakyat tentu bisa menagih konsisten yang pernah ditawarkan saat kampanye, baik pilpres maupun pilkada. Yang ada saat ini adalah banyak pemimpin berusaha ngeles alias mencari-cari alasan untuk menjaga image.

Sebuah pelajaran mungkin bisa diambil dari kisah khalifah Umar bin Khattab. Dia dikenal sebagai pemimpin yang jujur dan mau turba (turun ke bawah) untuk melihat kondisi riil rakyatnya.

Dalam suatu kisah mahsyur, Umar diceritakan pernah memanggul gandum untuk diberikan kepada wanita yang anaknya kelaparan. Wanita itu memasak batu dalam kuali untuk menenangkan anaknya yang menangis karena lapar yang amat sangat. Kejadian tersebut diketahui Umar.

Hati kecil Umar sebagai pemimpin gerimis melihat pemandangan itu. Dia bersikap gentle dan konsisten dengan tanggung jawabnya sebagai khalifah. Dia berjalan puluhan kilometer menuju rumahnya tanpa diketahui pengawalnya. Dia merasa telah berkhianat jika tak membantu wanita dan anaknya yang lapar tadi. Maka, Umar memanggul karung berisi gandum untuk diberikan kepada wanita tadi.

Ketika melihat wanita tadi memasak gandum dan melihat anaknya makan dengan lahap, Umar sedih dan terharu. Dia berkata bahwa tugas sebagai pemimpin sangat berat. Sebab, seorang pemimpin harus tahu dan peka tentang apa yang dialami oleh rakyatnya.

Maka, ketika Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khattab, hendak dicalonkan sebagai pemimpin, Umar dengan tegas menolaknya. ”Cukup satu Umar saja dalam keluarga ini yang menjadi pemimpin. Sebab, tugas pemimpin itu sangatlah berat,” ucap Umar.

Peristiwa tersebut memang telah terjadi ratusan abad yang lampau. Namun, pengalaman Umar itu hendaknya bisa dijadikan cermin tentang pentingnya menjaga sikap konsisten. Terutama, konsisten dengan tugas dan tanggung jawab.

Kasus Gayus bisa dijadikan pelajaran untuk anak didik kita. Setidaknya, kita bisa meramu konsisten sebagai obat mujarab guna menjauhkan diri dari penyakit kronis berbahaya yang bernama korupsi.

Saya berangan-angan, kalau saja pemimpin kita mau bersikap konsisten, tentu kasus Bank Century, kasus Gayus, dan kasus serupa lain tidak akan menjadi benang kusut yang sulit diurai.

Maka, benarlah pesan yang terkandung kalimat jangan tersenyum kepada orang buta dan jangan berbisik kepada orang tuli. Rupanya, kita secara tidak sadar (atau sadar?) kerap melakukan dua hal tadi. Bahaya!

Graha Pena, 11 April 2010
prasetyo_pirates@yahoo.co.id

Saya Berharap Beliau Membaca Artikel Ini

Oleh Eko Prasetyo

Awal Januari 2010, saya diundang untuk mengikuti reuni di sebuah SMP negeri di Bekasi Timur. Saya memang salah satu alumnus sekolah tersebut. Sayang, saya tak bisa datang saat itu karena mempersiapkan pertemuan Dahlan Iskan dengan ribuan guru di DBL Arena, Surabaya. Namun, saya menyampaikan salam lewat pesan singkat untuk kawan-kawan yang hadir bersama keluarga mereka ketika itu.

Pagi itu, Dahlan Iskan menyampaikan apresiasi yang besar kepada guru-guru yang merupakan peserta program Safari Diklat Jurnalistik Jawa Pos. Bagi saya, sekecil apa pun, apresiasi memang layak diberikan diberikan kepada korps Oemar Bakrie. Sebab, tak bisa dimungkiri, para gurulah yang bakal menentukan masa depan negeri ini.

Betapa tidak, jika anak didik para guru saat ini berusia 13–16 tahun, 20 mendatang mereka akan memasuki usia produktif, 32–36. Dahlan Iskan pernah mengatakan, produktif atau tidaknya anak didik tersebut pada 20 tahun mendatang sangat ditentukan oleh guru.

Saya lalu mengajak ingatan ke peristiwa beberapa tahun silam, saat masih duduk di kelas 3 SMPN itu. Suatu ketika, kelas kami sangat gaduh karena kebetulan salah seorang guru kami absen tidak mengajar karena satu alasan. Oleh wali kelas, kami diberi tugas mencatat.

Setelah itu, wali kelas kami berlalu. Nah, mulailah kelas kami gaduh dan berisik, entah itu wujud kesenangan atau pelampiasan kekesalan karena kami sering disuruh mencatat dan mencatat. Bosan sekali.

Ada yang mengobrol, ada yang menggambar di buku tulis, bahkan ada yang malah jajan ke kantin. Setengah jam berlalu dengan kepenatan mencatat, ada beberapa teman yang bercanda. Celakanya, ada kursi yang patah karena candaan mereka. Saya tak ingat persis kejadian tersebut. Namun, suara kursi patah itu terdengar cukup keras.

Kami cukup waswas. Pasalnya, kelas kami hanya terpisah dua kelas dari ruang guru. Kami khawatir suara itu terdengar oleh wali kelas kami. Kekhawatiran tersebut terbukti.

Wali kelas kami datang. Semuanya tertunduk. Saya lihat, wajah dua teman yang mematahkan kursi itu sangat pucat. Tampak sekali bahwa mereka ketakutan karena memendam rasa bersalah yang menggunung.

Beliau, wali kelas kami, memperlihatkan raut wajah tak senang. Begitu mengetahui ada kursi yang patah, beliau tak bisa menyembunyikan mimik murka.

Tentu saja, kondisi itu bisa bermakna tak bersahabat. Kami betul-betul ketakutan karena rasa bersalah. Dua teman saya tadi mengaku bersalah. Namun, tampaknya itu tak bisa menghindarkan mereka dari hukuman. Mereka dijewer dan (maaf) ditampar.

Belum cukup di situ. Seluruh siswa laki-laki disuruh maju di depan kelas. Kami semua dinilai lalai dan tak bertanggung jawab. Wali kelas kami berasalan, beliau tak bisa menggantikan guru yang absen tersebut karena mengajar di kelas lain. ”Karena itu, kalian saya beri tugas mencatat,” tuturnya.

Akhirnya, kami, termasuk saya, dihukum jewer.

Barangkali, andai ada salah satu di antara kami yang wadul ke orang tua, tentu wali urusannya bakal lebih panjang. Ternyata, tidak ada yang melaporkan kejadian itu. Alasannya macam-macam. Mulai takut hingga rasa bersalah dan ingin bertanggung jawab.

Kami tidak diminta mengganti kursi yang rusak itu. Sang wali kelas ingin kursi tersebut diperbaiki saja.

Sekian puluh tahun kemudian, saya sadar bahwa tindakan wali kelas kami itu sangat bijaksana. Beliau menghukum kami semua, siswa laki-laki, tanpa kecuali untuk menanamkan tanggung jawab. Kami tidak disuruh mengganti kursi yang rusak tersebut, melainkan diminta memperbaikinya.

Salah satu teman saya yang dijewer dan ditampar tadi kini menjadi dokter umum. Dia lulusan fakultas kedokteran Universitas Indonesia (UI). Yang satunya lagi bertugas sebagai anggota TNI-AD di Jakarta.

Kabar reuni tersebut mengingatkan saya ke peristiwa sekian tahun silam. Saya kangen sekali ingin bertemu teman-teman yang saat itu ikut dihukum oleh wali kelas kami. Salah seorang rekan kami bahkan berencana mengundang wali kelas kami tersebut. Kami berpatungan untuk membelikan hadiah kepada sang wali kelas. Mungkin tak seberapa, tapi itu merupakan bentuk terima kasih kepada beliau.

Ya, saya sadar bahwa hukuman verbal seperti jeweran tadi belum tentu merupakan wujud kecewa atau emosi. Bisa jadi, wali kelas kami tersebut hendak memberikan ”something special” kepada kami.

Kini rata-rata kami, murid beliau, menginjak usia produktif. Ada yang berprofesi sebagai dokter, anggota TNI, guru, dosen, pengusaha, sales, dan jurnalis.

Saya sendiri ingin sekali mengucapkan terima kasih kepada beliau. Barangkali, jika telinga saya tak dijewer kala itu, saya bakal tak semangat belajar, tak menyukai dunia mencatat yang kelak mengantarkan saya sebagai penulis. Mungkin benar, guru sejati tak akan mengiba terima kasih murid-muridnya. Yang diharapkan, mereka bisa menjadi manusia produktif yang bermanfaat bagi sesamanya. Apalagi, sebaik-baik hamba Allah adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Semoga tulisan ini terbaca oleh beliau. Terima kasih Pak Guru, penaku akan terus kugoreskan untuk menyampaikan amanahmu, menyerukan kepada dunia tentang betapa mulia profesimu.

Graha Pena, 10 April 2010

Mengalamatkan Cinta

Oleh Eko Prasetyo

Ya Allah, sudah lama ingin aku tuliskan surat ini kepada-Mu. Namun, selalu saja aku ragu untuk melakukannya. Bukan karena aku tak tahu alamat yang hendak kutuju, tapi aku benar-benar malu.

Sebab, selama ini aku merasa jauh dari-Mu.
Padahal, Engkau selalu baik kepada setiap hamba-Mu.

Sebab, selama ini aku kerap lalai bersyukur atas Nikmat-Mu.
Padahal, tak terhitung lagi berapa banyak nikmat itu.

Sebab, selama ini aku selalu menyibukkan diri dengan urusan dunia.
Padahal, itu tak bisa memberikan sedikit pun syafaat kepadaku.

Ya Allah, sudah lama ingin aku tuliskan surat ini kepada-Mu. Namun, selalu saja aku bingung untuk melakukannya. Bukan karena aku tak bisa menuangkannya, tapi aku benar-benar malu.

Sebab, selama ini aku tak jarang menyalahkan-Mu bila keinginanku tak terpenuhi.
Padahal, Engkau mahabaik dengan mencukupi segala kebutuhan hamba-Mu.

Sebab, selama ini aku jarang menyempatkan waktu untuk bersama-Mu.
Padahal, bercinta dengan-Mu menjanjikan ketenangan dan kebahagiaan.

Sebab, selama ini aku kerap bertindak yang menyalahi perintah-Mu.
Padahal, firman-Mu adalah sebenar-benar penerang.

Ya Allah, sudah lama ingin aku tuliskan surat ini kepada-Mu. Bukan karena aku menginginkan surga-Mu dan takut neraka-Mu. Namun, segala yang tercurah dalam surat itu kutulis:
Untuk menuangkan segala penyesalan atas ketamakan dan kesombonganku.
Untuk menyampaikan ampun pada semua dosa-dosa yang kuperbuat.
Untuk mengalamatkan cinta yang menjadi anugerah terbesar-Mu.

Rabbana zhalamna anfunsana wainlam taghfirlanaa lanakunanna minalkhasiriin.

Graha Pena, 4 April 2010

Menyikapi Cemburu

Oleh Eko Prasetyo

Jam menunjukkan sekitar pukul 16.15. Tiba-tiba, suasana sore di gang sebuah kampung pecah oleh teriakan seseorang. Suara tersebut milik seorang perempuan. Dia tak henti-henti berteriak meminta tolong kepada warga sekitar.

Dia berlari sambil menangis. Dia seolah diburu sesuatu. Dugaan itu tak salah. Perempuan yang berusia sekitar 30-an tahun tersebut memang sedang dikejar seorang lelaki. Kendati perempuan muda itu terus diburu, tak warga yang berani menolongnya. Sebab, laki-laki tadi mengancamnya dengan mengacung-ngacungkan sebilah parang.

Tak lama kemudian, laki-laki itu akhirnya bisa dibekuk polisi berkat laporan warga. Pagi yang semula mencekam berangsur-angsur normal.

Rupanya, laki-laki tadi adalah suami perempuan yang meminta tolong tersebut. Kepada petugas, si suami mengaku emosinya terbakar lantaran melihat sang istri menerima tamu seorang laki-laki di rumahnya. Ketika marah melanda, akal sehat tak mampu berbicara. Rasa cemburu nyaris menumpahkan darah.

Pada kejadian lainnya, seorang istri ngotot meminta cerai kepada suaminya. Hal itu dipicu oleh kecemburuan si istri lantaran suaminya diduga sering lirik sana lirik sini. Bahkan, si istri menuduh sang suami main serong dengan wanita lain. Namun, tudingan tersebut dibantah oleh sang suami. Dia balik menuduh kecemburuan istrinya berlebihan.

Si suami mengaku tak pernah melakukan perbuatan yang dituduhkan istrinya. Pria tersebut mengatakan, tudingan istrinya tidak benar. Namun, kelitan itu tak bisa membendung pertengkaran-pertengkaran dalam rumah tangga mereka. Biduk rumah tangga yang dibina selama sekian tahun berada di ujung tanduk. Rasa cemburu nyaris menumbangkan kebersamaan yang lama diarungi.

Dua Cemburu
Salah satu sifat orang beriman adalah cemburu. Sebab, cemburu merupakan isyarat adanya cinta kasih. Islam memuji lelaki yang punya rasa cemburu dan mencela orang yang tidak memilikinya.

Selain menganjurkan cemburu, Islam memberikan batas-batasnya. Bila batas tersebut dilanggar, rusaklah kebahagian rumah tangga. Suami yang saleh harus memahami hal itu agar dapat mewujudkan kehidupan yang sakinah, mawadah, dan rahmah.

Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Allah itu pencemburu dan seorang mukmin juga pencemburu. Kecemburuan Allah itu terjadi bila ada seorang hamba datang kepada-Nya dengan perbuatan yang diharamkan-Nya. (HR. Bukhari).

Dalam hadis yang diriwayatkan Ahmad, Nasa’i, dan Ibnu Hibban, Nabi SAW bersabda bahwa sesungguhnya ada cemburu yang disukai dan dibenci oleh Alloh SWT. Cemburu yang disukai Alloh adalah cemburu pada hal-hal yang pasti. Sedangkan cemburu yang dibenci oleh-Nya adalah cemburu pada hal yang tidak pasti.

Dengan demikian, ada dua macam cemburu. Pertama, cemburu yang merupakan fitrah manusia. Yaitu, cemburu netral yang bisa menjaga dan melindungi harga diri dan keluarga dari tindakan pencemaran citra atau sikap melampaui batas. Cemburu seperti itu dianggap akhlak mulia yang patut dimiliki setiap orang beriman.

Kedua, cemburu yang merugikan dan terlarang. Yaitu, cemburu tanpa alasan yang selalu menyiksa jiwa. Ketika pikiran sedang dikuasai prasangka buruk, kita dapat saja menuduh orang yang tidak bersalah. Di atas itu semua, rasa cemburu yang tidak beralasan dapat merusak dinamika dan ketenteraman kehidupan rumah tangga.
Menyikapinya

Api cemburu yang tidak pada tempatnya bisa menghanguskan kebenaran dan melahirkan tindakan gegabah ataupun aniaya. Tentang cemburu, istri Nabi SAW dan para sahabat pernah mengalaminya. Rasulullah pernah bertanya pada istrinya, Aisyah Ra, ”Apakah engkau pernah merasa cemburu?” Aisyah menjawab, ”Bagaimana mungkin orang seperti diriku tidak merasa cemburu jika memiliki seorang suami seperti dirimu.” (HR Ahmad).

Aisyah pun pernah diliputi cemburu ketika Nabi SAW sampai di Madinah bersama Shafiya yang sama-sama hijrah dan istri yang beliau nikahi di perjalanan menuju Madinah.

Aisyah berkata, ”Aku menyamar dan keluar untuk melihatnya. Namun, Rasululloh mengetahui apa yang kulakukan dan beliau berjalan ke arahku. Maka, aku bergegas meninggalkan beliau. Tapi, beliau mempercepat langkahnya hingga menyusulku. Kemudian beliau bertanya, ”Bagaimana pendapatmu tentang dirinya?” Aisyah menjawab dengan nada sinis, ”Dia adalah wanita Yahudi, putri seorang Yahudi.” (HR Ibnu Majah).

Kecemburuan fitrah yang demikian juga dimiliki oleh kalangan sahabat Nabi yang laki-laki. Misalnya, Sa’ad bin Ubadah. Dia pernah berkata, ”Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, niscaya aku pukul dia dengan pedang yang tajam (untuk membunuhnya).” Maka, Rasulullah berkata, ”Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada dia dan Allah lebih cemburu daripada aku.” (HR Bukhari dan Muslim).

Nah, fenomena tentang cemburu yang beragam itu harus dipahami dan disikapi sesuai dengan syariat Islam. Menyikapi kecemburuan memang dipengaruhi oleh karakter atau temperamen individu. Namun, ada titik terang dalam hal kecemburuan.
Apa saja?
1. Konsisten menegakkan rangka amar makruf dan nahi mungkar.
2. Melindungi harga diri dan keluarga.
3. Mencegah kemungkinan terjadinya fitnah yang mencemarkan dan menodai
kesucian keluarga.
4. Husnudzdzan (positive thinking) atau berbaik sangka.
5. Mendahulukan keutuhan keluarga sakinah agar senantiasa diridai Alloh SWT.

Berdasar paparan di atas, jelas bahwa cemburu merupakan hal yang wajar, bahkan perlu dimiliki seorang muslim yang beriman kepada Alloh SWT, asal tidak melebihi batas.

Hal tersebut sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW. ”Ada tiga golongan yang tidak bakal masuk surga. Yakni, orang yang durhaka terhadap bapak ibunya, duyuts (orang yang tidak punya rasa cemburu), dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR Nasai dan Hakim).

(Dimuat Nurul Hayat edisi April 2010)

Terima Kasih Istriku

Oleh Eko Prasetyo

Terima Kasih Istriku
Oleh Eko Prasetyo

Bu, hari ini kau tampak begitu letih. Sebelum mataku terbuka melihat dunia, sebelum fajar mengajak kita bersujud, kau mencucikan pakaian dinasku. Segelas kopi untukku tak pernah absen di meja makan kita yang sederhana, yang tak layak disebut meja makan. Kala mataku lelah bekerja membangun sebuah masa depan, kau rajin mengingatkanku untuk tak lupa berdoa.

Bu, hari ini kau tampak begitu letih. Namun, kau berupaya menyembunyikannya di depanku dan selalu seperti itu. Dan aku tak tega untuk berterus terang bahwa aku mengetahui kau kelelahan. Maka, biarkan tubuhku menjadi perebahan sejenakmu melepas penat sebelum aku berangkat kerja.


Bu, hari ini kau tampak begitu letih. Namun, tak pernah kudengar engkau mengeluhkannya. Yang ada, kau rajin bersenandung di kamar kecil kita tiap maghrib dengan lantunan ayat-ayat suci. Waktu istirahatmu telah tercuri untuk darma baktimu sebagai istri.

Bu, hari ini kau tampak begitu letih. Tak jarang kau membuat masakan lezat kesukaanku. Tak jarang kau mengurusi segala urusan rumah tangga kita sendirian. Tak jarang aku harus meninggalkanmu demi tugas. Tak jarang aku lebih memikirkan pekerjaan di kantor ketimbang meluangkan waktu bersamamu.

Bu, hari ini kau tampak begitu letih. Selama satu tahun kau setia mendampingiku dalam suka dan duka. Tak sedikit pun kau lalai membukakan pintu ketika dini hari aku pulang kerja. Tak sedikit pun kau mengeluhkannya. Justru kau tak segan menyampaikan doa untuk keselamatanku.

Wahai muslimah baik, istriku, saksikan hari ini aku sebagai laki-laki yang egois dan memikirkan diri sendiri untuk:
Menyampaikan rasa kagumku.
Menyampaikan maafku karena keteledoranku.
Menyampaikan terima kasih tak terhingga atas pengorbananmu.
Menyampaikan kebanggaanku sebagai suamimu.


Graha Pena, 2 April 2010
www.samuderaislam.blogspot.com

Mengabadikan Kepuasan

Catatan Eko Prasetyo

Dalam Safari Diklat Jurnalistik yang dihelat Jawa Pos (Oktober-Desember 2009), banyak pengalaman yang saya tuai. Pengalaman itu saya dapat dari para peserta diklat, terutama guru. Salah satunya,mengabadikan kepuasan.

Saya merasa perlu berbagi di sini lantaran ada hikmah dari pengalaman menulis seorang guru. Guru sebuah sekolah menengah pertama (SMP) negeri di Surabaya itu punya minat besar terhadap dunia tulis-menulis, khususnya artikel opini. Tak sekadar minat, dia mengaplikasikannya lewat praktik menulis.

Usia yang menapak senja bukan berarti tak bisa mengukir prestasi. Ibu guru tersebut membuktikannya. Prestasi tentu tidak hanya menjuarai kompetisi tertentu. Menurut saya, mendapatkan nilai lima dalam ujian tanpa nyontek pun bisa disebut prestasi.

Ibu guru tadi berbagi kisah dengan kami, narasumber opini. Dia membicarakan pengalaman menulisnya. "Saya kepengen sekali tulisan saya bisa dimuat di koran. Rasanya gimana gitu. Pasti membanggakan," tuturnya saat itu.

Perempuan berjilbab tersebut akhirnya mulai belajar menulis artikel opini. Dia mencari beberapa referensi sebagai data pendukung tulisannya. Boleh dibilang, ibu guru yang satu ini belajar secara otodidak menulis opini untuk koran.

Beliau juga tak mau ketinggalan mengikuti workshop dan semiloka kepenulisan sebagai bekal. Namun, saya pikir, guru tersebut sudah punya modal yang amat bagus, yakni kemauan untuk menulis!

Akhirnya, guru itu melahirkan tulisan opininya yang pertama. Tulisan bertema pendidikan tersebut dikirim ke sebuah surat kabar lokal di Surabaya. Sayang, artikel itu tidak dimuat. ”Tapi, saya coba menulis lagi. Siapa tahu bisa dimuat,” harapnya.

Waktu terus berlalu. Tak terasa, dua bulan berjalan si guru sudah menelurkan banyak artikel opini. Berkali-kali dikirim ke koran, selama itu pula tulisannya tidak termuat.

Namun, perempuan 48 tahun tersebut tidak putus asa. ”Saya coba lagi dan coba lagi. Mungkin saja keberuntungan bakal berpihak kepada saya,” tegasnya.

Dua bulan, tiga bulan, empat bulan berlalu. Sang guru telah menghasilkan belasan tulisan. Namun, ya itu tadi: tidak ada yang dimuat di koran. Putuskah sampai di situ? Belum!

Suatu ketika, dia memberanikan diri mengirimkan artikel ke rubrik opini Metropolis Jawa Pos. Salah satu tulisannya akhirnya termuat. Peristiwa tersebut sudah berlangsung sekian tahun silam. Namun, raut kebahagiaan dan kebanggaan masih tampak saat guru itu menuturkan pengalamannya tentang keberhasilan menembus media massa.

Saya bersama peserta lain menyimak kisahnya yang hebat itu.
Belum usai sampai di situ. Dia menuturkan mendapatkan honor Rp 500 ribu sebagai imbalan tulisannya ketika itu. ”Senangnya bukan main. Pokoknya rasane wis gak karu-karuan,” ucap guru tersebut disambut tawa peserta diklat lainnya.

Begitu senangnya ibu guru itu, sampai-sampai uang honor tersebut tidak dipakai untuk membeli kebutuhannya. ”Uang itu sengaja saya simpan. Bahkan, saya bingkai dengan pigura khusus,” tegasnya yang lagi-lagi disambut ger-geran peserta diklat.

Mengapa sampai dipigura begitu? Dia menjawab, itulah hasil jerih payahnya berpikir yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Untuk menghasilkan karya yang dimuat tersebut, dia rela begadang sampai pukul tiga pagi, saat sang suami sudah terbuai mimpi. ”Rasanya beda menerima Rp 500 ribu dari suami dan mendapatkan Rp 500 ribu dari jerih payah sendiri,” tuturnya.

Ya, ibu tersebut mencapai prestasi terbaiknya. Saya menyebut ibu itu mengabadikan kepuasan. Kepuasan yang tak bisa diukur dengan uang jutaan rupiah sekalipun!

Hampir ketika menjadi narasumber di beberapa sekolah lain, saya mengisahkan pengalaman hebat guru tersebut. Tujuannya, memotivasi guru lain untuk menulis.

”Menulis itu sulit banget, Mas!” kata seorang guru kepada saya. Dia mengatakan tak tahu harus memulai bagimana ketika menulis.

Saya katakan kepada beliau bahwa menulis itu ibarat belajar naik sepeda. Kalau seseorang ingin bisa naik sepeda, ya dia harus belajar mencoba menaikinya. Kalaupun terjatuh karena belajar, itu adalah konsekuensi dari belajar. Begitu pula halnya dalam menulis. Orang tak akan bisa menulis baik hanya lewat teori. Silakan dibuktikan.

Graha Pena, 1 Maret 2010
prasetyo_pirates@yahoo.co.id

Pagar Tinggi



Catatan Eko Prasetyo

Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke Kabupaten Ponorogo untuk memenuhi undangan seorang teman. Sepanjang perjalanan, saya melihat berhektare-hektare sawah dan perbukitan. Saya juga meninjau Pondok Pesantren Modern Gontor yang terkenal itu. Saya merasakan perjalanan cukup jauh dari Surabaya menuju Ponorogo.

Bus yang saya tumpangi seakan tak bisa melelapkan mata saya meski lelah. Pasalnya, pemandangan di kanan kiri cukup hijau dan sayang jika dilewatkan. Setiba di Kecamatan Sawoo, saya berkunjung ke sebuah dusun. Di sana sudah menunggu teman saya yang punya hajat tersebut.

Saya memperhatikan rumah-rumah warga sekitar. Benar-benar masih ndeso. Tak sedikit rumah yang beratap daun kelapa. Bahkan, banyak rumah yang masih berlantai tanah. Kalau musim kemarau, lantai rumah itu harus disiram air agar tidak berdebu dan mengganggu pernapasan.

Sedikit pun saya tak merisi dengan suasana ala pedesaan itu. Pekarangan rumah milik warga setempat rata-rata cukup luas dan digunakan untuk bercocok tanam. Misalnya, melon, singkong, dan terong. Ya, rata-rata penduduk di sana bekerja sebagai petani ataupun peternak.

Selain bertani, warga mencari kayu di hutan sekitar untuk dijual. Tak heran, saya sempat menyaksikan bukit di sekitar dusun itu agak tandus. Rupanya, penduduk sekitar kian gencar menebang kayu, namun tak ada upaya reboisasi. Saya mengonfirmasi teman saya perihal tersebut. Dia tak menampik kenyataan itu.

Dia mengatakan, warga setempat rata-rata berpendidikan rendah. Bahkan, paling banter cuma lulusan SMP atau MTs. Yang lulusan S-1 bisa dihitung dengan jari. Di tengah rendahnya kesadaran warga akan pentingnya penghijauan, sosialisasi pemerintah setempat masih kurang. Karena itu, dusun setempat rawan terkena bencana longsor jika terjadi hujan lebat. Sebab, bukit di daerah tersebut benar-benar memprihatinkan.

Meski demikian, saya tak melulu mencatat kekurangan di sana-sini. Dusun tersebut berpenduduk kurang lebih 70 kepala keluarga (KK). Seorang warga menuturkan kepada saya bahwa warga setempat cukup guyup, tak ada yang tak saling kenal.

Ya, saya menyaksikan bahwa pagar rumah warga tingginya rata-rata tak sampai 1 meter. Bahkan lebih banyak yang pagarnya jadul. Saat ada hajatan, tidak hanya warga satu dusun itu yang datang. Bahkan, warga dari beberapa dusun lain akan mendatangi hajatan si empu hajat. Pertemuan di acara itu sangat gayeng karena hampir seluruh tamu undangan saling mengenal.

*****

Suatu ketika, ada warga di salah satu perumahan meninggal dunia. Ironisnya, kematiannya tidak diketahui oleh tetangganya, bahkan tetangga sebelah rumahnya! Warga perumahan itu baru tahu kejadian tersebut dari pengumuman lewat pengeras suara di masjid setempat.

Mungkin, pemandangan seperti itu bisa dijumpai di mana saja, terutama perumahan-perumahan elite dan mewah. Tak pelak, jarang dijumpai keguyupan di sana. Di perkotaan, sikap individual lebih menonjol daripada kebersamaan. Tak heran, seseorang tidak tahu jika ada tetangga sebelahnya yang sakit. ”Mungkin, karena pagar temboknya terlalu tinggi,” celetuk seorang teman.

Graha Pena, 8 Februari 2010

Gaji Saya Kecil, Pak!

Catatan Eko Prasetyo

Seorang rekan wartawan meliput penggeberekan kurir narkoba di wilayah Surabaya Selatan akhir Januari lalu. Kebetulan, saya mengedit naskah berita tersebut. Menurut saya, saya rugi besar kalau hanya mengedit tanpa bisa mengambil hikmah di setiap berita yang saya sunting.

Kurir narkoba itu berperawakan tinggi kurus. Usianya 35 tahun. Belum terlalu tua, tapi juga tidak terlalu muda. Seperti kebanyakan penjahat yang tertangkap, pelaku itu selalu beralasan di balik aksinya. Ada yang beralasan terpaksa merampok karena kepepet utang. Semuanya bermuara pada ekonomi.

Saat diinterogasi polisi, si pelaku mengatakan terpaksa menjadi kurir narkoba untuk menjaga dapur tetap mengepul. "Gaji saya kecil, Pak!" ujarnya kepada penyidik.

Tentu saja, polisi tak langsung percaya dengan alasan klasik itu. Ya, si pelaku mengaku sehari-hari bekerja sebagai pelayan toko. Dari pekerjaan tersebut, keringatnya dibayar tak sampai Rp 600 ribu tiap bulan. Tentu, jumlah tersebut amat kecil untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup di kota besar seperti Surabaya.

Karena itu, dia mengaku terpaksa nyambi jadi kurir narkoba karena tergiur dengan keuntungannya. Untuk sekali kirim sabu-sabu, misalnya, dia mendapatkan jatah Rp 50 ribu-Rp 100 ribu.

****

Saya pernah menjadi relawan di salah satu lembaga di bawah naungan Pemprov Jatim. Saya dikontrak selama enam bulan. Tiap bulan saya diberi uang lelah Rp 100 ribu. Saya tak mengeluh. Meski, jumlah itu amat sangat kecil tentunya.

Tugas saya adalah memberikan santunan kepada warga duafa (miskin) dari para donatur. Saya senang dan menikmati pekerjaan sebagai relawan tersebut. Sebab, banyak ilmu dan hikmah bertemu dengan banyak orang duafa.

Bicara soal honor Rp 100 ribu itu, lantas apa cukup bagi saya segitu? Tentu saja tidak. Meski demikian, saya mencoba untuk tidak mengeluh. Saat berada dalam kondisi terpepet (baca: pegang uang minim), kita tak boleh hanya mengeluh. Tapi, kita juga dituntut untuk bisa mengatasi masalah itu.

Sebenarnya, saya tak mutlak dapat honor Rp 100 ribu. Sebab, tiap kali mengantarkan bantuan dari pemprov, saya mendapatkan uang bensin. Saya bersyukur karena Allah menganugerahi tangan ini bisa menggores pena dan menerjemahkan tiap peristiwa. Jadilah saat itu saya nyambi menulis artikel di beberapa surat kabar dan majalah. Alhamdulillah, terkadang ada satu dua artikel saya yang "nongol".

Selain itu, saya menuliskan banyak pengalaman dari pertemuan dengan warga duafa yang juga dimuat di salah satu media. Bermula dari situ, kumpulan tulisan tersebut akhirnya bisa jadi buku. Alhamdulillah, dapat fulus lagi.

Saya yakin, betapa pun kecil penghasilan kita, jika disyukuri, tentu berkahnya akan bertambah. Sebab, jika menilai dari nomina, tentu angka Rp 700 ribu tiap bulan yang saya dapat saat itu masih kurang. Jumlah tersebut didapat dari honor sebagai relawan dan tulisan yang termuat tiap bulan. Apalagi jika mendasarkan pada sifat manusia yang tak pernah puas.

Dalam kesempatan lain, saya dibikin terheran-heran dengan pengalaman seorang teman. Gajinya tak sampai satu juta rupiah tiap bulan. Istrinya membantu keuangan rumah tangga dengan menjadi penjahit. Rata-rata join income mereka tak sampai Rp 2 juta. Namun, jumlah tersebut ternyata bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka dan dua putra mereka yang menginjak usia TK. Saat saya tanya resep pengelolaan keuangannya, dia menjawab: bersyukur!

*****

Kurir narkoba tadi mungkin salah satu di antara sekian banyak orang yang terjebak pada rasa kurang puas. Memang, ketimpangan sosial di negeri kita sangat kentara. Sehingga, itu memungkinkan munculnya kriminalitas akibat sempitnya lapangan kerja.

Namun, kesulitan tak lantas dan tak pantas dijadikan alasan pembenar untuk bertindak kriminal. Deraan masalah tidak harus membuat kita lemah dan menyerah. Kita justru dituntut untuk bisa mengatasinya dengan berbagai solusi. Jika merasa sulit, lantas apa fungsi otak dan tubuh yang merupakan anugerah Allah terbesar ini?

Wallahu’alam bishshawab.
Graha Pena, 2 Februari 2010

Saatnya Menulis!

Catatan Eko Prasetyo

Baru saja (30/1) saya mengikuti diskusi temu penulis bersama KH Shalahuddin Wahid (Gus Sholah) dan sastrawan A.S. Laksana di Jawa Pos. Saya mencatat beberapa poin penting yang mungkin berguna sebagai informasi bagi penulis pemula. Khususnya, yang ingin mengirimkan tulisan opini ke media massa.

Saat menuliskan laporan ini, diskusi masih berlangsung gayeng dengan ratusan peserta yang terdiri atas kalangan akademisi, mahasiswa, dan pembaca Jawa Pos lain. Sebelum tanya jawab dengan Gus Sholah dan redaktur opini Jawa Pos, saya mengurai benang merah dalam diskusi tersebut. Yakni, jangan minder saat menulis!

Pesan tersebut disampaikan oleh Gus Sholah dalam forum temu penulis itu. Dia juga memompa motivasi kalangan muda untuk doyan menulis. Ya, saya tidak menafikan fakta bahwa minat generasi muda Indonesia dalam dunia tulis-menulis masih jauh dari harapan.

Beberapa waktu lalu, saya pernah berpesan kepada adik kelas yang kebetulan akan mengikuti tes sebagai calon guru bahasa Indonesia. Saya mengatakan kepadanya bahwa saat ini bahasa Indonesia masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat kita. Meski, faktanya, berbahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tulisan, tidak semudah yang dikatakan oleh mereka.

Maka, saya mewanti-wanti dia untuk menyiapkan visi-visinya sebagai calon guru bahasa Indonesia. Salah satunya, dia harus mampu mempersiapkan bekal berharga bagi muridnya. "Kamu harus beda dengan guru bahasa Indonesia lainnya. Siapkan produk yang berkualitas dan bermanfaat bagi murid-muridmu nanti. Misalnya, kamu buat muridnya getol menulis sehingga budaya sadar baca di kalangan pelajar terserap baik. Soal caranya, kamu pikirkan sendiri," kata saya kepada dia.

Nah, pesan senada tadi diungkapkan oleh Gus Sholah. Ada dua bekal penting yang dia sampaikan dalam forum temu penulis tersebut.

Pertama, tak boleh putus asa. Memang, banyak orang yang rajin mengirimkan tulisannya ke media. Namun, ketika tulisan tersebut berkali-kali tidak dimuat, dia serta-merta lunglai dan tak bergairah untuk mengirimkan tulisan kembali.

Untuk masalah itu, Gus Sholah mencontohkan bahwa perjuangan dirinya, Gus Dur, ataupun Gus Mus dulu "berdarah-darah" hingga bisa seperti sekarang. Maksudnya, tulisan tiga tokoh ulama tersebut pun sering tidak dimuat. "Butuh proses untuk mencapai tahap pada tulisan kita sampai ke taraf yang baik," ujar Gus Sholah. Proses tersebut, lanjut dia, berbeda-beda pada tiap individu. Ada yang butuh proses cuma seminggu, sebulan, setahun, bahkan bertahun-tahun.

Kedua, seorang penulis harus memahami etika bahasa. Tak bisa dimungkiri, banyak tulisan yang memuat tema pro kontra, namun tulisan tersebut memakai bahasa yang memojokkan. Akhirnya, tulisan tersebut tidak berimbang lagi.

Dalam hal etika bahasa, Gus Sholah juga mengajak peserta forum untuk membiasakan diri menulis dengan bahasa Indonesia yang (minimal) baik. Artinya, tata bahasa yang dipakai sesuai dengan kaidah. Yang tak kalah penting, tulisan itu enak dibaca dan mudah dipahami pembaca meski ditulis dengan bahasa yang sederhana.

Agaknya, menulis memang menjadi agenda yang mendesak. Bangsa ini akan menuai krisis hebat jika masyarakatnya enggan menulis. Padahal, bangsa yang tak bisa melahirkan penulis, ia akan tertinggal jauh dan dilupakan sejarah. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer: "Sepandai apa pun seseorang, jika tidak menulis, ia akan dilupakan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."

Graha Pena, 30 Januari 2010

Proposal Hidup



Catatan Eko Prasetyo

Sukses itu bukan karbitan. Karena itu, jalan meraih sukses tidak mudah. Memang, tak sedikit yang merengkuh kesuksesan dengan cepat. Namun, banyak pula yang ”jatuh” setelah kesuksesannya meroket begitu cepat.

Maka, tak salah jika Jamil Azzaini berpesan bahwa jangan hanya berdoa jika menginginkan sesuatu. Tapi, kita juga mesti berusaha untuk mencapainya keinginan tersebut. Dia membuktikannya dengan menulis semua hal yang didambakan. Semuanya terangkum dalam buku Tuhan, Inilah Proposal Hidupku (Gramedia Pustaka Utama, 2009).

*****

Saya begitu tergugah saat melihat rombongan haji yang baru pulang dari tanah suci beberapa waktu lalu. Tidak secara langsung memang, saya hanya menyaksikannya lewat tayangan berita di televisi.

Ada jamaah yang kakinya cacat dan dibantu kursi dorong. Bahkan, ada pula yang tunanetra. Subhanallah. Saya mengira, sebagian di antara mereka mungkin bukan orang ”berpunya”. Lantas, saya berpikir, dari mana seseorang bisa menunaikan ibadah haji jika tak ”berpunya”. Faktanya, ada petani yang dapat pergi ke baitullah. Bahkan, ada yang tukang becak yang dapat berhaji.

Pada kesempatan lain, saya berjumpa dengan seorang teman dari sebuah lembaga yang bernaung di bawah Pemprov Jatim di Surabaya. Dia telah bekerja di situ kurang lebih enam tahun. Kali terakhir bersua, dia menyatakan akan keluar dari pekerjaannya karena dua alasan. Pertama, istrinya dipindah mengajar ke Jember, Jawa Timur. Kedua, rekan saya tersebut ingin berwirausaha.

Dia mengatakan punya sebuah harapan besar dengan berwirausaha itu. Saat saya menanyakan cita-cita tersebut, dia menjawab ingin memberangkatkan kedua orang tuanya berhaji.

”Saya tak bisa memberikan apa-apa kepada mereka. Saya ingin sekali bisa memberangkatkan mereka ke tanah suci Makkah sebelum mereka tiada,” tegasnya dengan nada optimistis.

Hal itu, lanjut dia, mungkin tak akan dapat terwujud jika dia tetap bekerja di lembaga tersebut. ”Sebab, gaji saya tak seberapa,” ucapnya. Begitu besar keyakinannya akan menggapai asa itu, teman saya tersebut tak pernah absen memanjatkan doa untuk bisa memberangkatkan orang tuanya. Bahkan, dia juga rajin berpuasa supaya Allah memperkenankan doanya.

Dia tak sekadar bermunajat, tapi juga menuliskan cita-citanya tersebut dan ditempelkan di tembok kamarnya. Dia mengatakan itulah proposal hidupnya saat ini. Apa yang dia inginkan dia tulis di kertas tersebut dan dia berusaha keras untuk bisa mewujudkannya.

Saya tertegun mendengar semua itu. Tak pernah terlintas sedikit pun soal itu sebelumnya. Selama ini, mungkin sebagian orang bermimpi akan cita-citanya. Namun, tak jarang yang mau untuk merealisasikan cita-cita itu. Orang saat ini lebih suka dengan yang serbainstan, tanpa didahului oleh usaha keras.

Agaknya, saya sepakat dengan Jamil Azzaini. Kita mungkin perlu merencanakan hidup. Hal itu bisa dituangkan dalam tulisan tentang rencana dan target hidup kita selama bernapas di alam fana ini. Itulah yang dia sebut sebagai proposal hidup. Dengan proposal hidup tersebut, kita dituntun untuk bercerita tentang betapa berharganya diri kita.

Memang, belum tentu setelah menulis, hidup kita serta-merta langsung berubah. Proposal hidup mungkin sekadar bekal. Sebab, kunci semuanya adalah motivasi, konsistensi, dan usaha keras untuk mewujudkan harapan serta cita-cita itu.

Wallahu’alam bishshawab.

Graha Pena, 27 Januari 2010

Hal Sederhana yang Kerap Terabai



Catatan Eko Prasetyo

Sebuah undangan pernikahan dari seorang sahabat berhasil menarik perhatian saya. Saya berencana datang ke pernikahannya bersama istri saya. Sebab, kebetulan kami berada di satu kota. Sebenarnya, sahabat tersebut bukan rekan sekantor, bukan pula kawan sekolah saya. Dia mulanya memperkenalkan diri sebagai salah seorang pembaca di sebuah media online.Dia mengatakan sering membaca tulisan-tulisan saya di salah satu rubrik di media itu.

Kalimat-kalimat dalam undangan tersebut tak asing bagi saya. Sangat puitis. Ya, deret kata itu memang bait-bait puisi milik seorang penyair terkenal, Sapardi Djoko Damono. Profesor yang juga guru besar Universitas Indonesia (UI) tersebut dikenal mampu mengurai kata-kata yang sederhana menjadi puisi yang enak dinikmati. Sangat sederhana dan tentu saja bagus! Berikut saya petikkan puisi tersebut.

AKU INGIN

”aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat disampaikan
hujan kepada awan yang menjadikannya tiada”
Sapardi Djoko Damono, 1982)

*****

Beberapa hari belakangan, istri saya kerap mengomel. Sensitif sekali. Jika air di bak kamar mandi kotor, dia menggerutu. Saat saya lupa mengucapkan salam ketika pulang kerja, raut wajahnya sedikit tak sedap. Semuanya saya anggap wajar. Saya tahu bahwa istri saya pasti capek sekali mengurusi rumah tangga. Mulai memasak, mencucikan pakaian saya, membuatkan saya kopi, hingga mendengarkan segala curhat saya.

Saya sangat menghargai omelan-omelan itu. Pasti ada sesuatu yang positif di baliknya. Saya tak pernah berusaha untuk menyanggah dan membela diri ketika istri mengomel. Sebuah pengalaman berharga saya ambil dari seorang rekan kerja. Dia baru saja digugat cerai sang istri. Gara-garanya sepele: tak ada yang mau mengalah ketika sedang terjadi perselisihan antara mereka. Mereka sama-sama merasa benar sehingga tak mau mengalah.

Saya sangat menyayangkan karena mereka akhirnya cerai. Pasalnya, mereka telah membina mahligai rumah tangga hampir lima tahun! Putri tunggal mereka kini telah berusia hampir empat tahun.

Suatu ketika, saya menghabiskan masakan istri saya. Dia senang bukan main. Sebab, dia merasa tak sia-sia memasak. Ya, sebisa-bisanya saya berusaha menyantap masakan buatan istri. Meski, saya tidak sedang mood makan. Saya tak mau mengecewakannya. Kompor di tempat tinggal kami cuma satu. Ketika dia memasak dua menu saja, pasti cukup memakan waktu. Pasti lelah. Saya mencoba memahami perasaan istri saya dengan sederhana.

Ketika berkontemplasi, saya kerap menggarisbawahi tentang apa saja yang telah saya dapat pada hari itu.

Puisi ”Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono telah menggoda saya untuk menganalisisnya. Itu tidak saya terapkan dalam metode penelitian sastra, tapi perlakuan dan penghargaan kepada istri saya.

Terkadang, tanpa kita sadari, kita kerap mengabaikan hal yang sederhana. Misalnya, memahami perasaan istri ketika dia sedang mengomel. Atau, sekadar memuji masakannya, tidak dengan kata-kata, tapi menghabiskannya.

Graha Pena, 12 Januari 2010

Enggan "By-Pass"

Catatan Eko Prasetyo

Gaya bicaranya tegas. Bagi dia, sedikit bicara banyak bekerja bukan sekadar slogan. Dia memang pekerja yang ulet dan jarang mengeluh meski terlihat capek sekalipun. Dia adalah teman saya semasa di bangku kuliah dulu. Sehari-hari dia bekerja di bagian logistik sebuah perusahaan elektronik ternama.

Sejak lulus, kami jarang bersua. Saya kali terakhir bertemu teman tersebut ketika dia mengirim barang ke sebuah perusahaan yang kebetulan satu gedung dengan kantor saya. Sapa riang dan obrolan renyah menemani kami.

Di akhir obrolan, dia menitipkan pesan kepada saya. Dia minta saya menginformasikan tentang lowongan kerja bagi dia. Saya mengusahakan, tapi tak berani menjanjikan. Kemudian kami berpisah.

Saya ingat betul bahwa kawan tadi berasal dari keluarga yang bisa dibilang mapan dan berkecukupan. Ayahnya pensiunan TNI. Dulu, saat dia memutuskan untuk mandiri dan mencari kerja sendiri, saya sempat bertanya-tanya. Pasalnya, bisa saja ayahnya yang punya banyak relasi menolong kawan saya itu untuk mencarikannya pekerjaan. Tak perlu capek-capek memeras keringat keliling beberapa perusahaan memasukkan map cokelat yang berisi kerta lamaran kerja.

Namun, teman saya tak mau. Dijanjikan oleh ayahnya menjadi anggota TNI pun dia tak mau. Padahal, kalau mau, dia bisa dengan mudah diterima. Tidak saja karena faktor sang ayah, tapi postur dan prestasi akademis kawan saya tersebut sangat mendukung. Dia bersikukuh untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, tak peduli apa pun hambatan dan rintangannya.

*****

Saya mendapati pengalaman bagus dari Andy F. Noya, host acara Kick Andy. Suatu malam, sekitar pukul 00.00, dia sangat terkejut. Betapa tidak, dia mendapati putranya, Rio , mengepel lantai dan memakai celemek hijau di salah satu restoran terkenal.

Mata Andy berkaca-kaca. Dia tak menyangka sang anak mau melakukan pekerjaan itu: menyikat dan mengepel lantai. Perasaan Andy campur aduk. Haru, sedih, dan bangga.

Rio magang tiga bulan di restoran itu. Dia tak peduli disaksikan banyak pengunjung mal ketika mengepel lantai dan membersihkan meja konsumen. Kendati tergolong dari keluarga mapan, Rio sedikit pun tak malu melakukan pekerjaan yang oleh sebagian orang dianggap "rendahan" itu. Sangat pantas Andy bangga terhadap anaknya tersebut.

Jikalau Rio mau, dia bisa magang di kantor yang lebih elite, tidak sebagai pelayan restoran. Namun, itu tak terjadi. Andy dan Rio telah memberikan pelajaran baik bagi orang tua dan remaja lainnya.

*****

Saat ini, tak sedikit orang yang lebih memilih jalan pintas. Ada orang tua yang rela menjual rumah dan sawah agar sang anak diterima menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Ada orang yang mau menyetorkan sejumlah uang demi diterima kerja. Ada pula yang menjual kehormatannya hanya untuk naik jabatan.

Saya terkenang ketika dulu memasukkan beberapa lamaran kerja di sana sini. Meski, pada saat bersamaan, saya ditawari bekerja di sebuah perusahaan bonafit oleh salah seorang famili. Saya tak mau. Saya ingin merasakan sulitnya menghadapi tes kerja, mulai wawancara, psikotes, hingga tes kesehatan. Saya tak ingin diterima kerja lewat by-pass.

Sore ini langit di Surabaya tak begitu cerah. Awan baru saja kami dengan hujan. Basah. Begitu pula hati saya ketika menilik dua kisah di atas. Di tengah tergerusnya moralitas di negeri ini, masih ada orang-orang yang tak silau dengan segala fasilitas dan memanfaatkan nama besar keluarga.

Graha Pena, 11 Januari 2009

Hoegeng dan Pendidikan Antikorupsi



Catatan Eko Prasetyo

Ada sebuah anekdot terkenal tentang polisi. Yakni, di Indonesia hanya terdapat tiga polisi yang tak bisa disuap. Mereka adalah patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng. Tentu saya tidak ingin mengupas tentang polisi di sini, melainkan sosok Hoegeng yang terkenal gigih dalam melawan korupsi itu.

Drs Hoegeng Iman Santoso dilahirkan di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 21 Oktober 1921. Perwira polisi yang sempat menjadi anggota TNI-AL pada masa revolusi tersebut dikenang karena kejujurannya.

Ketika menjadi kepala reskrim di Sumatera Utara, dia ditugasi untuk memberantas smokel, judi, dan korupsi. Meski sebuah tantangan berat, Hoegeng mampu mengemban tugasnya dengan baik. Suatu kali, seorang pengusaha hendak memberikan hadiah bagi Hoegeng. Hadiah itu dikirim langsung ke rumah dinas Hoegeng di Medan. Tentu saja, tujuan pemberian tersebut adalah mohon perlindungan kepada pejabat polisi yang dinilai bisa menjadi backing.

Beberapa saat setelah hadiah itu ditaruh, Hoegeng datang. Dia bertanya kepada istrinya tentang asal barang-barang mewah tersebut. Setelah mendapat penjelasan, Hoegeng meminta segala perabot mewah itu dikembalikan ke pemiliknya. Meski berkali-kali diyakinkan bahwa itu hanya hadiah, Hoegeng bersikeras tak mau menerimanya. "Saya tak mau utang budi atas pemberian ini," tegasnya kala itu.

Sikapnya yang tegas dan keras tersebut membuat Hoegeng begitu disegani. Bahkan, seorang anak buah Hoegeng pernah mengingatkan agar tidak coba-coba menyuap Pak Hoegeng.

Prestasi gemilang Hoegeng berlanjut hingga dia diangkat menjadi menteri iuran negara oleh Bung Karno. Meski sudah menjadi pejabat, ciri khasnya tak hilang. Yakni, tegas dalam memerangi korupsi. Hingga menjadi Kapolri pada zaman Orde Baru pun, Hoegeng tak punya rumah dan mobil pribadi.

Dia baru punya mobil setelah dicopot sebagai Kapolri oleh Soeharto. Pencopotan Hoegeng waktu itu menjadi kontroversi. Sebab, disinyalir Hoegeng dicopot dari jabatannya karena mengurai kasus penyelundupan mobil mewah yang diduga melibatkan keluarga Cendana.

Awalnya, Hoegeng menolak pemberian mobil itu. Namun, setelah diyakinkan oleh Kapolri penggantinya bahwa mobil tersebut adalah hasil "urunan" Kapolri dan para Kapolda, baru Hoegeng mau menerimanya.

Hidup Hoegeng kian sulit setelah pensiun sebagai polisi. Betapa tidak, setelah menandatangani Petisi 50 bersama mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dan kawan-kawan, Hoegeng "dimusuhi" oleh penguasa Orde Baru. Mereka dicekal. Pensiunan sebagai Kapolri pun tak diterima secara utuh.

Namun, Hoegeng tidak mau berkeluh kesah. Istri dan keluarganya sangat mendukung dan selalu memotivasi dia. Hidup dalam kesulitan tak membuat Hoegeng rendah diri. Dia menyambung hidup dengan menjual lukisan-lukisannya. Kegigihannya menjadi legenda.

*****
Pendidikan antikorupsi kini didengung-dengungkan. Gemanya ke mana-mana. Hingga dibuatlah sebuah "proyek idealisme": warung kejujuran. Hasilnya? Belum terlalu signifikan. Di sebuah SMA negeri di Tulungagung, misalnya, warung kejujuran terus merugi setelah dioperasikan. Namun, cerita memprihatinkan itu tak selalu mewarnai warung kejujuran. Banyak pula sekolah yang berhasil menerapkan program baik tersebut.

Ketika koruptor di negeri ini makin "berani" melancarkan aksi, banyak yang setuju antikorupsi masuk ke dalam kurikulum sekolah. Agaknya, antikorupsi menjadi agenda yang amat mendesak.

Antikorupsi memang harus diperkenalkan dan ditanamkan sejak dini.

Saya sangat menyesalkan terjadinya "insiden" memalukan di gedung dewan. Yakni, aksi saling hujak dan olok antara ketua pansus kasus Bank Century dan seorang anggotanya. Begitu gencarnya media mengekspos kejadian memalukan itu. Sehingga saya khawatir "sinetron ala dewan -yang katanya- terhormat tersebut mewabah ke garda depan pendidikan kita, yakni generasi muda.

Memerangi korupsi memang agenda yang besar dan "mahal". Saya sebut mahal karena memusuhi korupsi itu -apalagi secara masal- sangat berisiko. Bisa difitnah, diolok-olok, ditertawakan, bahkan dipenjara.

Maka, cara paling elegan untuk merealisasikan agenda antikorupsi adalah menanamkan pada diri sendiri dulu, kemudian ditularkan kepada eleman lain, termasuk anak didik kita.
Tak mudah memang.

Pasalnya, secara tak sadar, virus korupsi telah menjadi endemi di kalangan pendidik. Jika sudah demikian, tentunya angin korupsi akan semakin kencang menerpa.

Maka, saya sangat mendukung bila Hoegeng bisa dijadikan "pahlawan" dalam menanamkan antikorupsi kepada anak didik kita. Agar anak didik kita tidak hanya mengenal superhero dari luar negeri saja. Agar anak didik kita tak cuma mengelu-elukan budaya Barat yang belum tentu baik. Bisakah?

Graha Pena, 10 Januari 2010

Sang Guru



Catatan Eko Prasetyo

Puluhan tahun silam, Prof Surya bertekad keluar dari sebuah perusahaan nuklir di Amerika Serikat. Saat itu temannya sangat terkejut. Dia menanyakan alasan profesor yang jago fisika tersebut. Surya menjawab, dirinya akan pulang ke Indonesia dan menjadikan anak-anak nusantara menjadi juara dunia di olimpiade sains.

Saat mengatakan bahwa dirinya hendak mencetak juara dunia fisika dari Indonesia, banyak yang menertawakannya. Ucapan itu diulangi tiap tahun. Tak ada kata putus asa dan menyerah.

Hari ini saya menerima kabar dari seorang teman. Dia baru saja menyelesaikan pendidikan pascasarjana di sebuah perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka di negeri ini. Dia mengatakan akan kembali ke kampung halamannya di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Padahal, dia telah digadang-gadang untuk melanjutkan pendidikan S-3 di luar negeri.

Saya percaya karena dia memang dikenal cerdas dan pandai, baik dalam hal akademis maupun sosialisasi. Dia amat yakin ingin pulang dan meninggalkan beasiswa S-3 di depan mata itu. Ketika saya tanyakan alasannya, jawabannya mirip dengan tekad Prof Surya sekian tahun silam tersebut.

Teman saya itu ingin menjadi pendidik di kampung halamannya. "Daerah saya membutuhkan orang-orang seperti saya. Selama ini, saya melihat bahwa daerah itu kekurangan SDM di bidang pendidikan," ujarnya mantap.

Keraguan yang semula bergelayut di hati saya berubah menjadi kebanggaan. Saya sangat mendukung niat tersebut.

Selama ini, saya memang melihat bahwa kualitas tenaga pendidik, baik di daerah maupun kota, masih belum baik. Mengajar hanya dijadikan rutinitas, tanpa niat untuk benar-benar memintarkan murid-muridnya. Ada guru yang "tega" meninggalkan jam pelajaran demi sebuah sertifikat seminar. Bahkan, banyak yang berani memalsukan karya tulis ilmiah demi lolos sertifikasi, demi jabatan dan pangkat.

Ada seorang guru yang buru-buru pulang, padahal jam kerjanya belum usai. Dia kedapatan pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Dia tak malu dengan seragam dinasnya, tak malu pada dirinya sendiri. Ada sebuah tanggung jawab yang tertanggal.

Saya baru mengedit kasus memalukan di sebuah sekolah menengah atas negeri di Surabaya. Sekolah tersebut diindikasi meminta pungutan kepada orang tua siswa yang ekonominya kurang mampu. Kasus ini menampar dunia pendidikan di Kota Pahlawan. Beberapa waktu lalu, kasus serupa menimpa sekolah tersebut. Seorang guru menghajar muridnya dan kasus lain adalah pungutan liar kepada orang tua siswa.

Ini sebuah pekerjaan rumah (PR) yang amat berat bagi pendidikan negeri ini.

Karena itu, saya sangat mendukung niat tulus teman saya tadi untuk kembali dan membangun generasi berkualitas di daerahnya. Saya berharap agar dia bisa merealisasikan cita-cita itu, seperti halnya Profesor Surya. Dia begitu brilian dan membuktikan bahwa dia bisa mencetak juara-juara dunia olimpiade sains dari Indonesia.

Ya, juara dunia sains dari Indonesia. Saya merinding membaca buku Mestakung karya Surya. Dalam satu kisah, seorang peserta dari Indonesia berhasil meraih medali emas di sebuah olimpiade fisika sedunia. Saat nama Indonesia disebut dan Indonesia Raya diperdengarkan, semua hadirin melakukan standing ovation dan aplaus luar biasa.

Itulah mimpi yang jadi nyata. Saya berdoa mudah-mudahan banyak orang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap roda pendidikan di tanah air ini seperti mereka. Semoga!

”Dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa
dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir,” (QS Yusuf 87)


(tulisan ini dedikasikan untuk sang sahabat di kota dingin)

Graha Pena, 8 Januari 2010

Celana Jins dan SMS Istri



Oleh Eko Prasetyo

Kehidupan adalah kampus terbaik. Ya, saya setuju dengan kalimat bijak tersebut. Terbukti, kita bisa belajar dari mana saja dari kehidupan ini. Banyak hikmah yang terkandung dari pengalaman dan peristiwa yang terjadi. Semuanya menjadi bukti kebesaran-Nya.

Hal paling kecil pun bisa menjadi pertanda kebesaran Allah. Misalnya, lebah dan semut. Maka, tak ada alasan untuk mengingkari nikmat-Nya. Sudah seharusnya manusia bersyukur atas nikmat-nikmat itu.

”Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS An-Nahl: 18)

*****

Beberapa bulan belakangan, aktivitas saya begitu padat. Intensitas kegiatan di kantor tersebut cukup menyita waktu dan tenaga. Imbasnya, saya terkadang kurang memperhatikan hal-hal kecil yang sebenarnya cukup mengganggu.

Dampak lainnya, intensitas pertemuan saya dengan keluarga juga minim. Namun, saya tak mau larut dengan keluhan ini itu. Saya tak suka menunda pekerjaan yang bisa berakibat menumpuknya pekerjaan lain.

Kendati sibuk, sebisa-bisanya saya tetap meluangkan waktu untuk istri di rumah. Kerja boleh padat, tapi keluarga tetap prioritas. Yang tak kalah penting, baca bismillah setiap akan memulai sesuatu dan salat tepat waktu. Istiqamah dalam menjaga ibadah itu memang tak mudah, tapi kita harus yakin bisa. Saya bersyukur punya istri yang begitu baik dan selalu mengingatkan dalam hal ibadah.

Suatu ketika, sebuah pesan singkat (SMS) masuk di ponsel saya. Saya diminta untuk ke kantor saat itu juga. Ada panggilan tugas mendadak yang harus segera dirampungkan. Setelah mandi dan sarapan, saya bergegas mengambil kemeja di lemari. Karena terburu-buru, setelah memakai kemeja, saya mengambil celana jins di centelan pintu kamar.

Sebelumnya, istri saya sudah mengingatkan agar saya tak memakai celana jins di centelan tersebut. Alasannya, celana ”Maaf, tapi saya buru-buru,” jawab saya kepada dia. Setelah mengucapkan salam kepada istri, saya langsung berangkat ke kantor.

Waktu kian beranjak siang, saya masih meeting. Setelah azan salat Duhur memanggil, saya lekas minta izin untuk salat dahulu. Setelah salat, beberapa waktu kemudan ponsel saya berbunyi, menyampaikan SMS baru.

Rupanya, SMS itu berisi dari istri saya. Namun, semuanya mendadak berubah. Saya tertegun membaca SMS tersebut. Saya yang tadinya semangat menjadi lemas. Raut wajah ini saat itu tak dapat menyembunyikan rasa malu. Apa penyebabnya?

Istri saya ternyata tak suka saya memakai celana jins tadi. Dalam SMS itu, istri saya kecewa karena saya mengenakan jins yang seharusnya dia cuci pagi itu. ”Tak pantas menghadap Allah dengan memakai celana yang sudah lusuh dan kotor,” demikian sebagian isi pesan singkat tersebut.

Saya terhenyak. Bibir saya terasa kelu. Saya betul-betul malu. Istri saya benar. Tak seharusnya saya menghadap Sang Pencipta dalam keadaan memakai celana jins yang mungkin saja sudah kotor tersebut.

Malam ketika mengedit berita, saya teringat dengan SMS tersebut. Sungguh, saya bersyukur dengan anugerah Allah yang begitu besar ini. Ada seorang perempuan baik yang kerap mengingatkan dalam hal kebaikan. Semoga Allah selalu merahmatinya.

Rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imama...

Graha Pena, 5 Januari 2010
www.samuderaislam.blogspot.com